19 Februari 2009

BERTEMU DENGAN SANG REVOLUSIONER

Mengenang Tan Malaka

2 Juni 1897 - 19 Februari 1949

Pagi itu seorang pria berwajah tegas dengan sorot mata tajam, berjalan menghampiriku. Ia mengulurkan tangan dan dijabatnya tanganku dengan mantap dan keras. “Namaku Tan Malaka” begitu ucapnya lalu duduk di sebelahku. Aku tertegun dan belum sempat berkata, ia kemudian berkata “Katanya kamu ingin bertanya banyak padaku, apa yang dapat aku bantu anak muda?” Aku mengingat-ingat wajah seorang yang duduk di sampingku. Bajunya putih dengan garis wajah yang diselimuti kabut. Tan Malaka, pria yang telah membuat bangsa ini memiliki keharuman, menuliskan banyak karya raksasa, dan seorang aktivis pergerakan yang menggoreskan perlawanan dengan kata-kata lugas.

“Ya, aku ingin banyak bertanya dengan Anda yang sering disebut sebagai seorang pejuang”, jawabku dan tanpa ragu mengajaknya bicara. “Jangan kau sebut aku pejuang kalau apa yang aku dan teman-teman lakukan, kalian sia-siakan”, dengan muka lugas ia mengucapkan kata itu. Aku terhenyak dan sembari agak menjauh, aku melihat paras mukanya dari samping. Tulang pipi kurus masih menampakkan kerutan teguh. Aku seperti menyaksikan orang yang tidak pernah dapat dikalahkan oleh badai. “Kalian telah menjerumuskan rakyat ke dalam penderitaan. Aku melihat kalian mewarisi sifat para penjajah. Malah kalian bukan hanya meniru dengan persis, tetapi melebihi apa yang penjajah lakukan dahulu”. Aku masih saja diam mendengar suaranya yang berat dan kering.

Ikal rambutnya yang bergelombang dengan sorot matanya yang keras membuatku yakin, kalau Tan Malaka adalah aktivis yang tidak pernah memikirkan kepentingan diri sendiri. “Aku menyaksikan kalian kaum muda belum memiliki keberanian menentang kesewenang-wenangan, yang kalian lakukan belum seimbang dengan penderitaan rakyat. Aku berpikir tulisanku sudah cukup dapat mendorong kalian untuk melakukan tindakan, tetapi ternyata aku salah”, begitu ucap Tan Malaka lagi. Aku melihat Tan Malaka menundukkan muka, matanya melihat tanah di bawahnya, dan kemudian menengokku. Matanya memandang diriku seolah-olah aku ini makhluk unik.

“Apa yang kau lakukan selama ini anak muda?” Begitu tanyanya. “Aku seorang mahasiswa yang juga aktif dalam dunia gerakan, aku sama seperti Anda” begitu jawabku agak yakin. Tan Malaka menatapku tampak agak ragu dan berkata “Ketika aku seusiamu aku menjelajahi dunia pengetahuan bukan dengan pesona tetapi bertanya. Saat aku seusiamu aku mendirikan sekolah rakyat yang tidak mengutip bayaran. Aku mengajari tiga pelajaran penting, 1) keterampilan agar mereka menjadi manusia merdeka dan mengisi kemerdekaan, 2) filsafat agar mereka tahu akar pengetahuan, dan 3) berorganisasi agar mereka menjadi bagian dari pergerakan. Sayang orang kolonial menangkap aku jauh lebih cepat dari apa yang aku duga. Apa yang kau lakukan sekarang anak muda?”

Aku terkejut dengan pertanyaannya yang tajam dan cepat. Kujawab dengan ragu-ragu “yang aku kerjakan diskusi, sesekali aku ikut merancang demonstrasi, dan pernah aku tertangkap polisi karena membakar foto penguasa. Aku juga ikut mengorganisir rakyat miskin dengan mendampingi mereka dan memaksa agar parlemen bicara dengan mereka. Kini aku aktif di salah satu LSM”. Ia tersenyum dan aku melihat kabut di wajahnya berangsur-angsur memudar. Kali ini ia mendekat dan menepuk pundakku “dahulu aku memiliki teman, wajahnya mirip dengan kamu. Semaun namanya, orangnya pintar dan berani, kami percaya untuk mengangkat harga diri bangsa yang terjajah tidak ada jalan lain kecuali melalui “pendidikan” dan perlawanan. Kami mendirikan sekolah dan aku diajaknya masuk Sarekat Islam. Apa LSM itu seperti Sarekat Islam?”

Aku tertegun dan bingung memberi jawaban. “Sesungguhnya aku sendiri tidak tahu apa yang dikerjakan oleh LSM. Aku terkadang disuruh menulis proposal lalu dibelakangnya ada anggaran dana yang jumlahnya besar. Habis itu aku disuruh mengerjakan pelatihan dengan honor dan biaya yang dapat digunakan membeli HP”. Tetapi aku malu menjawab pertanyaan Tan Malaka. Malah aku kemudian balik bertanya, “apa yang dikerjakan Sarekat Islam?”

Tiba-tiba Tan Malaka memandangku dengan heran. “Aku yakin kamu tidak pernah diberitahu apa itu Sarekat Islam. Inilah kekuatan politik pertama yang berteriak lantang melawan penguasa kolonial. Kami terdiri dari anak muda seperti kamu. Kami mengajak rakyat untuk melawan setiap kesewenang-wenangan. Diberi nama Sarekat Islam, karena agama ini menolak menjadikan manusia menjadi budak. Hal yang kemudian dikerjakan pula oleh PKI. Kami dulu menjadi anggota Sarekat Islam sekaligus menjadi anggota PKI. Aku yakin cerita sejarah tentang itu tidak pernah sampai ke telinga kamu. Jaman sudah banyak berubah, Indonesia sekarang sudah merdeka, aku melihat nasib bangsa ini buram dan kesejahteraan tidak merata. Rakyat merdeka fisiknya, tetapi pendidikan, sosial, budaya, dan ekonomi terjajah. Aku banyak mendengar, kalau kalian sudah menjadi penguasa, menjajah rakyatnya sendiri. Rakyat dapat kecewa dan marah sehingga mengarahkan mereka pada perilaku menyimpang dan anarkisme. Sesungguhnya antara perilaku penguasa dan perilaku rakyat memiliki hubungan yang sinergi dan berbanding lurus”.

Aku hanya dapat tertunduk. Aku ingat beberapa temanku yang menjadi politisi curang. Mereka aktivis partai tetapi belum memiliki gagasan besar untuk memerdekakan rakyat. Aku ingat temanku yang menjadi kaum profesional yang juga terlibat dalam persekongkolan dengan kapitalis. “Kalian sepertinya memiliki penguasa yang belum berpihak pada rakyat kecil. Menggusur tempat tinggal mereka, membuat pendidikan dengan harga mahal, dan membebani rakyat kecil dengan biaya kesehatan yang tinggi. Beberapa kali aku melihat kalian ikut menyukseskan program yang didanai oleh bantuan asing dengan sikap loyal. Jika engkau sebut diri kamu seorang aktivis perubahan sosial, apa yang akan kamu lakukan anak muda? Kamu diamkan seorang pejabat yang kekayaannya melebihi pendapatan jutaan penduduk miskin. Kamu biarkan seorang pejabat tinggi bergaji 110 juta perbulan jauh melambung melebihi UMR buruh. Apa yang selama ini kamu lakukan anak muda?” Begitu tanya Tan Malaka lagi kepadaku.

Lagi-lagi aku terdiam lama. Aku mengingat-ingat apa yang pernah aku kerjakan selama ini. Ikut dalam solidaritas teman-teman memantau anggaran. Ikut melakukan pengorganisiran terhadap para pedagang kaki lima dan terkadang ikut nimbrung dalam program demokrasi. Tan Malaka memandangku dengan rasa iba, seolah-olah ia tahu kecamuk pikiran yang aku rasakan. Ia berdiri dan menatapku, lalu perlahan-lahan ia mengucapkan serangkaian kalimat:

“Anak muda apa yang kamu lakukan selama ini memang masih jauh dari kebutuhan rakyat. Kamu dikepung oleh kekuatan kapitalis yang tumbuh dan berpengaruh luas. Aku melihat kamu sendiri pun sulit untuk mempertemukan teman-temanmu yang memiliki komitmen serupa. Aku melihat jumlah kalian yang sangat kecil dengan ikatan disiplin yang longgar. Anak muda organisasimu harus belajar banyak dari sejarah Sarekat Islam atau PKI. Dua kekuatan politik yang dahulu mampu mengetahui kebutuhan rakyat. Rasa-rasanya kalian harus membaca ulang apa yang telah aku tulis dalam Madilog, Gerpolek, dan Aksi Massa. Pahami pikiran kami dengan perpaduan pisau akademik dan pisau gerakan, pahami semangat dan spirit yang melandasi kami semua. Ingat bahwa struktur kapitalis hanya dapat dilawan dengan kekuatan “pengetahuan” dan kekuatan pergerakan. Pengetahuan yang mengabdi pada kepentingan rakyat bukan yang menjadi alat bagi penguatan sistem produksi kapitalis. Maka senjata gagasan harus kalian kerjakan dahulu. Disitu aku melihat kalian malas. Belum pernah aku membaca tulisan kalian yang menggugah dan memberi inspirasi rakyat untuk melawan. Belum pernahkah dalam benak kalian untuk mendirikan pendidikan yang baik, berkualitas, dan murah untuk melayani rakyat miskin? Tujuan pendidikan adalah menggantikan pikiran yang kosong tertutup dengan pikiran yang terbuka. Anak muda kamu adalah tumpuan rakyat miskin, jika kamu ingin mengenal, memahami, dan membela mereka, maka yang kamu lakukan hanya satu: hidup dan hayati kehidupan bersama mereka”.

Ia menepuk pundakku dan melangkah pergi. Dari punggungnya aku melihat ia berjalan bergegas, aku berdiri ingin mengejarnya. Tapi langkah itu terlalu cepat dan ia menghilang di balik gubuk-gubuk yang baru digusur. Ah, Tan Malaka semasa hidupnya ia bersama orang miskin dan kini aku temukan dirinya di tengah perkampungan miskin. Kampung orang miskin yang jumlahnya sangat padat dan penduduknya menjadi golongan yang dahulu diperjuangkan kemerdekaannya oleh Tan Malaka. Tan Malaka, bagiku kau adalah inspirasi yang tak pernah lekang oleh waktu. Menjadi martir untuk sebuah perubahan yang kini memakan korban anak bangsa sendiri. Pendidikan dan perubahan, perubahan tidak harus menjamin kemajuan, tetapi kemajuan niscaya memerlukan perubahan. Pendidikan penting bagi perubahan karena pendidikan menciptakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan perubahan.

Andai kau masih di depanku tentu aku hendak mengatakan, kami memang belum mampu melakukan seperti yang kau lakukan. Kami berada dalam lingkungan pendidikan yang termarjinalkan, pendidikan yang belum dapat membuat kami dekat dengan penderitaan dan kebutuhan rakyat. Kami hanya memiliki sedikit intelektual besar yang mampu menuliskan penderitaan rakyat. Intelektual kami hanya sibuk dengan urusan sendiri. Kami juga belum memiliki pemimpin gerakan yang berpandangan terbuka, kesadaran visioner tinggi, bergerak progresif, dan dapat memahami kebutuhan rakyat. Kami memiliki sebagian besar pemimpin yang karbitan, pemimpin yang muncul sekejab, dan belum memiliki pikiran besar yang menjangkau ke arah masa depan. Indonesia yang dahulu kau perjuangkan kini sudah banyak berubah.

Negeri ini terindikasi membiakkan korupsi, perdagangan anak, pembunuhan, kriminalitas, human trafficking, dan kemiskinan. Tetapi kami anak muda, yang ingin berbuat seperti yang kau lakukan. Kami ingin melawan, melawan, dan terus melawan, terhadap penguasa yang tidak merakyat, aktivis yang menjadi broker politik, intelektual yang melacurkan ilmunya, dan preman yang menggunakan kekerasan pada rakyatnya sendiri. Reformasi dibangun dengan tujuan menuju sistem negara yang lebih baik dan menata kembali sistem dengan landasan perubahan dan strategi yang tepat sasaran menyejahterakan rakyat. Revolusi bukan saja menghukum, sekalian perbuatan ganas, menentang kecurangan, tetapi juga mencapai segenap perbaikan dari kecelaan. Masa revolusilah tercapai puncak kekuatan moral, terlahir kecerdasan pikiran, dan teraih segenap kemampuan untuk mendirikan masyarakat baru yang menyejahterakan rakyat. Reformasi memerlukan sistem yang revolusioner dan visioner. Reformasi dibangun dengan mengedepankan kesejahteraan rakyat yang adil dan beradab. Itu yang ingin dan sedang kami lakukan, Tan Malaka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar