02 November 2011

Tak Ada yang Bisa Mengakibatkan Aku Menangis, Kecuali Membayangkan Engkau_1

Wahai Kanjeng Nabi, betapa aku ini tak pantas merindukan-Mu. Wahai Kanjeng Nabi, aku hanya bisa menangis jika membayangkan-Mu. Tak ada yang bisa membuat aku menangis, kecuali karena membayangkan Engkau. Wahai Kanjeng Nabi, andai aku dapat berjumpa dengan-Mu. Wahai Kanjeng Nabi, aku tak bisa menulis lagi, Kanjeng Nabi, aku tak bisa membayangkan betapa akhlak-Mu yang termulia. Kanjeng Nabi, aku tak bisa menulis lagi. Walau aku menulis seumur hidupku, tak bisa mewakili akhlak-Mu. Wahai yang akhlaknya termulia. Kanjeng Nabi, apa pantas aku merindukan-Mu? Perilaku aku seperti ini ... !!! Wahai Kanjeng Nabi ......

Kanjeng Nabi, aku hanya bisa "membaca" saja:

Imam Ali berkata: Beliau bukan orang yang terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek, orang yang perawakannya sedang-sedang, rambutnya tidak kaku dan tidak pula keriting, rambutnya lebat, tidak gemuk dan tidak kurus, wajahnya sedikit bulat, kedua matanya sangat hitam, bulu matanya panjang, persendian-persendiannya yang pokok besar, bahunya bidang, bulu dadanya lembut, tidak ada bulu-bulu di badan. Telapak tangan dan kakinya tebal, jika berjalan seakan-akan sedang berjalan di jalanan yang menurun, jika menoleh seluruh badannya ikut menoleh, di antara kedua bahunya ada cincin nubuwah, yaitu cincin para nabi, telapak tangannya yang terbagus, dadanya yang paling bidang, yang paling jujur bicaranya, yang paling memenuhi perlindungan, yang paling lembut perangainya, yang paling mulia pergaulannya, siapa pun yang tiba-tiba memandangnya tentu enggan kepadanya, siapa yang bergaul dengannya tentu akan mencintainya. Kemudian Ali menambahkan, “Aku tidak pernah melihat orang yang seperti beliau, sebelum maupun sesudahnya (Siroh Nabawiyah, Oleh Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar