06 Januari 2012

BIBIT BOBOT BEBET: Jare Sopo?

Orang Jawa punya filosofi BIBIT BOBOT BEBET, khususnya untuk mencari menantu atau pasangan hidup. Untuk memilih menantu pria atau wanita, memilih suami atau istri oleh yang berkepentingan, pasti memilih yang berasal dari bibit yang baik, dari jenis (bebet) yang unggul dan yang nilai (bobot) yang berat. Fatwa itu mengandung anjuran pula, janganlah orang hanya semata-mata memandang lahiriyah yang terlihat berupa kecantikan dan harta kekayaan. Dua-duanya itu dapat melupakan tujuan “ngudi tuwuh” mendapatkan keturunan yang baik. Excelent pemikirannya!! Sopo yang tak mau pasangane apik lahir batin!! Dari keturunan apik pula!!! Katakanlah kyai.

Gara2 BIBIT BOBOT BEBET juga banyak tumbal ... !! Orang melihat faktor keturunan dan harta yang lebih dominan!

Saya tak menampik kalau jodoh, umur, dan rejeki kuasa Gusti Pengeran. Kalau ada orang yang melamar anak njenengan pasti yang ditanya: Anake Sopo, ini berarti faktor keturunan; berapa gajinya, ini faktor pekerjaan. Ini sejalan dengan Hadist Kanjeng Nabi: Wanita dinikahi karena empat hal; karena harta, keturunan, kecantikan dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang punya agama, jangan berpaling kepada yang lainnya semoga dapat berkah” (HR Bukhari dan Muslim).

Laki-laki pun berlaku sama: dipilih karena 4 hal tadi.

Saya pernah baca suatu artikel yang inti isinya gini: Mengapa saya beragama Islam, Kristen, Yahudi, Budha, Hindhu? Anak SD pun pasti tahu, karena orangtua saya Islam, Kristen, Yahudi, Budha, Hindhu. Sangat salah besar pernyataan itu! Yang menentukan manusia apakah dia Islam, Yahudi, atau Nasrani, hak prerogratif Gusti Pengeran. Tak ada yang bisa selain Gusti Pengeran! Nur datangnya dari Gusti Pengeran!!

Tak ada yang akan dapat menolong kita kelak. Siapapun. Semuanya sibuk dengan urusan sendiri-sendiri. Mereka sudah tidak ada lagi kesempatan memikirkan orang lain. Seorang ayah tidak lagi dapat menolong anaknya, isterinya, saudaranya, dan sebaliknya. Semuanya harus sendiri-sendiri. Ketika menghadap Gusti Pengeran. Inilah kehidupan di akhirat, kelak. Jadi tak ada hubungannya dengan faktor KETURUNAN.

Mengubah paradigma faktor keturunan, memang sulit. Tetapi harus. Mari melihat manusia dari pribadi dirinya sendiri, tanpa melihat keturunan. Mari kita melihat Kanjeng Nabi Ibrahim, siapa ayahnya? Kanjeng Nabi Nuh bagaimana anak dan istri beliau? Kanjeng Nabi Muhammad, bagaimana paman-paman beliau, selalu menjadi musuh utama dalam dakwah.

Pilih mana:
(1) Mantan rampok;
(2) Mantan kyai;
(3) Anaknya rampok yang kyai;
(4) Anaknya kyai yang rampok.

Silahkan dipilih.

Saya akan tetap menjadi diri saya sendiri. Biasa wae lah. Yang penting tetap Luar Biasa. Salam damai. Sukses Selalu untuk semua. Dan jangan tergoda!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar