18 Juni 2009

KETAHUILAH OLEHMU

    Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia …

Allah s.w.t. tahu betapa kerasnya engkau sudah berusaha.

    Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih …

Allah s.w.t. sudah menghitung air matamu.

    Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa tertekan …

Allah s.w.t. dapat menenangkanmu.

    Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan …

Allah s.w.t. sedang berbisik padamu.

    Ketika segala sesuatu berjalan dengan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur ...

Allah s.w.t. telah memberkatimu.

    Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban...

Allah s.w.t. tersenyum padamu.

    Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi ...

Allah s.w.t. sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu.

    Ketika kau pikir kau sudah mencoba segalanya dan tak tau akan berbuat apalagi ...

Allah s.w.t. punya jawabannya.



DAN ALLAH S.W.T.

MAHA MENGETAHUI...

KETABAHAN

KETABAHAN merupakan sebuah proses kekuatan jiwa seseorang. Ketabahan bukan saja proses yang identik dengan kemiskinan sandang-pangan, tetapi dalam arti luas bisa berarti tabah menghadapi penderitaan akibat penyakit atau cobaan hidup yang dihadapkan pada masalah interaksi, relasi, dan kehilangan orang terdekat. Bahkan, ketabahan seseorang akan teruji kala mengikuti audisi, pertandingan, persaingan dalam bisnis, prestasi, karier, sekolah, juga dalam pergaulan.

Ketabahan terkait dengan kekuatan jiwa seseorang menghadapi atau mengurai masalahnya, baik itu ketika menderita, menghadapi cobaan, hukuman karma, dan sebagainya. Tentu saja gradasinya berbeda-beda, tergantung masing-masing individu. Ada orang yang mempunyai ketabahan kuat, seperti orangtua bayi yang ditolak enam rumah sakit.

Sang ibu harus melihat bagaimana bayi mungil yang lahir dalam kondisi kritis membutuhkan pertolongan medis segera, tetapi yang didapat penolakan pihak rumah sakit. Jika sang ibu tidak mempunyai kekuatan jiwa yang memberi ketabahan, mungkin bayi tersebut sudah dibawa pulang untuk menerima "nasibnya". Sang ibu tidak akan mencoba dan mencoba lagi sampai mendapatkan rumah sakit yang mau menolong bayinya.

Soal ketabahan, tidak bisa dijabarkan milik orang kelas rendah atau kelas tinggi. Bukan juga merupakan ilmu turunan. Ketabahan dipengaruhi oleh lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang terbiasa dikelilingi oleh orang-orang yang mempunyai ketabahan kuat, lebih bisa mencerna, beradaptasi dengan hal-hal yang
membutuhkan kekuatan jiwa. Ketabahan seseorang bisa didapat melalui penularan dari lingkungan yang bisa menularkan kekuatan jiwa ini. Jika seseorang sedang membutuhkan kekuatan jiwa, dia bisa mencari atau berdiam dalam lingkungan yang mendukungnya untuk mendapatkan ketabahan itu. Keluarlah dari lingkungan orang-orang yang membuat
Anda lebih menderita dengan cekokan kepesimisan dan keputusasaan.

Kekuatan jiwa yang bernama tabah ini, merupakan kemampuan seseorang dalam memproses kedatangan "rasa sakit di badan" dan "rasa susah di pikiran" . Bahkan, filsuf Romawi Epieus (341-270 SM) merumuskan bahwa kemampuan (kekuatan) jiwa yang menghasilkan ketabahan adalah sebuah proses dari kemampuan seseorang dalam mengelola nalarnya dengan cermat.

Jika suatu saat kita menghadapi masalah yang membutuhkan kekuatan jiwa yang bernama ketabahan, ada baiknya kita mengikuti nasihat Prof Dr dr Dadang Hawari dalam bukunya Stres, Cemas, & Depresi, yang mengemukakan cara-cara untuk mengatasi masalah tersebut. Caranya, melakukan identifikasi dan inventarisasi masalah, menanggulangi
masalah secara pragmatis, menyusun skala prioritas untuk penyelesaiannya, menjabarkan alternatif untuk membuat pilihan-pilihan, serta mengantisipasi risiko yang akan timbul untuk dibuat seminimal mungkin.

Seseorang yang lemah jiwanya, akan lebih terpuruk jika tidak mampu untuk menanggulangi masalahnya secara pragmatis Sering kita dengar seseorang yang baru saja mendapat penjelasan dari hasil pemeriksaan dokter yang mengatakan,"Anda kemungkinan menderita tumor jinak", langsung merasa lemas dan stres berat. Dia langsung mengindikasikan dirinya sebagai penderita kanker ganas, dan sebagainya. Padahal, sang dokter baru mengatakan,"ada kemungkinan". Itu pun baru tumor jinak bukan kanker ganas.

Nah, seseorang yang demikian rapuh jiwanya akan mengakami kondisi yang lebih dibanding orang yang lebih kuat jiwanya. Dengan penjelasan yang sama dari dokter, seseorang dengan jiwa yang kuat akan berusaha mengidentifikasi dan menginventarisasi masalahnya, menanggulanginya secara pragmatis, serta menyusun skala prioritas untuk menyelesaikan masalah kesehatan, yang berupa kemungkinan menderita tumor jinak. Hasilnya pasti lebih baik daripada menangis dalam keputusasaan. Penanganan masalah seperti itu juga dibutuhkan ketika menghadapi masalah-masalah hidup lainnya.

Umumnya seseorang baru menyadari memiliki kekuatan jiwa yang bernama ketabahan, kala dia dihadapkan pada masalah yang pelik. Ketabahan, erat kaitannya dengan jiwa seseorang yang mempunyai sesuatu pegangan, umumnya keyakinan yang berkaitan dengan agama dan keyakinan pada Sang Pencipta. Dengan demikian, sangat penting seseorang mempunyai keyakinan yang dijalani dengan sepenuh jiwa, sebagai bekal menghadapi
cuaca kehidupan yang selalu berubah dan penuh kejutan.

KESOMBONGAN DIRI

Budi, seorang anak laki-laki SD kelas 3 baru saja memenangkan sebuah medali sebagai pembaca terbaik di kelas. Terbuai oleh kesombongan, ia menyombongkan diri dihadapan pembantu di rumah, "Bibi, coba lihat, jika mau Bibi dapat membaca sebaik saya." Pembantu itu mengambil buku, memandangnya, dan akhirnya berkata dengan terbata-bata, "Nak Budi, saya tidak bisa membaca."

Sombong seperti burung merak, anak kecil itu lari ke ruangan keluarga dan berteriak kepada ayahnya, "Yah, Bibi tidak bisa membaca, sedangkan saya meski baru berumur 8 tahun, saya sudah dapat medali untuk kehebatan membaca. Saya ingin tahu bagaimana sih perasaannya, memandang buku tapi tidak bisa membaca."

Tanpa berkata sepatah pun, ayahnya berjalan menuju rak buku, mengambil satu buku, dan memberinya ke Budi dan berkata, "Bibi merasa seperti ini." Buku itu ditulis dalam bahasa Jerman dan Budi tidak bisa membaca satu kata pun.

Anak laki-laki itu tidak akan pernah melupakan pelajaran itu sekejap pun. Bila perasaan sombong datang, dia dengan tenang akan mengingatkan dirinya, "Ingat, kamu tidak bisa membaca dalam bahasa Jerman".

JENDELA RUMAH SAKIT

Dua orang pria, keduanya menderita sakit keras, sedang dirawat di sebuah kamar rumah sakit. Seorang di antaranya menderita suatu penyakit yang mengharuskannya duduk di tempat tidur selama satu jam di setiap sore untuk mengosongkan cairan dari paru-parunya. Kebetulan, tempat tidurnya berada tepat di sisi jendela satu-satunya yang ada di kamar itu.

Sedangkan pria yang lain harus berbaring lurus di atas punggungnya.

Setiap hari mereka saling bercakap-cakap selama berjam-jam. Mereka membicarakan istri dan keluarga, rumah, pekerjaan, keterlibatan mereka di ketentaraan, dan tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi selama liburan.

Setiap sore, ketika pria yang tempat tidurnya berada dekat jendela di perbolehkan untuk duduk, ia menceritakan tentang apa yang terlihat di luar jendela kepada rekan sekamarnya.Selama satu jam itulah, pria ke dua merasa begitu senang dan bergairah membayangkan betapa luas dan indahnya semua kegiatan dan warna-warna indah yang ada di luar sana.

"Di luar jendela, tampak sebuah taman dengan kolam yang indah. Itik dan angsa berenang-renang cantik, sedangkan anak-anak bermain dengan perahu-perahu mainan. Beberapa pasangan berjalan bergandengan di tengah taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga berwarnakan pelangi.Sebuah pohon tua besar menghiasi taman itu. Jauh di atas sana terlihat kaki langit kota yang mempesona. Suatu senja yang indah."

Pria pertama itu menceritakan keadaan di luar jendela dengan detil, sedangkan pria yang lain berbaring memejamkan mata membayangkan semua keindahan pemandangan itu.Perasaannya menjadi lebih tenang, dalam menjalani kesehariannya di rumah sakit itu. Semangat hidupnya menjadi lebih kuat, percaya dirinya bertambah.

Pada suatu sore yang lain, pria yang duduk didekat jendela menceritakan tentang parade karnaval yang sedang melintas. Meski pria yang ke dua tidak dapat mendengar suara parade itu, namun ia dapat melihatnya melalui pandangan mata pria yang pertama yang menggambarkan semua itu dengan kata-kata yang indah.

Begitulah seterusnya, dari hari ke hari. Dan, satu minggu pun berlalu.

Suatu pagi, perawat datang membawa sebaskom air hangat untuk mandi. Ia mendapati ternyata pria yang berbaring di dekat jendela itu telah meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya. Perawat itu menjadi sedih lalu memanggil perawat lain untuk memindahkannya ke ruang jenazah. Kemudian pria yang kedua ini meminta pada perawat agar ia bisa dipindahkan ke tempat tidur di dekat jendela itu. Perawat itu menuruti kemauannya dengan senang hati dan mempersiapkan segala sesuatunya. Ketika semuanya selesai, ia meninggalkan pria tadi seorang diri dalam kamar.

Dengan perlahan dan kesakitan, pria ini memaksakan dirinya untuk bangun. Ia ingin sekali melihat keindahan dunia luar melalui jendela itu. Betapa senangnya, akhirnya ia bisa melihat sendiri dan menikmati semua keindahan itu. Hatinya tegang, perlahan ia menjengukkan kepalanya ke jendela di samping tempat tidurnya. Apa yang dilihatnya? Ternyata, jendela itu menghadap ke sebuah TEMBOK KOSONG!!!

Ia berseru memanggil perawat dan menanyakan apa yang membuat teman pria yang sudah wafat tadi bercerita seolah-olah melihat semua pemandangan yang luar biasa indah di balik jendela itu. Perawat itu menjawab bahwa sesungguhnya pria tadi adalah seorang yang buta bahkan tidak bisa melihat tembok sekalipun.

"Barangkali ia ingin memberimu semangat hidup" kata perawat itu.
Renungan :
Kita percaya, setiap kata selalu bermakna bagi setiap orang yang mendengarnya. Setiap kata, adalah layaknya pemicu, yang mampu menelisik sisi terdalam hati manusia, dan membuat kita melakukan sesuatu. Kata-kata, akan selalu memacu dan memicu kita untuk menggerakkan setiap anggota tubuh kita, dalam berpikir, dan bertindak.

Kita percaya, dalam kata-kata, tersimpan kekuatan yang sangat kuat. Dan kita telah sama-sama melihatnya dalam cerita tadi. Kekuatan kata-kata, akan selalu hadir pada kita yang percaya.

Kita percaya, kata-kata yang santun, sopan, penuh dengan motivasi, bernilai dukungan, memberikan kontribusi positif dalam setiap langkah manusia. Ujaran-ujaran yang bersemangat, tutur kata yang membangun, selalu menghadirkan sisi terbaik dalam hidup kita. Ada hal-hal yang mempesona saat kita mampu memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Menyampaikan keburukan, sebanding dengan setengah kemuraman, namun, menyampaikan kebahagiaan akan melipatgandakan kebahagiaan itu sendiri.

JANGAN SALAHKAN NASIB ANDA!

Manusia memang merupakan suatu makhluk unik dan aneh. Kita cepat menerima suatu penghargaan atas kemenangan yang kita peroleh. Kita cenderung ingin dunia mengetahui tentang kemenangan kita. Memang wajar jika kita menginginkan orang lain melihat ke arah kita karena kemenangan kita, itu sangat manusiawi. Tetapi sebaliknya, manusia juga dengan cepat menyalahkan orang lain untuk setiap kemunduran, kesulitan dan berbagai "bentuk perlawanan" yang terjadi.

Mungkin saja benar, bahwa di dalam dunia yang kompleks ini ada orang lain yang memang merugikan kita. Tetapi sangat benar juga bahwa kita lebih sering merugikan diri kita sendiri. Kita seringkali merugi karena "kekurangan pribadi" kita, mungkin beberapa kesalahan pribadi. Oleh karena itu, sekarang ini cobalah Anda bersikap obyektif! Ingatkanlah diri Anda sendiri, bahwa Anda ingin menjadi sosok manusia sesempurna mungkin secara manusiawi. Coba lihatlah, apakah Anda mempunyai kelemahan yang tidak pernah Anda lihat sebelumnya? Jika Anda terbukti mempunyai kelemahan itu, segeralah bertindak untuk mengoreksinya menjadi lebih baik. Pada umumnya, seringkali orang begitu terbiasa dengan dirinya sendiri; sehingga mereka sering lalai melihat kekurangannya sendiri dan lupa bagaimana cara-cara untuk memperbaiki dirinya.

Saya pribadi, dulu juga punya pandangan keliru terhadap "nasib" saya. Lebih dari 15 tahun lalu, saya seringkali juga "menyalahkan nasib" jika saya gagal dalam memperoleh sesuatu keinginan dan sasaran saya. Sering saya berkata, "Saya tidak mengerti kenapa itu semua, mungkin itu memang sudah menjadi jalannya...". "Memang sepertinya itu sudah nasib saya, suratan takdir saya begitu...". "Sepertinya nasib saya lagi sial tahun ini...". Tetapi itu adalah saya pada saat 15 tahun lalu, yang mungkin saja ada kesamaannya dengan Anda.

Sekarang ini sudah jelas saya telah berubah dalam bersikap terhadap "nasib" ini. Daripada habis energi menyalahkan "nasib", lebih baik Anda "meneliti sebab-sebab kekalahan", "kemunduran" atau "kerugian" yang menimpa Anda, apapun bentuknya. Jika Anda dalam posisi kalah, belajarlah dari kekalahan itu. Kebanyakan orang menjalani kehidupannya untuk menjelaskan keadaan mereka yang "biasa-biasa" saja dengan "nasib sial" atau "nasib buruk" yang mereka alami.

Mereka ini sampai lupa menyadari, bahwa mereka "gagal melihat peluang" untuk bertumbuh lebih besar, lebih kuat, dan lebih percaya diri dalam mengarungi samudra kehidupan selanjutnya, karena selalu menyalahkan nasibnya. Berhentilah menyalahkan nasib. Menyalahkan "nasib" tidak akan pernah membawa Anda ke tempat sasaran tujuan kehidupan yang Anda idam-idamkan. Ketahuilah bahwa Tuhan menciptakan dunia ini dalam bentuk yang seimbang, ada hukum keseimbangan yang harus selalu Anda ingat. Ada hukum sebab-akibat yang mutlak. "Nasib baik" atau "Nasib Buruk", semuanya merupakan suatu sebab dan akibat sebuah hukum universal sifatnya.

Anda saya ingatkan lagi dengan kisah spektakuler dari Thomas Alva Edison sang Penemu bola lampu pijar itu. Anda tahu berapa kali Edison mencoba membuat agar bola lampu pijarnya bisa menyala? Konon pada percobaan yang ke 10.000 (sepuluh ribu) kali, Edison akhirnya berhasil membuat bola lampu pijarnya "benar-benar berpijar"...menyala terang.
Kalau kita cermati kisah Thomas Alva Edison ini, ada hal yang bisa kita jadikan petik sebagai pelajaran kehidupan, yaitu "ketekunan" dalam percobaan-percobaannya atau "eksperimen". Yah...Thomas Alva Edison benar-benar seorang yang memiliki "ketekunan" dalam "eksperimen" bola lampu pijarnya. Dia selalu melihat "sisi baik" dalam setiap percobaannya yang gagal, dia juga menolak tegas rasa putus asa atau frustasi. Dia juga memiliki keberanian mengkritisi dirinya sendiri secara konstruktif, menyelidiki kesalahan dan kelemahannya untuk kemudian diperbaiki. Edison telah berhasil mempelajari suatu kemunduran untuk melicinkan jalan menuju suatu keberhasilan. Dia berhasil belajar dari "kekalahan" kemudian melanjutkan untuk "menang" pada kesempatan berikutnya. Di dalam Al-Quran, Surat Al-Muddatstsir, ayat 37 - 38 juga ada terjemahan sebagai berikut, "(yaitu) bagi siapa saja di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya".

Maju terus. Itulah keputusan yang diambil oleh Thomas Alva Edison, yaitu dia mengambil keputusan tepat untuk maju terus di dalam setiap usahanya menciptakan bola lampu pijar. Apa pun yang yang dialaminya saat proses membuat bola lampu itu, dia tetap bersikukuh untuk melangkah maju terus pantang mundur. Kegagalan yang dialami oleh Edison tersebut, itu hanya bermakna "kegagalan di mata orang lain"; tapi di dalam pandangan Edison, "kegagalan" itu merupakan "kemajuan" yang harus diraihnya sampai bola lampu pijar tersebut akhirnya benar-benar tercipta. Edison sangat meyakini bahwa semua tindakannya menciptakan bola lampu itu adalah tanggung jawab pribadinya, dan dia memutuskan untuk mengambil tanggung jawab tersebut. Sikap seperti inilah yang dimaksudkan oleh ayat suci Al-Qur'an di atas. Manusia bebas untuk berkehendak, mau maju atau mau mundur, itu terserah Anda, Allah tidak akan ikut "campur tangan" di awal Anda mengambil keputusan itu.

Saya akan coba membuatkan sebuah "resume" kisah Thomas Alva Edison di atas tersebut, yang bisa Anda gunakan sebagai acuan bagaimana sebaiknya bersikap terhadap "nasib". Oleh karena perbedaan antara "keberhasilan" dan "kegagalan", dapat ditemukan pada sikap dan respons orang terhadap suatu kemunduran, keputusasaan, kesengsaraan, kesulitan dan berbagai situasi lainnya yang jelas-jelas mengecewakan.

Begini...dari kisah Penemu bola lampu pijar itu, kita bisa mengambil beberapa pedoman untuk Anda jadikan pegangan dalam membantu Anda MENGUBAH KEKALAHAN MENJADI KEMENANGAN, yaitu: menggabungkan sifat ketekunan dengan eksperimen; memiliki "keberanian mengkritisi diri sendiri secara konstruktif", dan "mempelajari kemunduran untuk melicinkan jalan menuju keberhasilan"; selalu melihat "sisi baik" dalam setiap situasi apapun; dan "berhenti menyalahkan nasib". Selalu ingatlah, bahwa nasib itu ada di tangan manusia itu sendiri, Tuhan tidak akan mengubah nasib Anda, sebelum Anda mau melakukan tindakan untuk mengubah nasib Anda lebih dulu.

Jangan Menyerah

Jangan Menyerah
Bila situasi menjadi sulit,
Sebagaimana yang selalu terjadi.

Ketika jalan yang Anda tempuh semuanya terasa mendaki,
Ketika keuangan menipis dan hutang membengkak,
Ingin tersenyum, namun yang terdengar hanyalah keluh kesah,
Ketika kesusahan sedikit menekan Anda
Berhentilah sejenak jika terpaksa, tetapi jangan menyerah!

Hidup ini misteri yang penuh dengan segala tikungan dan belokan,
Seperti yang kadang-kadang kita alami,
Dan ketika kegagalan datang membayang
Ketika dia merasa dapat menang jika sudah bersiap
Jangan menyerah meskipun hanya dapat melangkah perlahan .
Anda mungkin akan berhasil dengan cara lain.

Keberhasilan adalah kegagalan yang muncul dari dalam
Warna keperak-perakan dari awan keraguan,
Dan Anda tidak akan pernah tahu seberapa dekat,
Mungkin sangat dekat ketika tampak sangat jauh.

Karena itu tetaplah berjuang saat menerima benturan yang paling keras
Jika situasi menjadi sulit, janganlah menyerah!!

JADILAH PEMBERI

What is the right statement? Take and give or Give and take?, Perkataan di atas adalah dua kata yang memiliki arti yang sama, baik diletakkan di depan maupun di belakang, perbedaannya hanyalah mana yang harus dilakukan terlebih dahulu? memberi atau menerima? Pernahkah anda berpikir bahwa cara kita mengucapkan dan memandang suatu perkataan akan mempengaruhi bagaimana otak kita mengerakkan seluruh alat indra kita untuk bertindak dalam kehidupan kita? Sekarang saya yakin anda akan bertanya apa sih pengaruhnya terhadap kepribadian anda? Ada dua sikap yang diakibatkan penggunaan bahasanya di atas, mari kita lihat
Take and give person akan menjadi orang yang sangat reaktif terhadap kehidupan. Dia akan bertindak setelah dia menerima terlebih dahulu, hal ini yang seringkali menyebabkan kita selalu berpendapat kenapa saya harus melakukan itu. Tipikal seperti ini akan selalu berpikir dahulu sebelum bertindak apakah saya harus menolongnya atau pernahkah dia berbaik hati dengan saya. Take and give person sangat bergantung terhadap apa yang pernah terjadi dahulu dengan dia baru setelah itu dia akan melakukan aksi reaksi. Pernahkah anda membayangkan bagaimana bila seluruh teman, keluarga, lingkungan dan teman teman kita memiliki pola berpikir seperti ini? Bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan support dari orang lain terhadap kehidupan kita, hal ini yang mungkin membuat roda kehidupan menjadi sangat monoton dan lambat serta tidak secepat apa yang seharusnya.