18 Juni 2011

Transformational Leadership

Memahami sikap dan perilaku individu sangat penting untuk mendukung efektivitas organisasi. Salah satu faktor penting untuk mendorong agar organisasi dapat berjalan secara efektif adalah kepemimpinan. Salah satu model yang dikembangkan adalah kepemimpinan yang bersifat “transformasional”. Kepemimpinan yang bersifat transformasional adalah kepemimpinan yang mempunyai dimensi; kharismatik, stimulus intelektual, konsiderasi individual, sumber inspirasi serta idealisme. Konsep dan praktek kepemimpinan transformasional dikembangkan sebagai jawaban atas keterbatasan konsep-konsep kepemimpinan yang telah ada dalam mengelola sumber daya manusia, organisasi dalam lingkungan yang mengalami perubahan-perubahan.

Berbeda dengan kepemimpinan transaksional, yang menggunakan basis imbalan dalam menggerakkan bawahan, kepemimpinan transformasional menekankan terbentuknya rasa memiliki bagi setiap individu sebagai bagian dari kelompok. Oleh karena itu kepemimpinan transformasional diproposisikan berpengaruh positif terhadap komitmen bawahan pada organisasi. Sebenarnya kepemimpinan mempunyai dampak langsung terhadap motivasi kerja, beberapa literatur menyatakan bahwa diantara motivasi yang dimiliki karyawan antara lain; peranan leader, gaji (salary), lingkungan kerja, jaminan karier, jaminan sosial yang diberikan dll. Perlu diketahui bahwa motivasi yang timbul sebenarnya merupakan dimensi dari komitmen yang oleh Meyer dibagi menjadi 3 yaitu komitmen afektif, continuance, dan normative.

Kepemimpinan transformasional pada umumnya mempunyai dampak yang positif terhadap komitmen karyawan. Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan ternyata terdapat korelasi yang positif terhadap komitmen karyawan. Untuk itulah maka penulis mencoba sedikit menguraikan pengaruh kepemimpinan transformasional terhadap komitmen yang tentunya secara langsung atau tidak langsung akan berdampak pula terhadap motivasi karyawan.

Perlu diketahui bahwa masing-masing dimensi kepemimpinan transformasional di atas akan berdampak positif terhadap komitmen karyawan terutama komitmen afektif. dan ini tentunya akan berpengaruh pula terhadap motivasi kerja dari karyawan. Perilaku kharismatik atasan dalam arti memiliki visi dan misi yang jelas dan menarik, menunjukkan kepercayaan diri yang kuat , mampu mengkomunikasikan ide-ide yang cerdas dan dapat dipercaya bawahan . Secara logis kaitan ini menunjukkan bahwa praktek kepemimpinan transformasional terutama dari aspek kharismatik dapat menumbuhkan identifikasi pegawai terhadap perusahaan yang antara lain tercermin dalam perasaan memiliki, bangga sebagai bagian dari organisasi. Terbentuknya identifikasi tersebut berdampak positif terhadap internalisasi tujuan (goals internalization) yaitu tujuan – tujuan yang ditetapkan perusahaan secara konkrit termanivestasi dalam bentuk gairah/semangat pegawai dalam menjalankan tugasnya. Dimensi komitmen afektif berkorelasi kuat dengan dimensi kharismatik.

Secara implisit pendapat penulis juga mendukung pendapat Leonard (1999) dan Scholl (1981 ) bahwa kaitan pegawai pada perusahaan dapat terjadi karena dorongan keikatan kesesuaian tujuan pribadi dan tujuan perusahaan. Tujuan perusahaan ini terekam dalam visi-visi ke depan yang dikomunikasikan oleh pimpinan. Untuk komitmen continuance, pengaruh kepemimpinan transformasional juga sangat signifikan, terutama perilaku konsideransi individu. Penjelasan logis dari kausalitas tersebut dapat dijelaskan bahwa kepemimpinan transformasional berusaha membangkitkan kesadaran bawahan untuk memenuhi tingkat kebutuhan yang lebih tinggi dari kebutuhan yang sudah terpenuhi. Atasan dapat menumbuhkan kesadaran dan keyakinan bawahan bahwa dengan tetap bekerja di perusahaan ini adalah keputusan yang tepat dan kebutuhan dengan tingkat yang lebih tinggi akan dapat terpenuhi.

Telaah lebih lanjut adalah dampak kepemimpinan transformasional terhadap komitmen normative. Komitmen normative adalah komitmen individu pada organisasi karena adanya dorongan keyakinan seseorang untuk bertanggung jawab secara moral bahwa selayaknya harus loyal dan setia pada perusahaan. Perilaku kharismatik seorang atasan dalam arti memiliki visi yang jelas dan menarik serta menunjukkan kepercayaan diri yang kuat dan dapat dipercaya bawahan, mampu memperkuat kaitan normative bawahan terhadap perusahaan yaitu tumbuhnya perasaan loyal dan mencintai perusahaan. Penjelasan logisnya adalah bahwa perilaku kharismatik/visioner dapat memperkuat kepercayaan antara bawahan dengan atasan. Indikator kepercayaan inilah merupakan pemicu dari sikap loyal bawahan terhadap atasan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa kepemimpinan transformasional terutama dimensi kharismatik/visioner merupakan sarana paling efektif untuk membangun komitmen karyawan pada perusahaan. Ini berarti bahwa seorang pemimpin yang berkharisma dan memiliki visi yang cantik atas masa depan perusahaan akan berusaha menstimulir kapasitas intelektual bawahan, memperlakukan bawahan sebagai individu yang berbeda, memberikan inspirasi bawahan untuk maju, percaya atas kemampuan bawahan, tidak mengutamakan kepentingan pribadi, merupakan metode kepemimpinan yang tepat untuk membangun komitmen karyawan pada perusahaan.

Dengan menganalogkan praktek kepemimpinan transformasional merupakan bentuk kepemimpinan yang efektif, maka jelaslah bahwa salah satu faktor personal dan organisasi yang menjadi determinan kunci komitmen organisasi adalah kepemimpinan. Untuk dimensi kepemimpinan yang lain seperti stimulus intelektual, konsiderasi individual, sumber inspirasi serta idealisme akan disajikan dalam tulisan mengenai kepemimpinan pada periode mendatang.