20 Mei 2018

THE BALANCE STUDENT MALE AND FEMALE IN UNIVERSITIES

In practically education is for all. Male and female possessed the same opportunity for admission to major various in universities. However, in reality account student male and female not balance. The factors influence mentioned is interest from student candidates, perceptions about major from student candidates, and also trend enrolment from student candidates. For example, engineering the account of student male is more than female. Because there is assumption from enrolment if major engineering the student must be stronger. And the relevant candidates for major are man than female. Although some female student but slightly. The ratio maybe 1:40.

The other way, major nursing always the account of student female is dominant. Why the major nursing the student female more than male? Because the perceptions about this major is female more relevant for take care, female more good emotion for nurse sick people, and female more work with heart.

MEMERDEKAKAN PENDIDIKAN

Istilah persaingan muncul seiring dengan dipopulerkannya konsep globalisasi oleh Naisbitt pada tahun 1980an, tak pelak mengakibatkan pendidikan pun tereduksi menjadi alat globalisasi. Akibatnya terjadi pergeseran tujuan pendidikan dari tataran filosofis menjadikan manusia sebagai insan yang merdeka, menjadi tataran empiris yang menjadikan manusia sebagai alat produksi dengan pendidikan diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja. Filosofi materialis menjadi lebih dominan dengan melihat manusia pada satu dimensi yakni pendidikan sebagai penyiapan tenaga kerja. Pendidikan tidak lagi memandang manusia sebagai makhluk dimensional. Jika yang terjadi demikian, maka apakah mungkin bisa pendidikan yang memerdekakan dapat tercapai ketika pendidikan itu sendiri belum merdeka? Bukankah Bapak Pendidikan Ki Hajar Dewantara telah mengamanatkan bahwa pendidikan itu memerdekakan?

Merajut Kembali Pendidikan
Tak dapat dipungkiri kata pendidikan di kalangan masyarakat umum pun terjadi penyempitan makna, yakni pendidikan yang bertujuan memanusiakan manusia, menjadi pendidikan sebagai investasi untuk meningkatkan taraf hidup yang diukur dari unsur pendapatan ekonomi semata. Hal inilah yang menjadi penyebab pendidikan diselenggarakan sebatas agar peserta didik memiliki kompetensi untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja. Akibatnya pada diri peserta didik tertanam sikap berkompetisi dengan orang lain. Nilai-nilai relasi antarpersonal yang memiliki kesadaran bahwa setiap individu saling memerlukan satu sama lain sehingga akan ada kooperasi di antara mereka menjadi pudar.
Berbagai peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, seperti meninggalnya seorang guru di tangan peserta didiknya sendiri, seorang peserta didik yang berani menantang berkelahi gurunya sendiri, ataupun kasus sebaliknya seorang guru yang melakukan pelecehan seksual kepada peserta didiknya sendiri, merupakan pertanda bahwa pendidikan kehilangan ruhnya. Pendidikan menjadi jauh terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Menjadi hal penting untuk merajut kembali pendidikan dengan berlandaskan pada upaya humanisasi. Pendidikan sebagai ilmu normatif, sehingga fungsi sekolah adalah menumbuhkan etika dan moral subjek peserta didik ke tingkat yang lebih baik dengan cara atau proses yang baik pula serta dalam konteks positif.

Membangun Moral Pendidikan
Pendidikan melihat manusia sebagai mahluk yang bermoral. Manusia bukan hanya sekedar hidup tetapi hidup untuk mewujudkan eksistensi. Manusia hidup bersama-sama dengan sesama manusia sebagai ciptaan Tuhan. Proses humanisasi diarahkan pada nilai-nilai kehidupan yang vertikal di dalam kenyataan hidup bersama dengan manusia lain secara horizontal. Pendidikan mengarahkan guru dan peserta didik menuju aktivis yang fundamental sebagai manusia menggunakan hati nurani serta berpikir kritis, kreatif, dan integratif demi membangun masyarakat yang menjunjung tinggi moralitas bangsa.
Harapan besar pendidikan selain mengembangkan moral manusia yang baik, juga seiring dengan ketajaman pikiran manusi itu sendiri, sehingga menjadi manusia yang bijak. Membangun moral pendidikan merupakan upaya integral agar mampu mengembangkan manusia-manusia yang sadar akan peran, tugas, dan tanggung jawabnya terhadap kehidupan masyarakat. Menumbuhkan moralitas diawali dengan penyadaran bahwa manusia sebenarnya merupakan makhluk yang bermoral dengan tugas menjaga harmoni kehidupan alam. Sehingga manusia akan baik terhadap sesama dan baik terhadap alam.

Kemerdekaan Berpikir
Memerdekakan pendidikan berarti memerdekanan cara berpikir, berperilaku, dan bertindak setiap manusia sebagai insan. Membudayakan kemerdekaan berpikir di tengah-tengah gempuran informasi yang cepat dan kebiasaan masyarakat yang serba instan merupakan tantangan sendiri. Berpikir menempati tingkat yang krusial dalam penyelenggaraan pendidikan. Manusia dikatakan hidup manakala ia masih berpikir. Berpikir tentang hakikatnya sebagai manusia, berpikir permasalahan masyarakat, dan berpikir untuk menemukan ilmu pengetahuan dari hasil kontemplasinya. Perlu penyadaran dan pembudayaan kepada pendidik dan peserta didik untuk selalu berpikir kreatif, kritis, dan jitu.
Berperilaku merupakan cerminan apa yang dipikirkan oleh setiap manusia. Kebebasan berperilaku dengan dibarengi proses berpikir akan menjadikan manusia sebagai makhluk yang beradab. Perilaku yang baik akan selaras dengan hati yang baik, rasa yang baik, dan sikap yang baik. Nilai-nilai universal kemanusiaan menjadi pedoman dalam berperilaku. Jujur, percaya diri, atau belajar dengan sunggug-sungguh sebagai bagian dari moral individu, juga harus dibarengi dengan moral kinerja, seperti ulet dalam bekerja, bekerja keras, dan bekerja cerdas.
Itulah yang dimaksud dengan bertindak. Kemampuan psikomotorik yang berbasis pada potensi jasmani manusia dikembangkan untuk meningkatkan taraf hidup manusia. Manusia yang mampu berpikir, berperilaku, dan bertindak yang baik akan mampu menciptakan manusia andal, manusia yang tangguh, dan manusia yang andal, serta mampu bekerja sama dengan manusia lain untuk melangsungkan kehidupan. Memerdekakan dimulai dari hal tersebut.

06 Februari 2018

Relasi Guru-Murid

Menjadi guru tidaklah mudah di era digital dan era kebebasan sekarang ini. Berbabagi peristiwa ironis yang terjadi terkait relasi guru-murid. Ada siswa yang dijewer oleh guru hingga sampai masuk ranah hokum. Dan ada pula guru yang dipukul siswa sampai meninggal. Ada apa dengan pendidikan kita? Ada apa dengan sikap karakter kita? Ada apa?

Pendidikan hakikatnya adalah memanusiakan manusia dengan segenap perbedaan cara pandang perilaku dan hatinya. Pendidikan berfungsi membentuk manusia agar dapat baik dengan Tuhan dan baik dengan manusia.

20 Juli 2017

Kepemimpinan Pendidikan

Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang memiliki peran strategis dalam meningkatkan kehidupan sebuah bangsa. Sekolah adalah laboratorium bagi peserta didik untuk mengembangkan segenap kompetensinya. Guru melalui kegiatan pendidikan dan pembelajaran dapat mempengaruhi perkembangan peserta didiknya menuju pribadi yang cerah. Guru yang mampu mendidik akan terus berkembang manakala memiliki kepala sekolah yang memiliki kepemimpinan yang hebat pula. Kepemimpinan pendidikan, dengan berbagai pendekatannya, membentuk kepala sekolah menjadi pemimpin pendidikan. Kepemimpinan, pembelajaran, kepemimpinan visioner, kepemimpinan spiritual, kepemimpinan perubahan, dan kepemimpinan berbasis psikologi menjadikan kepala sekolah sebagai seorang pemimpin yang mampu membawa sekolah ke arah yang lebih baik.'

Dukungan birokrasi menjadi hal yang penting.

12 Juni 2017

Washing Up and Work

Ketika membahas pekerjaan rumah, apakah ada relasinya dengan harga diri? Misalnya mencuci pakaian di rumah sendiri, apakah menurunkan derajat laki-laki? Apakah dengan cuci piring bisa menurunkan derajat seorang laki-laki? Sepertinya pekerjaan rumah tidak sesimpel yang saya kira, namun di situ banyak unsur filosofis yang dapat dipetik. Ada nilai-nilai bekerja keras, ada nilai saling berbagi, ada nilai saling mendukung, ada nilai memberikan sebuah pekerjaan kepada orang lain sekecil apapun yang ia kerjakan. So, mari bekerja menjadi pribadi yang lebih baik.

Salam Bekerja Keras.

17 April 2017

Bangkit dan Terus Berkembang

Titik nadir manusia ketika melakukan kesalahan yang berulang. Namun menjadi indah manakala bias berubah menjadi pribadi baik. Perlu sebuah niat, tekad bulat, dan pola pikir yang baik untuk mewujudkannya. Selamat bulan April 2017.

02 April 2017

Organisasi Mahasiswa: Wahana Pengembangan Diri Menjadi Mahasiswa Unggul

Mahasiswa merupakan insan akademik yang potensial dan merupakan calon pemimpin bangsa, memiliki peran strategis dalam meningkatkan kesejahteraan bangsa pada waktunya. Mahasiswa yang unggul tidak hanya kuliah saja, namun ia mampu membagi waktu dengan kegiatan lainnya di luar keliah, seperti waktu untuk aktif di organisasi mahasiswa (ormawa). Ormawa merupakan wadah pengembangan diri mahasiswa di dalam kampus. Mahasiswa dengan ikut ormawa, ia akan belajar bagaimana berorganisasi, belajar berpikir rasional, belajar mengemukakan gagasan, belajar menghargai orang lain, dan belajar berkomunikasi serta bernegosiasi. Selain itu, mahasiswa dengan ikut ormawa akan meningkatkan relasi dengan temannya. Mereka akan mengenal berbagai karakter mahasiswa yang sangat beragam, mulai dari yang kalem, santun, sampai dengan yang keras atau malah menjengkelkan. Hal itulah yang akan menambah warna pengalaman para mahasiswa untuk belajar hidup di masyarakat nantinya. Dan tak dapat dipungkiri, perjanalan bangsa ini juga diwarnai oleh para mahasiswa.

Bagaimana dengan kondisi mahasiswa saat ini?