28 Juli 2010

METODE KUALITATIF

Penelitian dalam ilmu-ilmu sosial, selama ini mengenal dua paradigma dalam mendekati masalah. Paradigma ini membantu peneliti dalam memahami tentang fenomena sosial, bagaimana ilmu pengetahuan dapat terbentuk, dan apa yang mempengaruhi masalah, pemecahannya, serta kriteria dari bukti-bukti ilmiah yang ditemukan (Creswell, 1994). Paradigma pertama adalah positivisme dan kedua adalah fenomenologis (Taylor dan Bogdan, 1984; Dooley, 1984; Orford, 1992). Pada paradigma pertama, pemahaman tentang permasalahan sosial didasari pada pengujian teori yang disusun dari berbagai variabel, pengukuran yang melibatkan angka-angka, dan dianalisa menggunakan prosedur statistik. Paradigma ini konsisten dengan apa yang disebut pendekatan kuantitatif, dengan tujuan untuk meramalkan generalisasi suatu teori.

Paradigma yang kedua, konsisten sebagai pendekatan kualitatif (qualitative approach), didefinisikan sebagai:

  1. an inquiry process of understanding a social or human problem, based on building a complex, holistic picture, formed with words, reporting detailed views of information, and conducted in a natural setting (Creswell, 1994:2),

  2. the broadest sense to research that produces descriptive data: people’s own written or spoken words and observable behaviors (Taylor dan Bodgan, 1984:5)


Jadi, penelitian kualitatif adalah proses pencarian data untuk memahami masalah sosial yang didasari pada penelitian yang menyeluruh (holistic), dibentuk oleh kata-kata, dan diperoleh dari situasi yang alamiah. Pada penelitian kualitatif, peneliti berusaha memahami subyek dari kerangka berpikirnya sendiri (Taylor dan Bogdan, 1984; Creswell, 1994). Dengan demikian, yang penting adalah pengalaman, pendapat, perasaan dan pengetahuan partisipan (Patton, 1990). Oleh karena itu, semua perspektif menjadi bernilai bagi peneliti. Peneliti tidak melihat benar atau salah, namun semua data penting. Pendekatan ini sering disebut juga sebagai pendekatan yang humanistik, karena peneliti tidak kehilangan sisi kemanusiaan dari suatu kehidupan sosial. Peneliti tidak dibatasi lagi oleh angka-angka, perhitungan statistik, variabel-variabel yang mengurangi nilai keunikan individual (Taylor dan Bogdan, 1984).

Metode yang digunakan dalam pendekatan ini tidak kaku dan tidak terstandarisasi. Penelitian kualitatif sifatnya fleksibel, dalam arti kesesuaiannya tergantung dari tujuan setiap penelitian. Walaupun demikian, selalu ada pedoman untuk diikuti, tapi bukan aturan yang mati (Cassel dan Symon, 1994; Strauss, 1987; Taylor dan Bogdan, 1984). Jalannya penelitian dapat berubah sesuai kebutuhan, situasi lapangan serta hipotesa-hipotesa baru yang muncul selama berlangsungnya penelitian tersebut.

Ada berbagai macam pendapat yang dikemukakan oleh sejumlah penulis mengenai kapan pendekatan kualitatif digunakan. Sebagian besar penulis (mis. Creswell 1994; Patton, 1990; Strauss, 1987; Taylor dan Bogdan, 1984) mengemukakan bahwa pendekatan kualitatif digunakan bila peneliti ingin memahami sudut pandang partisipan secara lebih mendalam, dinamis dan menggali berbagai macam faktor sekaligus. Selain itu Creswell (1994) menambahkan bahwa pendekatan kualitatif tepat digunakan dalam situasi yang informal, di mana hal ini dimungkinkan oleh topik yang peka bagi informan, latar belakang demografis (pendidikan, tempat tinggal dan sebagainya) tertentu, dan hal lain yang menyebabkan pendekatan kuantitatif sulit diterapkan.


Asumsi-Asumsi Dasar

Untuk memulai suatu penelitian kualitatif, Creswell (1994) menyarankan agar peneliti merumuskan terlebih dahulu asumsi-asumsi dasar pendekatan kualitatif yang digunakan dalam penelitian. Hal ini dimaksudkan agar peneliti tetap konsisten dengan sejumlah aturan umum dari pendekatan kualitatif sehingga jalannya penelitian sesuai dengan tujuan penelitian dan kerangka metode yang digunakan. Beberapa asumsi dasar yang sering dijadikan acuan adalah sebagai berikut.

Tidak mementingkan angka, atau kuantifikasi fenomena. Diasosiasikan dengan kumpulan dan analisa data yang berupa kata-kata atau observasi langsung terhadap tingkah laku. Jadi fokusnya adalah lebih pada interpretasi daripada kuantifikasi (Cassel dan Symon, 1994; Patton, 1994). Tidak memaksakan klasifikasi awal yang kaku pada sekumpulan data (Cassel dan Symon, 1994). Informan adalah partisipan yang bukan hanya sekedar obyek dari kecurigaan ilmiah. Informan mengambil sikap yang lebih proaktif dalam proses penelitian (Cassel dan Symon, 1994).

Sangat menerima subyektifitas, sehingga yang bernilai adalah perspektif partisipan dan interpretasinya terhadap situasi (Cassel dan Symon, 1994). Memungkinkan fleksibilitas dalam proses penelitian. Respons terhadap konseptualisasi individu tentang dirinya berhubungan dengan kemungkinan untuk merumuskan hipotesa baru dan mengubah hipotesa lama sejalan dengan kemajuan penelitian. Intervensi peneliti dapat berubah-ubah sejalan dengan perubahan sifat konteks situasi (Cassel dan Symon, 1994; Strauss, 1987; Taylor dan Bogdan, 1984). Proses penelitian dilihat sebagai proses sosial yang sangat dipengaruhi oleh pilihan-pilihan yang diambil peneliti seiring dengan perkembangan penelitian (Cassel dan Symon, 1994).

Penelitian kualitatif lebih tertarik pada arti (meaning), yaitu bagaimana partisipan menghayati hidupnya, pengalamannya, dan cara mereka mengekspresikannya (Creswell. 1994; Patton 1990). Peneliti kualitatif terlibat secara aktif dalam pengumpulan data, yaitu secara fisik menemui partisipan, lingkungannya, serta institusi tempatnya berada, dalam suatu situasi yang alamiah (Creswell,1994; Cassel dan Symon, 1994; Patton, 1990). Penelitian kualitatif adalah penelitian deskriptif, di mana peneliti lebih tertarik dengan proses, arti dan pemahaman tentang pengalaman serta penghayatan subyektif partisipan (Creswell, 1994; Patton, 1990).


Jenis Penelitian

Dalam pendekatan kualitatif, terdapat sejumlah jenis penelitian (Creswell, 1994; Patton, 1990). Jenis penelitian di dalam pendekatan kualitatif penting untuk dirumuskan terlebih dahulu agar tujuan penelitian dengan pendekatan kualitatif dapat terdefinisi dengan baik. Pemahaman jenis penelitian juga membantu peneliti untuk menyusun pertanyaan yang akan disampaikan kepada partisipan. Creswell (1994) menyebutkan empat jenis penelitian dalam pendekatan kualitatif, yakni:

  1. Etnografi: dalam penelitian ini yang dipelajari adalah kelompok budaya dalam konteks natural selama periode tertentu, dengan tujuan untuk mengetahui budaya kelompok tersebut,

  2. Grounded Theory: yang diupayakan dalam penelitian ini adalah menyimpulkan suatu teori dengan menggunakan tahap-tahap pengumpulan data dan saling menghubungkan antara kategori informasi. Karakteristik dari jenis ini adalah pembandingan antar data dari berbagai kategori dan penggunaan sampel yang berbeda dari kelompok populasi untuk memaksimalkan persamaan dan perbedaannya,

  3. Studi Kasus: yang digali adalah entitas tunggal atau fenomena (kasus) dari suatu masa tertentu dan aktivitas (bisa berupa program, kejadian, proses, institusi atau kelompok sosial), serta mengumpulkan detil informasi dengan menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data selama kasus itu terjadi,

  4. Studi Fenomenologi: dalam penelitian ini yang diteliti adalah pengalaman manusia melalui deskripsi dari orang yang menjadi partisipan penelitian, sehingga peneliti dapat memahami pengalaman hidup partisipan.


Subyek Penelitian

Dalam pendekatan kualitatif, ada beberapa istilah yang digunakan untuk menunjuk subyek penelitian. Ada yang mengistilahkan informan, karena informan memberikan informasi tentang suatu kelompok atau entitas tertentu, dan informan bukan diharapkan menjadi representasi dari kelompok atau entitas tersebut. Istilah lainnya adalah partisipan. Partisipan digunakan terutama apabila subyek mewakili suatu kelompok tertentu, dan hubungan antara peneliti dengan subyek penelitian dianggap bermakna bagi subyek. Ada juga yang tetap dengan istilah subyek. Apapun istilahnya, yang terpenting adalah bagaimana hubungan peneliti dengan subyek penelitiannya. Subyek bagaimanapun dipandang sebagai seorang individu yang bermartabat dengan pribadi yang utuh, dan bukannya sekedar sumber informasi atau obyek penelitian.


Metode Pemilihan Partisipan

Menurut Patton (1990) terdapat dua teknik pemilihan partisipan (sampling strategies) dalam penelitian kualitatif. Pertama adalah random probability sampling, yaitu pengambilan sampel dari populasi secara random dengan memperhatikan jumlah sampel, dengan tujuan agar sampel dapat digenaralisasikan kepada populasi. Kedua adalah purposeful sampling, di mana sampel dipilih tergantung dengan tujuan penelitian tanpa memperhatikan kemampuan generalisasinya.


Jumlah Partisipan

Dalam penelitian kualitatif, apalagi studi kasus, tidak ada aturan yang baku tentang jumlah minimal dari partisipan (Patton, 1990). Namun Glaser dan Strauss dalam Gilgun (1992) menentukan bahwa penghentian pengumpulan data dilakukan bila peneliti tidak lagi menemukan informasi baru. Tapi Gilgun (1992) sendiri menyatakan bahwa jarang ditemukan suatu kondisi di mana tidak ada lagi informasi baru sama sekali. Data selalu dalam kondisi tentatif dan terbuka terhadap modifikasi data yang lain. Pertimbangan yang lebih pragmatis kadang-kadang juga dapat dipertangungjawabkan. Pertimbangan ini termasuk masalah keterbatasan waktu dan dana.


Teknik Pengumpulan Data

Dalam pendekatan kualitatif dikenal berbagai macam teknik pengumpulan data. Secara singkat, teknik-teknik pengumpulan data itu dapat terlihat di dalam uraian berikut ini.

Gather observational notes by conducting an observation as a participant. Gather observational notes by conducting an observation as an observer. Conduct an unstructured, open-ended interview and take interview notes. Conduct an unstructured, open-ended interview, audiotape to interview, and transcribe the interview. Keep a journal during research study. Have an informant keep a journal during research study. Collect personal letters from informants. Analyze public documents (e.g., official memos, minutes, archival material). Examine autobiographies and biographies. Examine physical trace evidence (e.g., footprints in the snow). Videotape a social situation or an individual / group. Examine photographs or videotapes. Have informants take photographs or videotapes. Collect sounds ( e.g., musical sounds, a child’s laughter, can horns honking). (Creswell, 1994 :149).


Persiapan yang perlu dilakukan

Tahap persiapan dilakukan berdasarkan parameter pengumpulan data yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman (1984), yaitu:

  1. The setting, peneliti perlu mengetahui kondisi lapangan penelitian yang sebenarnya untuk membantu dalam merencanakan pengambilan data. Hal-hal yang perlu diketahui untuk menunjang pelaksanaan pengambilan data meliputi tempat pengambilan data, waktu dan lamanya wawancara, serta biaya yang dibutuhkan,

  2. The actors, mendapatkan data tentang karakteristik calon partisipan. Di dalamnya termasuk situasi yang lebih disukai partisipan, kalimat pembuka, pembicaraan pendahuluan dan sikap peneliti dalam melakukan pendekatan,

  3. The events, menyusun protokol wawancara, meliputi: (a) pendahuluan; (b) pernyataan pembuka; (c) pertanyaan kunci; dan (d) probing. Pada bagian ini peneliti akan memanfaatkan hasil pada bagian kedua untuk membuat kalimat pendahuluan dan pernyataan pembuka, serta hasil penyusunan pedoman wawancara sebagai pertanyaan kunci,

  4. The process, berdasarkan persiapan pada bagian pertama sampai ketiga, maka disusunlah strategi pengumpulan data secara keseluruhan. Strategi ini mencakup seluruh perencanaan pengambilan data mulai dari kondisi, strategi pendekatan dan bagaimana pengambilan data dilakukan.


Analisis Data

Analisis data bertujuan untuk menyusun data dalam cara yang bermakna sehingga dapat dipahami. Patton (1990) berpendapat bahwa tidak ada cara yang paling benar secara absolut untuk mengorganisasi, menganalisis, dan menginterpretasikan data kualitatif. Karena itu, maka prosedur analisis data dalam penelitian ini didasarkan kepada sejumlah teori (Creswell, 1994; Patton, 1990; Bogdan dan Taylor, 1984) dan disesuaikan dengan tujuan penelitian. Analisis dilakukan terhadap data berdasarkan logika induktif. Analisis akan bergerak dari sesuatu hal yang khusus atau spesifik, yaitu yang diperoleh di lapangan, ke arah suatu temuan yang bersifat umum, yang akan muncul lewat analisis data berdasarkan teori yang digunakan.


DAFTAR RUJUKAN


Cassell, C., Symon, G. 1994. Qualitative Methods in Organizational Research. London: Sage.


Creswell, J. W. 1994. Research Design: Quantitative And Qualitative Approach. London : Sage.


Gilgun, J. 1992. Definition, Methodologies and Methods in Qualitative Family Research. Dalam J. Gilgun, K. Daly and G. Handel (editors). Qualitative Methods in Family Research. Newbury Park: Sage.


Miles, M. B., Huberman, A. M. 1984. Qualitative Data Analysis: A Sourcebook of New Methods. California: Sage.


Patton, M. Q. 1990. Qualitative Evaluation and Research Methods. Newbury Park: Sage.


Strauss, A. L. 1987. Qualitative Anaysis for Social Scientists. New York: Cambridge University Press.


Taylor, S. J., Bogdan, R. 1984. Introduction to Qualitative Reserach Methods: The Search for Meaning. New York : John Wiley and Sons.

JENIS DATA DAN METODE PENGUMPULAN DATA

  1. Macam-Macam Data

Untuk memperoleh data atau informasi dalam studi kasus tentu perlu dilakukan kegiatan pengumpulan data. Data sebagai informasi awal yang dibutuhkan sebagai penunjang studi kasus, untuk itu diperlukan data mengenai klien dalam aspek-aspek:

  1. Latar belakang keluarga: data tentang orang tua, saudara-saudara, taraf sosial ekonomi keluarga, suasana kehidupan keluarga, adat istiadat, dan pola asuh orangtua,

  2. Riwayat sekolah: jenjang pendidikan sekolah yang telah diselesaikan dalam waktu berapa tahun, tamat di mana, tahu berapa, dan kesulitan belajar yang dialami,

  3. Taraf prestasi: dalam bidang-bidang studi yang mempunyai relevansi bagi perencanaan pendidikan lanjutan dan penentuan jabatan kelak,

  4. Taraf kemampuan intelektual atau kemampuan akademik: kemampuan untuk mencapai prestasi di sekolah yang di dalamnya berpikir memegang peranan pokok,

  5. Bakat khusus: kemampuan untuk mencapai prestasi yang tinggi di bidang tertentu.


Minat terhadap bidang studi dan bidang pekerjaan tertentu; kecenderungan menetap untuk merasa tertarik pada sesuatu. Pengalaman di luar sekolah; kegiatan dalam organisasi muda-mudi dan pengalaman kerja. Ciri-ciri kepribadian yang tidak termasuk ke dalam nomor 4, 5, dan 6 di atas: sifat temperamen, sifat karakter, corak kehidupan emosional, nilai-nilai kehidupan yang dijunjung tinggi, kadar pergaulan sosial dengan teman-teman sebaya, sikap dalam menghadapi permasalahan dalam berbagai bidang kehidupan, dan keadaan mental. Kesehatan jasmani: keadaan kesehatan pada umumnya, gangguan pada alat-alat indera, cacat jasmani dan penyakit serius yang pernah diderita.


  1. Metode Pengumpulan Data

Dalam proses pengumpulan data tentu diperlukan sebuah alat atau instrumen pengumpul data. Alat pengumpul data dapat dibedakan menjadi dua yaitu pertama alat pengumpul data dengan menggunakan metode tes dan metode nontes.

    1. Pengumpulan Data Dengan Metode Tes

Tes merupakan suatu metode penelitian psikologis untuk memperoleh informasi tentang berbagai aspek dalam tingkah laku dan kehidupan batin seseorang, dengan menggunakan pengukuran (measurement) yang menghasilkan suatu deskripsi kuantitatif tentang aspek yang diteliti. Keunggulan metode ini adalah: (1) lebih akurat karena tes berulang-ulang direvisi; dan (2) instrumen penelitian yang obyektif. Sedangkan kelemahan metode ini adalah: (1) hanya mengukur satu aspek data; (2) memerlukan jangka waktu yang panjang karena harus dilakukan secara berulang-ulang; dan (3) hanya mengukur keadaan siswa pada saat tes itu dilakukan. Jenis-jenis tes:

  1. Tes Intelegensi

Tes kemampuan intelektual, mengukur taraf kemampuan berpikir, terutama berkaitan dengan potensi untuk mencapai taraf prestasi tertentu dalam belajar di sekolah (Mental ability Tes; Intelegence Tes; Academic Ability Tes; Scholastic Aptitude Tes). Jenis data yang dapat diambil dari tes ini adalah kemampuan intelektual atau kemampuan akademik.

  1. Tes Bakat

Tes kemampuan bakat, mengukur taraf kemampuan seseorang untuk berhasil dalam bidang studi tertentu, program pendidikan vokasional tertentu atau bidang pekerjaan tertentu, lingkupnya lebih terbatas dari tes kemampuan intelektual (Tes of Specific Ability; Aptitude Tes). Kemampuan khusus yang diteliti itu mencakup unsur-unsur intelegensi, hasil belajar, minat dan kepribadian yang bersama-sama memungkinkan untuk maju dan berhasil dalam suatu bidang tertentu dan mengambil manfaat dari pengalaman belajar di bidang itu.

  1. Tes Minat

Tes minat, mengukur kegiatan-kegiatan macam apa paling disukai seseorang. Tes macam ini bertujuan membantu orang muda dalam memilih macam pekerjaan yang kiranya paling sesuai baginya (Tes of Vocational Interest).

  1. Tes Kepribadian

Tes kepribadian, mengukur ciri-ciri kepribadian yang bukan khas bersifat kognitif, seperti sifat karakter, sifat temperamen, corak kehidupan emosional, kesehatan mental, relasi-relasi sosial dengan orang lain, serta bidang-bidang kehidupan yang menimbulkan kesukaran dalam penyesuaian diri. Tes Proyektif, meneliti sifat-sifat kepribadian seseorang melalui reaksi-reaksinya terhadap suatu kisah, suatu gambar atau suatu kata; angket kepribadian, meneliti berbagai ciri kepribadian seseorang dengan menganalisa jawaban-jawaban tertulis atas sejumlah pertanyaan untuk menemukan suatu pola bersikap, bermotivasi atau bereaksi emosional, yang khas untuk orang itu.

Kelemahan Tes Proyektif hanya di administrasi oleh seorang psikolog yang berpengalaman dalam menggunakan alat itu dan ahli dalam menafsirkannya.

  1. Tes Perkembangan Vokasional

Tes vokasional, mengukur taraf perkembangan orang muda dalam hal kesadaran kelak akan memangku suatu pekerjaan atau jabatan (vocation); dalam memikirkan hubungan antara memangku suatu jabatan dan ciri-ciri kepribadiannya serta tuntutan-tuntutan sosial-ekonomis; dan dalam menyusun serta mengimplementasikan rencana pembangunan masa depannya sendiri. Kelebihan tes semacam ini meneliti taraf kedewasaan orang muda dalam mempersiapkan diri bagi partisipasinya dalam dunia pekerjaan (career maturity).

  1. Tes Hasil Belajar (Achievement Tes)

Tes yang mengukur apa yang telah dipelajari pada berbagai bidang studi, jenis data yang dapat diambil menggunakan tes hasil belajar (Achievement Tes) ini adalah taraf prestasi dalam belajar.


    1. Pengumpulan Data Dengan Metode Nontes

Untuk melengkapi data hasil tes akan lebih akurat hasilnya bila dipadukan dengan data-data yang dihasilkan dengan menggunakan teknik yang berbeda, berikut disajikan alat pengumpul data dalam bentuk nontes.

      1. Observasi

Observasi diartikan pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Keunggulan metode ini adalah: (1) banyak gejala yang hanya dapat diselidiki dengan observasi, hasilnya lebih akurat dan sulit dibantah; (2) banyak objek yang hanya bersedia diambil datanya hanya dengan observasi, misalnya terlalu sibuk dan kurang waktu untuk diwawancarai atau mengisi kuesioner; (3) kejadian yang serempak dapat diamati dan dicatat serempak pula dengan memperbanyak observer; dan (4) banyak kejadian yang dipandang kecil yang tidak dapat ditangkap oleh alat pengumpul data yang lain, yang ternyata sangat menentukan hasil penelitian.

Kelemahan metode ini adalah: (1) observasi tergantung pada kemampuan pengamatan dan mengingat; (2) kelemahan-kelemahan observer dalam pencatatan; (3) banyak kejadian dan keadaan objek yang sulit diobservasi, terutama yang menyangkut kehidupan pribadi yang sangat rahasia; (4) observasi sering menjumpai observee yang bertingkah laku baik dan menyenangkan karena tahu bahwa ia sedang diobservasi; dan (5) banyak gejala yang hanya dapat diamati dalam kondisi lingkungan tertentu, sehingga dapat terjadi gangguan yang menyebabkan observasi tidak dapat dilakukan.


      1. Catatan Anekdot (Anecdotal Record )

Alat untuk mencatat gejala-gejala khusus atau luar biasa menurut urutan kejadian, catatan dibuat segera setelah peristiwa terjadi. Pencatatan ini dilakukan terhadap bagaimana kejadiannya, bukan pendapat pencatat tentang kejadian tersebut. Keuntungan: (1) catatan ini menggambarkan perilaku individu, biasanya dalam berbagai situasi yang berbeda, sehingga dapat menyumbangkan pemahaman yang lebih besar tentang kepribadian individu tersebut; (2) catatan tentang perilaku yang jelas akan menghasilkan pemahaman yang lebih tepat mengenai subyek, daripada generalisasi yang tidak jelas, terlalu luas, dan tidak dilengkapi bukti kuat; (3) catatan ini mendorong guru untuk tertarik dan mendapatkan informasi tentang individu; dan (4) catatan ini melengkapi data kuantitatif dan memperkaya penafsiran perilaku.

Kelemahan: (1) catatan ini dapat berguna hanya jika penggambaran pengamatannya akurat dan komprehensif; (2) catatan ini bisa menciptakan masalah serius bagi personel sekolah berkaitan dengan undang-undang yaitu (Undang-Undang dan Privasi Pendidikan Keluarga 1974) yang diciptakan untuk melindungi hak privasi siswa. Pencatatan data tentang orang tua atau anak dapat berdampak sangat berbahaya; (3) beberapa kejadian yang dialami subyek sehari-hari cenderung menjadi bahan observasi dan dicatat. Kejadian ini menimbulkan kesan tentang subyek itu di luar proporsi kepentingannya; (4) pencatatan dan penggambaran perilaku yang tidak representatif mungkin akan mempengaruhi perilaku individu yang lain; dan (5) catatan anekdot banyak memerlukan waktu dalam penulisan dan pemrosesannya. Hal ini jelas menambah beban konselor, guru, dan petugas sekolah.

      1. Catatan Berkala (Incidental Record)

Pencatatan berkala walaupun dilakukan berurutan menurut waktu munculnya suatu gejala tetapi tidak dilakukan terus menerus, melainkan pada waktu tertentu dan terbatas pula pada jangka waktu yang telah ditetapkan untuk tiap-tiap kali pengamatan.

      1. Daftar Chek (Check List )

Penataan data dilakukan dengan menggunakan sebuah daftar yang memuat nama observer dan jenis gejala yang diamati.

      1. Skala Penilaian (Rating Scale)

Pencatatan data dengan alat ini dilakukan seperti chek list. Perbedaannya terletak pada kategorisasi gejala yang dicatat. Dalam rating scale tidak hanya terdapat nama objek yang diobservasi dan gejala yang akan diselidiki akan tetapi tercantum kolom-kolom yang menunjukkan tingkatan atau jenjang setiap gejala tersebut. Kelebihan skala pengukuran adalah karena merupakan alat perhitungan observasi dan merupakan alat yang bagi pengamat dapat digunakan untuk menilai individu yang sama, dengan demikian akan memperbesar reliabilitas penilaian. Penilaian yang sama dari beberapa penilai, asalkan mereka memiliki pengetahuan yang sama tentang individu yang sedang dinilai, biasanya hasilnya lebih baik daripada penilaian yang hanya dilakukan satu orang.

Kelemahan: kesalahan bias personal, efek halo, kecenderungan sentral, dan kesalahan logis. Karena skala penilaian telah digunakan secara luas selama bertahun-tahun, kekurangan itu cukup dikenal oleh mereka yang merancang dan menggunakannya. Namun, jenis-jenis kesalahan itu bisa saja terjadi dengan berbagai bentuk berdasarkan observasi yang dilakukan.

      1. Peralatan Mekanis (Mechanical Device)

Pencatatan dengan alat ini tidak dilakukan pada saat observasi berlangsung, karena sebagian atau seluruh peristiwa di rekan dengan alat elektronik sesuai dengan keperluan.

      1. Angket Tertulis

Alat ini memuat sejumlah item atau pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa secara tertulis juga. Dengan mengisi angket ini siswa memberikan keterangan tentang sejumlah hal yang relevan bagi keperluan bimbingan, seperti keterangan tentang keluarga, kesehatan jasmani, riwayat pendidikan, pengalaman belajar sekolah dan di rumah, pergaulan sosial, rencana pendidikan lanjutan, kegiatan di luar sekolah, hobi dan mungkin kesukaran yang mungkin dihadapi.

Keunggulan: (1) dalam waktu singkat diperoleh banyak keterangan; dan (2) pengisiannya dapat dilakukan di kelas, siswa dapat menjawab sesuai dengan keadaannya tanpa dipengaruhi oleh orang lain. Kelemahan: (1) siswa tidak dapat memberikan keterangan lebih lanjut karena jawaban terbatas pada hal-hal yang ditanyakan; (2) siswa dapat menjawab tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya jika dia menghendaki demikian; dan (3) jawaban hanya mengungkap keadaan siswa pada saat angket diisi.

      1. Wawancara Informasi

Wawancara informasi merupakan salah satu metode pengumpulan data untuk memperoleh data dan informasi dari siswa secara lisan. Proses wawancara dilakukan dengan cara tatap muka secara langsung dengan siswa. Selama proses wawancara petugas bimbingan mengajukan pertanyaan, meminta penjelasan dan jawaban dari pertanyaan yang diberikan dan membuat catatan mengenai hal-hal yang diungkapkan kepadanya.

Keunggulan: (1) diperoleh informasi dalam suasana komunikasi secara langsung, yang memungkinkan siswa selain memberikan data faktual seperti yang ditulis dalam angket, juga mengungkapkan sikap, pikiran, harapan, dan perasaan; (2) rumusan pertanyaan dapat disesuaikan dengan daya tangkap siswa; (3) dapat ditanyakan hal-hal yang bersifat sensitif, seperti suasana keluarga, corak pergaulan dengan saudara kandung dan teman sebaya, dan penggunaan bahan narkotika.

Interview penting untuk memperoleh informasi, tidak hanya mengenai item-item yang faktual seperti yang biasa tercakup pada kuesioner pengumpul data siswa, namun juga mengenai sikap, ambisi dan hal afektif lain yang menyusun studi kasus ini. Fact-Finding interview dapat digunakan karena data sebelumnya tidak jelas atau karena perasaan yang mendasari perlu ditemukan dan dipahami. Kelemahan: (1) memerlukan banyak waktu bagi petugas bimbingan; (2) siswa berprasangka terhadap petugas bimbingan dan memberikan informasi yang tidak sesuai dengan kenyataan; (3) petugas bimbingan mendengarkan terlalu selektif atau bertanya-tanya dengan cara yang sugestif; (4) pembuatan catatan memberikan kesan kepada siswa bahwa dia sedang berhadapan dengan petugas kepolisian.

Interview mungkin mengubah informasi mengenai interview mereka sendiri, reaksi mereka, dan pengalaman mereka. Interview dapat menjadikan sumber kesalahan. Mereka dapat mencatat informasi karena “pendengaran yang selektif”. Mungkin mereka hanya gagal mendengarkan pernyataan interviewee yang bertentangan dengan opini,reaksi, sikap atau ide tentang situasi mereka sendiri.

      1. Otobiografi

Otobiografi merupakan karangan yang dibuat oleh siswa mengenai riwayat hidupnya sampai pada saat sekarang. Riwayat hidup itu dapat mencakup keseluruhan hidupnya di masa lampau atau hanya beberapa aspek kehidupannya saja. Keunggulan: (1) di samping menceritakan kejadian-kejadian di masa lalu terungkap pula pikiran dan perasaan subjektif tentang kejadian tersebut; (2) menolong konselor memahami kehidupan batin siswa dan membantu siswa menyadari garis besar riwayat perkembangannya sampai sekarang; (3) berunsur subyektifitas sehingga siswa menggambarkan dunia ini, dilihat dari sudut pandang sendiri (internal frame of reference).

Kelemahan: (1) unsur subyektifitas juga menimbulkan kesulitan bagi interpretasi, karena siswa cenderung melebihkan-lebihkan kebaikan atau kelemahan sendiri dan menilai peranan orang lain secara berat sebelah; dan (2) memerlukan waktu yang lama,

      1. Sosiometri

Sosiometri merupakan suatu metode untuk memperoleh data tentang jaringan sosial dalam suatu kelompok, yang berukuran kecil antara 10-50 orang, data diambil berdasarkan preferensi pribadi antara anggota kelompok. Keunggulan: memberikan informasi obyektif mengenai fungsi-fungsi individu dalam kelompoknya, di mana informasi ini tidak dapat diperoleh dari sumber yang lain. Kelemahan: perlu diketahui bahwa tes sosiometri, tidak memberikan jawaban yang pasti. Tes ini hanya bisa memberikan indikasi struktur sosial atau petunjuk bagi peneliti tentang individu pada periode tertentu. Seluruh teori sosiometri atau postulatnya belum dites dan dikembangkan sampai pada tingkat yang tak tersangkal kebenarannya. Siswa cenderung memilih bukan atas dasar pertimbangan dengan siapa dia akan paling berhasil dalam melakukan kegiatan (sosiogroup) melainkan atas dasar simpati dan antipati (psychogroup).

19 Juli 2010

MANAJEMEN STRATEGIK

LATAR BELAKANG

Untuk merealisasikan suatu perencanaan yang baik perlu adanya dukungan dari aspek-aspek pelaksanaan, pengawasan, struktur organisasi, sistem informasi dan komunikasi, motivasi, iklim kerja, sistem penggajian dan budaya organisasi.

Kelemahan perencanaan strategik biasanya bersifat ritual dan mekanis, sifatnya rutin dan sering berpegang pada asumsi-asumsi yang tidak realitis sehingga menyebabkan tidak termonitornya pelaksanaan dan pengendalian dari rencana-rencana yang telah dibuat.

Untuk mengatasi kelemahan-kelemahan perencanan strategik diatas maka pada tahun 1980-an muncullah suatu model yang namanya Manajemen Strategik. Model ini mengkombinasikan pola berpikir strategis dalam proses mamajemen. Segala sesuatu yang strategik tidak hanya berhenti pada proses perencanaan saja tetapi juga dilanjutkan pada tingkat operasional dan pengawasan.

Manajemen Strategik juga mencakup trend baru, yaitu:

1. Peralihan dari perencanaan menjadi keunggulan bersaing

Pembuatan strategi lebih didasarkan pada konsep keunggulan bersaing yang memiliki lima karakteristik, yaitu:

a. Kompetensi khusus

Keunggulan bersaing merupakan hal khusus yang dimiliki atau dilakukan suatu organisasi yang memberinya kekuatan untuk menghadapi pesaing. Kompetensi ini bisa berwujud opini atau merek yang mempunyai persepsi kualitas tinggi. ( misalnya; opini: Pengelolaan administrasi yang rapi, terkenal bersih atau bebas KKN/Korupsi Kolusi Nepotisme, Tepat waktu. Merek: Coca cola, IBM, BMW, Mc Donald’s).

b. Menciptakan persaingan tidak sempurna

Dalam persaingan sempurna semua organisasi menghasilkan produk yang serupa sehingga bebas keluar masuk ke dalam pasar. Suatu organisasi dapat memperoleh keunggulan bersaing dengan menciptakan persaingan tidak sempurna yaitu dengan cara memberikan kualitas yang tinggi di aspek-aspek tertentu.

c. Berkesinambungan

Keunggulan bersaing harus bersifat berkesinambungan bukan sementara dan tidak mudah ditiru oleh para pesaing.

d. Kesesuaian dengan lingkungan internal

Keunggulan bersaing dapat diraih dengan menyesuaikan kebutuhan atau permintaan pasar. Karena lingkungan eksternal bisa berupa ancaman dan peluang, sehingga perubahan pasar dapat meningkatkan keunggulan atau kelemahan suatu organisasi.

e. Keuntungan yang tinggi daripada keuntungan rata-rata

Sasaran utama keunggulan bersaing adalah mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi daripada keuntungan rata-rata orrganisasi-organisasi lainnya

2. Peralihan dari Elitism menjadi Egalitarianism

Berpikir strategik dalam Manajemen Strategik tidak hanya dilakukan oleh para kelompok elit perencana saja, tetapi juga ditanamkan kepada setiap anggota organisasi. Dalam Manajemen Strategik orang yang melakukan perencanaan adalah setiap pihak yang juga akan mengimplementasikan rencana tersebut.

3. Peralihan dari perhitungan (kalkulasi) menjadi kreativitas

Dalam Manajemen Strategik, strategi-strateginya tidak hanya terfokus pada faktor-faktor yang bersifat kuantitatif dan dapat diukur saja, tetapi juga mempertimbangkan perspektif yang lebih kualitatif. Strategi lebih banyak tergantung pada aspek perasaan (senses) daripada analisis sehingga dalampenyusunan strategi sangat diperlukan kreatifitas.

4. Peralihan dari sifat kaku menjadi fleksibel

Manajemen strategik lebih bersifat lentur/fleksibel karena manggabungkan pandangan dan tindakan, menyeimbangkan pengendalian dan learning, serta mengelola stabilitas dan perubahan. Strategi yang dibangun merupakan strategi yag adaptif dan fleksibel dalam menghadapi perubahan dan kondisi pasar yang penuh ketidakpastian.

ARTI MANAJEMEN STRATEGIK

“Manajemen strategik adalah suatu seni dan ilmu dari pembuatan (formulating), penerapan (implementing) dan evaluasi (evaluating0 keputusan-keputusan strategis antar fungsi-fungsi yang memungkinkan sebuah organisasi mencapai tujuan-tujuan masa datang.”

Dari definisi tersebut terdapat dua hal penting yang dapat disimpulkan, yaitu:

1. Manajemen Strategik terdiri atas tiga proses:

a. Pembuatan Strategi, yang meliputi pengembnagan misi dan tujuan jangka panjang, mengidentifiksikan peluang dan ancaman dari luar serta kekuatan dan kelemahan organisasi, pengembangan alternatif-alternatif strategi dan penentuan strategi yang sesuai untuk diadopsi.

b. Penerapan strategi meliputi penentuan sasaran-sasaran operasional tahunan, kebijakan organisasi, memotovasi anggota dan mengalokasikan sumber-sumber daya agar strategi yang telah ditetapkan dapat diimplementasikan.

c. Evaluasi/Kontrol strategi, mencakup usaha-usaha untuk memonitor seluruh hasil-hasil dari pembuatan dan penerapan strategi, termasuk mengukur kinerja individu dan organisasi serta mengambil langkah-langkah perbaikan jika diperlukan.

2. Manajemen Strategik memfokuskan pada penyatuan/penggabungan aspek-aspek pemasaran, riset dan pengembangan, keuangan/akuntansi, operasional/produksi dari sebuah organisasi.

Strategik selalu “memberikan sebuah keuntungan”, sehingga apabila proses manajemen yang dilakukan oleh organisasi gagal menciptakan keuntungan bagi organisasi tersebut maka dapat dikatakan proses manajemen tersebut bukan manajemen strategik.

PERBEDAAN STRATEGI DAN TAKTIK

Untuk memudahkan pengertian antara strategi dan taktik, kita bisa menggunakan kata tanya “apa” dan “bagaimana”.

Jika kita akan memutuskan “apa” yang seharusnya kita lakukan maka kita akan memutuskan suatu strategi. Jika kita akan memutuskan “bagaimana” untuk mengerjakan sesuatu maka itulah yang dinamakan taktik. Menurut Drucker, strategi adalah mengerjakan sesuatu yang benar (doing the right things) dan taktik adalah mengerjakan sesuatu dengan benar (doing the things right). Sedangkan menurut Karl Van Clausewits, strategi merupakan suatu seni menggunakan pertempuran untuk memenangkan suatu perang, sedangkan taktik adalah seni menggunakan tentara dalam sebuah pertempuran.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa taktik merupakan penjabaran operasional jangka pendek dari strategi agar strategi tersebut dapat diterapkan. Karena strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan suatu organisasi, maka strategi memiliki beberapa sifat, yaitu :

1. Menyatu (unified) : menyatukan seluruh bagian-bagian dalam organisasi.

2. Menyeluruh (comprehensif): mencakup seluruh aspek dalam organisasi.

3. Integral (integrated) : seluruh strategi akan cocok/sesuai untuk seluruh tingkatan (corporate, business and functional)

MANFAAT MANAJEMEN STRATEGIK

Dengan menggunakan manajemen strategik sebagai suatu kerangka kerja (frame work) untuk menyelesaikan setiap masalah strategis di dalam organisasi terutama berkaitan dengan persaingan, maka peran manajer diajak untuk berpikir lebih kreatif atau berpikir secara strategik.

Pemecahan masalah dengan menghasilkan dan Mempertimbangkan lebih banyak alternatif yang dibangun dari suatu analisa yang lebih teliti akan lebih menjanjikan suatu hasil yang menguntungkan.

Ada bebarapa manfaat yang diperoleh organisasi jika mereka menerapkan manajemen strategik, yaitu:

1. Memberikan arah jangka panjang yang akan dituju.

2. Membantu organisasi beradaptasi pada perubahan-perubahan yang terjadi.

3. Membuat suatu organisasi menjadi lebih efektif

4. Mengidentifikasikan keunggulan komparatif suatu organisasi dalam lingkungan yang semakin beresiko.

5. Aktifitas pembuatan strategi akan mempertinggi kemampuan perusahaan untuk mencegah munculnya masalah di masa datang.

6. Keterlibatan anggota organisasi dalam pembuatan strategi akan lebih memotivasi mereka pada tahap pelaksanaannya.

7. Aktifitas yang tumpang tindih akan dikurangi

8. Keengganan untuk berubah dari karyawan lama dapat dikurangi.

RESIKO MANAJEMEN STRATEGIK

Keterlibatan para manajer dalam proses perencanaanstrategik akan menimbulkan beberapa resiloyang perlu diperhitungkan sebelum melakukan proses manajemen strategik, yaitu:

1. Waktu yang digunakan para manajer dalam proses manajemen strategik uingkin mempunyai pengaruh negatif pada tanggung jawab operasional.

2. Apabila para pembuat strategi tidak dilibatkan secara langsung dalam penerapannya maka mereka dapat mengelak tanggung jawab pribadi untuk keputusan-keputusan yang diambil dalam proses perencanaan.

3. Akan timbul kekecewan dari para bawahan yang berpartisipasi dalampenerapan strategi karena tidak tercap[ainya tujuan dan harapan mereka.

Untuk mengatasi resiko-resiko tersebut para manajer perlu dilatih mengamankan atau memperkecil timbulnya resiko dengan cara:

1. Melakukan penjadwalan kewajiban-kewajiban para manajer agar mereka dapat mengalokasikan waktu yang lebih efisien.

2. Membatasi para manajer pada proses perencanaan untuk mebuat janji-janji mereka terhadap kinerja yang benar-benar dapat dilaksananakan oleh mereka dan bawahannya.

3. Mengatisipasi dan menanggapi keinginan-keinginan bawahan, misalnya usulan atau peningkatan dalam ganjaran.