20 Mei 2018

MEMERDEKAKAN PENDIDIKAN

Istilah persaingan muncul seiring dengan dipopulerkannya konsep globalisasi oleh Naisbitt pada tahun 1980an, tak pelak mengakibatkan pendidikan pun tereduksi menjadi alat globalisasi. Akibatnya terjadi pergeseran tujuan pendidikan dari tataran filosofis menjadikan manusia sebagai insan yang merdeka, menjadi tataran empiris yang menjadikan manusia sebagai alat produksi dengan pendidikan diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja. Filosofi materialis menjadi lebih dominan dengan melihat manusia pada satu dimensi yakni pendidikan sebagai penyiapan tenaga kerja. Pendidikan tidak lagi memandang manusia sebagai makhluk dimensional. Jika yang terjadi demikian, maka apakah mungkin bisa pendidikan yang memerdekakan dapat tercapai ketika pendidikan itu sendiri belum merdeka? Bukankah Bapak Pendidikan Ki Hajar Dewantara telah mengamanatkan bahwa pendidikan itu memerdekakan?

Merajut Kembali Pendidikan
Tak dapat dipungkiri kata pendidikan di kalangan masyarakat umum pun terjadi penyempitan makna, yakni pendidikan yang bertujuan memanusiakan manusia, menjadi pendidikan sebagai investasi untuk meningkatkan taraf hidup yang diukur dari unsur pendapatan ekonomi semata. Hal inilah yang menjadi penyebab pendidikan diselenggarakan sebatas agar peserta didik memiliki kompetensi untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja. Akibatnya pada diri peserta didik tertanam sikap berkompetisi dengan orang lain. Nilai-nilai relasi antarpersonal yang memiliki kesadaran bahwa setiap individu saling memerlukan satu sama lain sehingga akan ada kooperasi di antara mereka menjadi pudar.
Berbagai peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, seperti meninggalnya seorang guru di tangan peserta didiknya sendiri, seorang peserta didik yang berani menantang berkelahi gurunya sendiri, ataupun kasus sebaliknya seorang guru yang melakukan pelecehan seksual kepada peserta didiknya sendiri, merupakan pertanda bahwa pendidikan kehilangan ruhnya. Pendidikan menjadi jauh terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Menjadi hal penting untuk merajut kembali pendidikan dengan berlandaskan pada upaya humanisasi. Pendidikan sebagai ilmu normatif, sehingga fungsi sekolah adalah menumbuhkan etika dan moral subjek peserta didik ke tingkat yang lebih baik dengan cara atau proses yang baik pula serta dalam konteks positif.

Membangun Moral Pendidikan
Pendidikan melihat manusia sebagai mahluk yang bermoral. Manusia bukan hanya sekedar hidup tetapi hidup untuk mewujudkan eksistensi. Manusia hidup bersama-sama dengan sesama manusia sebagai ciptaan Tuhan. Proses humanisasi diarahkan pada nilai-nilai kehidupan yang vertikal di dalam kenyataan hidup bersama dengan manusia lain secara horizontal. Pendidikan mengarahkan guru dan peserta didik menuju aktivis yang fundamental sebagai manusia menggunakan hati nurani serta berpikir kritis, kreatif, dan integratif demi membangun masyarakat yang menjunjung tinggi moralitas bangsa.
Harapan besar pendidikan selain mengembangkan moral manusia yang baik, juga seiring dengan ketajaman pikiran manusi itu sendiri, sehingga menjadi manusia yang bijak. Membangun moral pendidikan merupakan upaya integral agar mampu mengembangkan manusia-manusia yang sadar akan peran, tugas, dan tanggung jawabnya terhadap kehidupan masyarakat. Menumbuhkan moralitas diawali dengan penyadaran bahwa manusia sebenarnya merupakan makhluk yang bermoral dengan tugas menjaga harmoni kehidupan alam. Sehingga manusia akan baik terhadap sesama dan baik terhadap alam.

Kemerdekaan Berpikir
Memerdekakan pendidikan berarti memerdekanan cara berpikir, berperilaku, dan bertindak setiap manusia sebagai insan. Membudayakan kemerdekaan berpikir di tengah-tengah gempuran informasi yang cepat dan kebiasaan masyarakat yang serba instan merupakan tantangan sendiri. Berpikir menempati tingkat yang krusial dalam penyelenggaraan pendidikan. Manusia dikatakan hidup manakala ia masih berpikir. Berpikir tentang hakikatnya sebagai manusia, berpikir permasalahan masyarakat, dan berpikir untuk menemukan ilmu pengetahuan dari hasil kontemplasinya. Perlu penyadaran dan pembudayaan kepada pendidik dan peserta didik untuk selalu berpikir kreatif, kritis, dan jitu.
Berperilaku merupakan cerminan apa yang dipikirkan oleh setiap manusia. Kebebasan berperilaku dengan dibarengi proses berpikir akan menjadikan manusia sebagai makhluk yang beradab. Perilaku yang baik akan selaras dengan hati yang baik, rasa yang baik, dan sikap yang baik. Nilai-nilai universal kemanusiaan menjadi pedoman dalam berperilaku. Jujur, percaya diri, atau belajar dengan sunggug-sungguh sebagai bagian dari moral individu, juga harus dibarengi dengan moral kinerja, seperti ulet dalam bekerja, bekerja keras, dan bekerja cerdas.
Itulah yang dimaksud dengan bertindak. Kemampuan psikomotorik yang berbasis pada potensi jasmani manusia dikembangkan untuk meningkatkan taraf hidup manusia. Manusia yang mampu berpikir, berperilaku, dan bertindak yang baik akan mampu menciptakan manusia andal, manusia yang tangguh, dan manusia yang andal, serta mampu bekerja sama dengan manusia lain untuk melangsungkan kehidupan. Memerdekakan dimulai dari hal tersebut.

1 komentar:

  1. As claimed by Stanford Medical, It is indeed the SINGLE reason women in this country get to live 10 years more and weigh 19 kilos less than us.

    (Just so you know, it is not about genetics or some secret-exercise and absolutely EVERYTHING to "how" they are eating.)

    P.S, What I said is "HOW", and not "WHAT"...

    CLICK this link to uncover if this quick quiz can help you find out your real weight loss possibility

    BalasHapus