10 Maret 2012

Jangan Susah

Suatu saat sekitar tahun 2004 saya pulang dari Malang, hari sabtu pagi, sampai di Kediri sekitar pukul 12.45, seperti biasa langsung tancap dolan ke rumah teman saya (dan sekarang pun, sampai kapan pun tetap teman saya, walau lain dunia). Ibarat di kata kalau ada saya pasti ada teman saya itu, dan sebaliknya, yang jelas saat di Kediri. Teman yang saling berbagi, mengingatkan, dan tetap mudah-2an dalam hal kebaikan. Saat itu memang saya ndak punya no dan po, ditambah perut juga luwe banget, tak empet (ditahan) memang. Mau makan apa coba? Tak punya no dan po? (Dan jangan salah arti, saya menulis ini bukan mengeluh, hanya mengenang dengan hati GEMBIRA)

Tapi saya tetap riang gembira, tak ada rasa susah, sedih, apalagi nangis. Di perjalanan dengan kereta pun senang melihat orang yang lalu lalang naik turun. Tetap fun yang penting. Di dalam hati sebenarnya pingin langsung saja minta traktiran ke teman saya itu, sebutlah RG githu teman saya, tapi ada rasa yang menahan: "ojo lah, mosok moro mung jaloh mangan". Tapi tak saya pungkiri memang dalam hati pingin ditraktir juga!!!

Lah dilalah sampai di rumahnya, lha kok pas teman saya itu pergi keluar rumah, saya ndak tahu ke mana, saat itu saya melihat teman saya itu naik sepeda. Di dalam saya berkata: Lah kiamat kon, RG nyang endi kae, ndak sido mangan iki, moncrot iki!! Di dalam hati berkata githu namun tetap guyu, tersenyum wae.

Akhire yo cuma cangkruk di rumahnya dengan orangtuane. Nasib!!! Seperti biasa canda tawa tetap ada, malah yang terkadang ditanya dari orangtuanya teman saya ini mesti ini: Piye cewek-2 Malang, ayu-2 ora? Ini juga jawaban langganan saya: Oalah Pak, masio ayu-2 ndak gelem cewek Malang kaleh kuloe, soale kulo mbladus!!

Saya pulang sekitar pukul 18.00, sudah maghrib. Jalan sambil guyu-2 sendiri, ndak jadi makan. Namun sekitar pukul 18.30 teman saya itu datang ke rumah saya. Mungkin sudah jadi naluri teman kali ya, ngerti kalo temane keluwen tenan (bukan berarti di rumah tak ada nasi yang makan yo, tapi memang saya semenjak di malang, malu rasanya makan ikut orang tua). Nah rejeki nomplok iki, makan juga akhire!!!! Sip enak tenan, seperti biasa, mie ayam depane pasar Kras, murah meriah. Terima kasih pren!!!

Semenjak itu, saya tambah sadar, teman baik ialah mau berbagi (bukan berarti berbagi makan wae), tapi sebuah spirit perjuangan. Satu hari tak makan (bukan puasa, hari sabtu pada waktu itu), saya tak merasa lapar. Senang malahan, hati senang, lapar tak terasa. SENANG kata kuncinya.

Terima kasih teman, mudah-mudahan Engkau BAHAGIA di sana, seperti aku di sini, BAHAGIA.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar