15 Agustus 2012

Kunci Mutu Pendidikan

Jika menelisik dunia pendidikan, awal yang terlintas di benak saya ialah: apakah benar pendidikan kita ini kurang maju dengan negara-2 lain? Banyak sudut pandang dan aspek yang dikaji untuk menjawab pertanyaan itu.

Saya mulai dengan dari diri sendiri. Pertanyaan pertama yang diajukan: Untuk apa saya sekolah? Ada banyak jawaban juga diajukan kepada peserta didik. Mulai dari: biar kerja mudah pasti menempati urutan teratas. Niatan oranga awal menentukan dalam bertindak. Namun niatan juga dapat berubah seiring dengan orang bergulat dengan ilmu pengetahuan. Apa kaitannya dengan niat sekolah dengan mutu? Setidaknya jika niatnya baik, maka orang cenderung untuk melakukan sesuatu hal, termasuk sekolah dengan baik pula, usaha bersungguh-sungguh. Mari menata niat masing-masing. Niat dan usaha memengaruhi keberhasilan seseorang, karena apa yang kita lakukan sekarang berdampak pada masa depan yang serba tak pasti.

Dari guru sendiri, saya punya tesis:
  1. Keberhasilan seorang peserta didik dipengaruhi oleh "tirakat" gurunya. Guru yang tirakatnya banyak, saya yakin peserta didiknya cenderung berhasil;
  2. Tak ada guru yang mengurangi nilai peserta didiknya. Kalau menambah nilai peserta didiknya, iya, pasti;
  3. Tak bakalan maju sebuah bangsa, yang tak menghargai para gurunya. Menghargai di sini cakupannya luas, mulai: apresiasi, pengakuan, penghormatan, dan materi. Terlepas dari sistem pemerintahan apa yang dianut suatu negara, jika negara itu maju, pendidikannya maju, begitu sebaliknya, hubungan resiprokal, dan pasti negara tersebut juga menghargai para gurunya. Mari kita semua tawadhu' pada guru kita.
Untuk itu jangan pernah menyakiti guru kita dengan perbuatan dan perkataan kita yang kurang baik.

Tak bakalan sukses seorang peserta didik, jika tak menghormati gurunya.

Itu tesis saya selanjutnya. Kita mungkin pernah mendengar: A itu dulu sekolahnya pintar, tapi kenapa ya sampai sekarang tetap belum kerja / mapan? Mungkin penyebabnya dulu ia pernah menyakiti gurunya!!!

Kalau lingkup lebih luas: Tak ada negara jadi miskin, lantaran mengalokasikan sebagian besar APBN-nya untuk pendidikan. Tak ada sejarahnya pula negara jadi miskin, karena mengalokasikan anggaran pendidikannya banyak. Jika lingkup kecil: saya pun belum menemukan sebuah keluarga yang mengalokasikan uang banyak untuk pendidikan, lantas jadi keluarga miskin. Sepanjang sekolahnya dilakukan dengan baik.

Kalau menyimak berita juga Indonesia prestasinya bagus: menang olimpiade di sana-sini.

Lantas dimana letak kesalahannya, sehingga pendidikan kita terpuruk?

Bangsa Indonesia bukan tak punya solusi untuk mengurai benang kusut masalah: korupsi, pungli di pendidikan. Indonesia bukan tak punya metode untuk menyelesaikan masalah. Tapi kita, mau atau tidak untuk sadar bahwa memang ada kesalahan disikap kita, mau atau tidak untuk berubah baik secara kontinu.

Mudah-2an bermanfaat.

Semoga sukses untuk semua. Salam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar