06 Januari 2014

Meningkatkan Mutu Pendidikan

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang sangat besar. Kita adalah Garuda. Sebagai sebuah bangsa tentunya kita tidak terlepas dari masalah dan tantangan masa depan. Salah satu komponen yang patut diperkuat tentunya ialah pendidikan. Pendidikan bangsa ini harus terus ditingkatkan agar sumber daya manusia Indonesia memiliki daya saing tinggi. Guna meningkatkan mutu pendidikan, kita dapat membaca dan mengetahui dari berbagai literatur, banyak sekali komponen-komponen pendidikan yang harus dibenahi. Mulai dari yang bersifat hardware dan software. Berbagai komponen tersebut memiliki kontribusi guna meningkatkan mutu pendidikan.

Ada 3 komponen yang harus diperhatikan guna meningkatkan mutu pendidikan, yakni: (1) manajemen lembaga pendidikan; (2) anggaran pendidikan; dan (3) bimbingan dan konseling bagi semua peserta didik.

Ketika kita membahas manajemen lembaga pendidikan, tentunya kita ingat akan fungsi manajemen, mulai dari planning, organizing, actuating, dan controling (pendapatnya Pak Terry). Fungsi-fungsi tersebut harus kuat dalam segala aspek. Ditambah dengan rumusan strategi sekolah, dapat dipastikan sekolah memiliki arah yang jelas untuk maju.

Anggaran merupakan "darah" sebuah organisasi. Anggaran merupakan komponen yang dapat menimbulkan ketidakpuasan dalam bekerja (menurut Teori Motivasi Dua Faktor Pak Herzberg). Anggaran harus dikelola secara efektif dan efisien. Bukan masalah berapa besarnya anggaran, tetapi bagaimana penggunaan anggaran itu tepat sasaran dan hemat.

Ada keterkaitan antara manajemen lembaga pendidikan dan anggaran guna meningkatkan mutu pendidikan. Kedua komponen tersebut saling mendukung. Ada 5 komponen untuk mengubah organisasi agar dapat meningkatkan mutu (pendapatnya Pak Kasali). Jika diilustrasikan seperti nampak pada gambar-gambar di bawah ini.



Jelas bahwa untuk melakukan perubahan memerlukan 5 hal: vision, skills, incentives, resources, dan action plans.




Mengelola organisasi jika tanpa ada vision yang jelas maka akan menimbulkan kekacauan.




Mengelola organisasi jika tanpa memiliki skills yang mumpuni maka akan menimbulkan kecemasan.



Mengelola organisasi jika tanpa ada incentives yang memadahi maka akan menimbulkan penolakan.



Mengelola organisasi jika tanpa ada resources yang mumpuni maka akan menimbulkan frustrasi.



Mengelola organisasi jika tanpa ada action plans yang jelas maka akan menimbulkan kegagalan.


Peserta didik merupakan insan yang menjadi subjek dan objek pendidikan. Pendidikan dikatakan bermutu jika peserta didiknya bermutu. Peserta didik yang bermutu memiliki karakter, sikap, dan intelektual yang kuat. Jika diilustrasikan seperti pada gambar di bawah ini.


Bimbingan dan konseling (BK) merupakan komponen yang memengaruhi cara perkembangan peserta didik. Semua peserta didik tanpa kecuali mendapatkan salah satu unsur manajemen layanan khusus ini: bimbingan dan konseling. Peserta didik yang pintar juga diberi BK, yang sedang juga diberi BK, yang kurang pintar juga diberi BK, yang tidak nakal juga diberi BK, yang sedang-sedang nakalnya juga diberi BK, yang nakal juga diberi BK. Sehingga semua peserta didik akan terarah.

Mudah-mudahan bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar