11 Juli 2016

LANDASAN SOSIAL PENDIDIKAN

Pendidikan dalam penyelenggaraannya juga berlandaskan pada landasan sosial. Landasan sosial pendidikan menekankan pada pendidikan dalam prosesnya memperhatikan kondisi dan proses sosial yang terjadi di suatu masyarakat ataupun sebuah bangsa. Kondisi sosial suatu masyarakat akan mempengaruhi penyelenggaraan bidang pendidikan, seperti proses pembelajaran, pengembangan kurikulum, dan pola kerjasama sekolah dengan masyarakat. Landasan sosial pendidikan mencakup kekuatan sosial masyarakat yang selalu berkembang dan berubah sesuai dengan perkembangan jaman. Kekuatan tersebut dapat berupa kekuatan nyata dan potensial yang berpengaruh dalam perkembangan pendidikan dan sosial budaya seiring dengan dinamika masyarakat.
Dasar sosial pendidikan mengkaji kondisi sosial dan pendidikan berdasarkan prinsip pemecahan masalah secara ilmiah dan berdasarkan nilai demokrasi. Kajian sosial pendidikan mengkombinasikan konsep, instrumen, dan metode dari ilmu sosial dan filsafat untuk membentuk kajian terpadu tentang asal usul, tujuan, dan fungsi lembaga pendidikan dalam suatu masyarakat. Manan (1989:5) mengemukakan sebuah program pendidikan mencerminkan kehidupan dan kondisi suatu masyarakat dan tidak dapat dipisahkan dari aspek sosial budaya, sejarah, dan filosofi yang semuanya memberi arah dalam bidang pendidikan. Kajian mengenai dasar sosial dan budaya dari pendidikan bertujuan untuk membekali guru dengan pengetahuan yang mendalam tentang masyarakat dan kebudayaan di mana mereka hidup dan untuk membantu calon guru untuk mengetahui bahwa pengertian mengenai masyarakat dan kebudayaan sangat penting artinya guna memahami tentang masalah pendidikan.
Kajian sosial budaya menghubungkan pengetahuan tentang masyarakat dan kebudayaan dengan pendidikan sebagai institusi untuk memelihara kesinambungan dan pengembangan masyarakat dan kebudayaan. Sekolah harus memahami isu dan masalah sosial budaya dalam masyarakat terutama yang berkaitan dengan perubahan sosial budaya yakni modernisasi. Pemahaman tentang sosial budaya dan proses perubahan sosial budaya diharapkan sekolah dapat mempertahankan dan meningkatkan fungsinya sebagai agent of change dan membentuk generasi yang berkualitas. Suatu masyarakat dibentuk oleh orang-orang, cara-cara mereka bertingkah laku merupakan kebudayaan mereka.
Karena konsep masyarakat dan kebudayaan tersebut bersifat interdependen, maka dalam konsep sosial budaya digunakan dalam mengkaji kedudukan pendidikan dalam masyarakat. Hubungan antara pendidikan dan kehidupan sosial budaya suatu masyarakat dan isu-isu yang muncul dalam perkembangan pendidikan dan pembangunan suatu masyarakat. Kajian konsep sosial budaya akan terfokus pada pembahasan: (1) karakteristik sosial budaya; (2) transmisi sosial budaya; dan (3) hubungan sosial budaya dengan pendidikan. Berikut ini akan diuraikan ketiga hal tersebut.
1.        Karakteristik Sosial Budaya Pendidikan
Potensi yang dimiliki manusia yaitu otak mampu menghasilkan kebudayaan, hasil dari potensi yang tercermin dari berbagai hasil manusia merupakan sumber pembentukan kebudayaan. Kebudayaan merupakan pengalaman universal manusia, manifestasi lokal dan regionalnya bersifat unik. Sosial budaya bersifat dinamis tetapi juga bersifat dinamis, dengan adanya perubahan terus menerus dan tetap. Koentjaraningrat (1974) mengemukakan bahwa kebudayaan memiliki unsur-unsur yang universal yaitu bahasa, sistem teknologi, sistem ekonomi, organisasi sosial, sistem pengetahuan, sistem religi, dan sistem kesenian. Bentuk manifestasi dari unsur-unsur sosial budaya berbagai masyarakat bersifat unik.
Semua masyarakat memiliki unsur budaya bahasa tetapi tidak ada dua bahasa yang identik sama. Masing-masing kebudayaan memiliki kekerabatan dan persamaan tetapi tidak identik. Keragaman atau keunikan dari unsur-unsur sosial budaya terbentuk karena adanya keragaman lingkungan dan sejarah perkembangan suatu masyarakat. Kebudayaan bersifat stabil dan dinamis. Unsur-unsur sosial budaya biasanya bertahan dan stabil untuk suatu periode waktu tertentu, tetapi kontak budaya dan perubahan lingkungan mempengaruhi terjadinya perubahan budaya (enkulturasi dan akulturasi). Pendidikan memegang peranan penting dalam perubahan sosial budaya manusia. Sosial budaya membentuk karakter suatu masyarakat.
Berdasarkan kajian tentang sosial budaya, Murdock (2015) mengidentifikasi karakteristik kebudayaan yang bersifat universal, yaitu: (1) kebudayaan dipelajari dan bukan bersifat insting, karena itu kebudayaan tidak dapat diselidiki asal usulnya dari gen atau kromosom; (2) kebudayaan ditanamkan, generasi baru tidak memiliki pilhan tentang kurikulum kebudayaan, hanya manusia yang dapat menyampaikan warisan sosialnya dan generasi berikutnya dapat menyerap dan mengembangkan; (3) kebudayaan bersifat sosial dan dimiliki bersama oleh manusia dalam berbagai masyarakat yang terorganisasi; (4) kebudayaan bersifat gagasan, kebiasaan-kebiasaan kelompok dikonsepsikan atau diungkapkan sebagai norma-norma ideal atau pola perilaku; (5) kebudayaan sampai pada satu tingkat memuaskan individu dan kebutuhan kelompok sosial secara budaya dapat didefinisikan; dan (6) kebudayaan bersifat integratif, selalu ada tekanan ke arah konsistensi dalam setiap kebudayaan, jika tidak maka konflik akan cepat menghancurkannya. Kebudayaan yang terintegrasi dengan baik memiliki kepaduan sosial (social cohesion) di antara institusi dan kelompok sosial yang mendukung kebudayaan tersebut.
Konsep budaya multikultural merupakan suatu ideologi yang mengkaji perbedaan budaya, mengakui, dan mendorong pluralisme budaya sebagai suatu corak kehidupan masyarakat (Zubaedi, 2005:61). Multikultural akan menjadi pemersatu yang mengakomodasi perbedaan dalam masyarakat yang heterogen. Antar individu hidup berdampingan dalam kesetaran derajat politik, hukum, ekonomi, sosial, dan budaya. Prinsip multikultural dapat dijadikan sebagai strategi dan pendekatan dalam pengembangan kurikulum karena disesuaikan dengan kondisi budaya daerah. Relevansi antara kurikulum dan sosial budaya dijadikan pedoman dalam penyusun kurikulum sehingga pelaksanaannya diharapkan dapat mengembangkan potensi peserta didik dan potensi daerah.
Kebudayan bersifat stabil tetapi dapat berubah, perubahan diukur dari elemen yang relatif stabil dan stabilitas diukur dari elemen budaya yang berubah dengan cepat. Beberapa kebudayaan bersifat fleksibel dari yang lain, menyesuaikan diri terhadap perubahan yang cepat tanpa mengalami disintegrasi. Beberapa aspek kebudayaan relatif lebih reseptif terhadap perubahan dibandingkan dengan aspek yang lain. Teknologi berubah dengan cepat dibandingkan dengan nilai-nilai, namun demikian tidak ada nilai dan ideologi yang secara keseluruhan tetap bersifat statis.

2.        Transmisi Sosial Budaya Pendidikan
Kajian sosial budaya pendidikan dari masa ke masa mengalami perubahan secara terminologis (peristilahan). Istilah tersebut mencakup enkulturasi (pembudayaan), sosialisasi (pemasyarakatan), pendidikan, dan sekolahan. Istilah tersebut sangat penting dikaji dalam pendidikan karena berguna untuk menjelaskan gejala yang terjadi dalam bidang pendidikan. Herskovits (1964) mengemukakan bahwa enkulturasi dan sosialisasi memiliku hakikat yang sama, aspek-aspek dari pengalaman belajar yang memberi ciri khusus atau yang membedakan manusia dari makhluk lain, dan dengan menggunakan pengalaman kehidupan maka manusia memperoleh kompetensi dalam kebudayaannya.
Enkulturasi merupakan proses pembiasaan secara sadar atau tidak sadar yang dilakukan dalam batas yang dijinkan secara norma oleh suatu kebudayaan. Proses enkulturasi bersifat kompleks dan berlangsung seumur hidup dan tiap tahap kehidupan memiliki perbedaan dalam hal objek budaya yang dialami. Fungsi enkulturasi adalah mempengaruhi perubahan respons individu terhadap perilaku budaya yang secara sosial disetujui sehingga menghasilkan tingkah laku kehidupan yang berbudaya. Tiap individu memiliki serangkaian mekanisme perilaku yang diwarisi dan dapat berubah karena pengaruh budaya masyarakat. Perilaku individu dipengaruhi oleh sosial budaya masyarakatnya.
Kesamaan konsep enkulturasi dengan konsep sosial tercermin pada sosialisasi menunjukkan proses pengintegrasian individu ke dalam sebuah kelompok sosial sedangkan enkulturasi adalah proses yang menyebabkan individu memperoleh kompetensi dalam kebudayaan kelompok. Enkulturasi dan sosialisasi mengandung unsur nilai, pola bertingkah laku, dan keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang diperlukan oleh individu untuk dapat berfungsi sebagai anggota suatu masyarakat yang mendukung kebudayaan. Hansen (1979:28-29) mengemukakan education is part from enkulturasi that is intentional effort and has systematic to submit know-how and erudition, habit thinks, and comport that demanded must has by students. Pendidikan merupakan bagian dari enkulturasi yaitu usaha yang disengaja dan bersifat sistematis untuk menyampaikan keterampilan dan pengetahuan, kebiasaan berpikir, dan bertingkah laku yang dituntut harus dimiliki oleh para peserta didik.
Pendidikan mengandung unsur pembelajaran dan kebudayaan diwariskan, dipelajari, dan dikembangkan dengan belajar. Lembaga pendidikan merupakan institusi yang secara sengaja dan sistematis melaksanakan kegiatan belajar dengan berusaha mewariskan dan mengembangan individu sebagai peserta didik dengan tujuan memiliki pengetahuan, bermoral, dan berketerampilan. Berbagai saluran pendidikan digunakan dalam proses transmisi budaya mulai dari keluarga, sekolah, teman sepermainan, media massa, dan lingkungan secara efektif dan efisien untuk menyampaikan, melestarikan, dan mengembangkan kebudayaan.

3.        Hubungan Sosial Budaya dengan Pendidikan
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I pasal 1 ayat 2 menyatakan bahwa pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia, dan tanggap terhadap tuntutan zaman. Sehingga di dalam penentuan tujuan dan proses pelaksanaannya, pendidikan di Indonesia harus selalu berakar pada budaya atau karakter nasional dan disisi lain pendidikan juga harus mampu memenuhi tuntutan jaman, apalagi di era globalisasi yang menuntut high skilled labor (tenaga berketerampilan tinggi) yang bisa diterima oleh pasar global. Oleh karena itu, orientasi pendidikan harus selalu merujuk pada dua hal penting yaitu melestarikan karakter nasional dan menciptakan lulusan yang dapat bersaing secara kompetitif di pasar global atau mencetak manusia yang bertindak lokal dan berpikir global.
Peran sekolah adalah sebagai pewaris, pemelihara, dan pembaharu kebudayaan. Kartono (1977) menyatakan bahwa sekolah hendaknya dapat dijadikan sebagai: (1) sentrum budaya untuk mengoperkan nilai dan benda budaya sendiri agar budaya nasional tidak hilang ditelan masa; (2) arena untuk mengumpulkan ilmu pengetahuan modern, teknik dan pengalaman; dan (3) bengkel latihan untuk mempraktikkan hak asasi manusia selaku warga negara yang bebas ditengah iklim demokrasi. Sekolah memiliki tugas mewariskan, memelihara, dan mengembangkan budaya yang tercermin dalam kurikulum. Archie (2008) berpendapat:
Teachers working with students need increased awareness that different cultures interpret important concepts differently. The teacher trained on concepts of cultural centers is more prepared to stimulate learning among her students; she is aware of another reality and armed with a tool to employ a more multicultural approach to learning. The multicultural movement affirms a need for more culturally consistent models of education.

Guru bekerja sama dengan peserta didik meningkat kesadaran dengan menterjemahkan konsep budaya dengan cara berbeda. Guru mengarahkan ke konsep pusat kebudayaan dengan mempersiapkan dan motivasi belajar diantara peserta didik untuk sadar akan kenyataan dan berbekal belajar sebagai alat mendekati dunia kerja. Pergerakan multikultural meyakinkan bidang pendidikan sebagai suatu kebutuhan dengan model budaya yang konsisten. Mangunwijaya menyatakan bahwa proses pendidikan memiliki dua aspek yang saling mengisi, yaitu sebagai proses hominisasi dan proses humanisasi (Tilaar, 2004).
Pendidikan harus memiliki paradigma baru yang dapat menyajikan model dan strategi pembelajaran sehingga diharapkan dapat menyeimbangkan proses hominisasi dan humanisasi. Proses hominisasi melihat manusia sebagai makhluk hidup dalam konteks lingkungan ekologinya yang memerlukan terasahnya kemampuan intelektual untuk menghadapi tantangan globalisasi. Proses humanisasi menekankan manusia sebagai mahluk sosial yang mempunyai otonomi moral dan sensitivitas (kedaulatan budaya). Terkait dengan hubungan sosial budaya dengan pendidikan, ada dua konsep yang dipahami, yakni proses hominisasi dan proses humanisasi. Berikut ini akan diuraikan kedua konsep tersebut.
a.         Hominisasi
Pendidikan sebagai proses hominisasi melihat manusia sebagai mahluk hidup di dalam dunia dan ekologinya. Proses hominisasi tersebut manusia memerlukan kebutuhan biologis seperti makan, beranak pinak, memerlukan pemukiman, dan pekerjaan untuk menopang kehidupan. Proses hominisasi memenuhi kebutuhan manusia sebagai mahluk biologis. Pendidikan harus mampu menghasilkan output kompetitif yang mampu bersaing untuk mendapatkan pekerjaan dalam menopang kehidupannya yang lebih baik secara ekonomis dan sosial. Pendidikan harus memiliki orientasi intelektual yang dibutuhkan manusia untuk bersaing secara kompetitif sehingga mereka dapat diterima pasar, terlebih dalam era global yang lebih berasaskan knowledge based economy.
b.        Humanisasi
Pendidikan melihat manusia sebagai mahluk yang bermoral (human being). Mahluk yang bermoral berarti bahwa manusia bukan hanya sekedar hidup tetapi hidup untuk mewujudkan eksistensi, yaitu bahwa manusia hidup bersama-sama dengan sesama manusia sebagai ciptaan Yang Maha Kuasa. Proses humanisasi tingkah laku manusia diarahkan kepada nilai-nilai kehidupan yang vertikal di dalam kenyataan hidup bersama dengan manusia lain. Nilai-nilai luhur tersebut, apakah diwahyukan ataupun yang dipelihara di dalam kehidupan bersama manusia karena disepakati, dapat mengikat kehidupan bersama nenuju suatu cita-cita bersama, yaitu kehidupan yang lebih baik, lebih tenteram, dan berkeadilan. Hal-hal tersebut dijalin dan terjalin di dalam nilai-nilai kebudayaan suatu masyarakat atau suatu kelompok hidup bersama manusia. Proses humanisasi mencapai puncaknya pada seseorang yang berpendidikan dan berbudaya (educated and civilized human being).

DAFTAR RUJUKAN

Ahmad, K. I. 2 Juni 2006. Pendidikan Anak. Banjarmasin Post, hlm. 6.

Ahmadi, A. 2014. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Archie, M. 2008. Theories of Cultural Centeredness: Multiculturalism and Realities, (Online), (http://www.carleton.ca), diakses 10 Oktober 2008.

Bellantine, J. H. 2015. The Sociology of Education. New Jersey: Printice Hall, Inc.

Berger, P. L. 2015. Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan. Terjemahan oleh Hartono. Jakarta: Penerbit Pustaka LP3ES Indonesia.

Brown, F. J. 2010. Educational Sociology. Tokyo: Modern Asia Education, Charles E. Tutle Company.

Danim, S. 2003. Agenda Pembaharuan Sistem Pendididikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Dewey, J. 2001. Democracy and Education. Pennsylvania: Pennsylvania State University.

Ellwood, C. A. 2014. Sociology: Principles and Problems. New York: American Book Company.

Hansen, J. F. 1979. Socio Cultural Perspektive on Learning. Englewood Cliffs: Prentice Hall.

Herskovits, M. J. 1964. Cultural Dynamics. New York: Alped A Kopf.

Horton, P. B., dan Hunt, C. L. 1999. Sosiologi. Jakarta: PT Erlangga.

Johnson, H. M. 1967. Sociology: A Systematic Introduction. Bombay: Allied Publishers Private Limited.

Kamus Bahasa Indonesia. 2008. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Karsidi, R. 2015. Sosiologi Pendidikan. Surakarta: UNS Press.

Kartono, K. 1977. Tinjauan Holistik Mengenai Tujuan Pendidikan Nasional. Jakarta: Pradnya Paramita.

Koentjaraningrat. 1974. Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.

Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Langeveld, M. J. 1961. Menuju ke Pemikiran Filsafat. Jakarta: PT Pembangunan.

Manan, I. 1989. Dasar-dasar Sosial Budaya Pendidikan. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud.

Murdock, G. P. 2015. How Culture Changes. New York: Mc Graw Hill.

Oliva, P. F. 2009. Developing the Curriculum. Boston: Pearson Education, Inc.

Payne, E. G. 2013. Principles of Educational Sociology. New York: New York University Book Store.

Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, (Online), (http://www.kemdikbud), diakses 2 Desember 2015.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, (Online), (http://www.kemdikbud), diakses 20 April 2006.

Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, (Online), (http://www.kemdikbud), diakses 23 Oktober 2014.

Pidarta, M. 2009. Landasan Kependidikan: Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Ramey, D. M. 2015. The Social Structure of Criminalized and Medicalized School Discipline. Sociology of Education, 88(3): 181-201.

Reiss, A. J. Jr. 2016. Personal and Social Controls and Delinquency. Beverly Hills, CA and London: Sage Publications.

Reuter, E. B. 2011. Handbook of Sociology. New York: The Dryden Press.

Sanderson, S. K. 2014. Sosiologi Makro: Sebuah Pendekatan terhadap Realitas Sosial. Terjemahan oleh Farid Wajidi. Jakarta: Rajawali Pers.

Sanjaya, S., dan Sudarwati, L. 2015. Modal Sosial Sistem Bagi Hasil dalam Beternak Sapi pada Masyarakat Desa Purwosari Atas Kecamatan Dolok Batu Nanggar Kabupaten Simalungun: Studi Kasus Sistem Gaduh Sapi pada Masyarakat Desa Purwosari Atas Kecamatan Dolok Batu Nanggar Kabupaten Simalungun. Perspektif Sosiologi, 3(1): 1-32.

Soebahar, A. H. 2002. Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.

Sorokin, P. A. 1989. Contemporary Sociological Theories. New York: Harper and Row Publisher.

Soemardjan, S., dan Soemardi, S. 1974. Setangkai Bunga Sosiologi. Jakarta: Yayasan Badan Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Sukardi, J. S., dan Rohman, A. 2009. Sosiologi. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Suyatno. 2010. Peran Pendidikan sebagai Modal Utama Membangun Karakter Bangsa. Makalah disajikan dalam Sarasehan Nasional Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, Kopertis Wilayah III DKI Jakarta, Jakarta, 12 Januari.

Taneko, S. B. 2015. Struktur dan Proses Sosial: Suatu Pengantar Sosiologi Pembangunan. Jakarta: Rajawali Pers.

Tilaar, A. R. 2004. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: Rineka Cipta.

Tirtarahardja, U., dan Sulo, S. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2004. Bandung: Citra Umbara.

Veeger, J. K. 2013. Pengantar Sosiologi: Buku Panduan Mahasiswa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Zubaedi. 2005. Pendidikan Berbasis Sekolah: Upaya Menawarkan Solusi terhadap Berbagai Problem Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar