10 April 2010

Konsep Penyesuaian Diri

Makna akhir dari hasil pendidikan seseorang individu terletak pada sejauhmana hal yang telah dipelajari dpat membantunya dalam menyesuaikan diri dengan kebutuhan-kebutuhan hidupnya dan pada tuntutan masyarakat. Sejak lahir sampai meninggal seorang individu merupakan organisme yang aktif dengan tujuan aktivitas yang berkesinambungan. Ia berusaha untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan jasmaninya dan juga semua dorongan yang memberi peluang kepadanya untuk berfungsi sebagai anggota kelompoknya, penyesuaian diri secara harmonis, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungannya.

  1. Konsep Penyesuaian Diri

Penyesuaian dapat diartikan atau dideskripsikan sebagai adaptasi dapat mempertahankan eksistensinya atau bisa survive dan memperoleh kesejahteraan jasmaniah dan rohaniah, dan dapat mengadakan relasi yang memuaskan dengan tuntutan sosial. Penyesuaian dapat juga diartikan sebagai konformitas, yang berarti menyesuaikan sesuatu dengan standar atau prinsip. Penyesuaian sebagai penguasaan, yaitu memiliki kemampuan untuk membuat rencana dan mengorganisasi respons-respons sedemikian rupa, sehingga bisa mengatasi segala macam konflik, kesulitan, dan frustrasi-frustrasi secara efisien.

Individu memiliki kemampuan menghadapi realitas hidup dengan cara yang memenuhi syarat. Penyesuaian sebagai penguasaan dan kematangan emosional. Kematangan emosional maksudnya ialah secara positif memiliki responss emosional yang tepat pada setiap situasi. Disimpulkan bahwa penyesuaian adalah usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan pada lingkungannya.

  1. Proses Penyesuaian Diri

Penyesuaian diri adalah proses bagaimana individu mencapai keseimbangan diri dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan lingkungan. Seperti kita ketahui bahwa penyesuaian yang sempurna tidak pernah tercapai. Penyesuaian yang terjadi jika manusia/individu selalu dalam keadaan seimbang antara dirnya dengan lingkungannya dimana tidak ada lagi kebutuhan yang tidak terpenuhi, dan dimana semua fungsi organisme/individu berjalan normal. Sekali lagi, bahwa penyesuaian yang sempurna itu tidak pernah dapat dicapai. Karena itu penyesuaian diri lebih bersifat sutau proses sepanjang hayat (lifelong process), dan tantangan hidup guna mencapai pribadi yang sehat.

Respons penyesuaian, baik atau buruk, secara sederhana dapat dipandang sebagai sutau upaya individu untuk mereduksi atau menjauhi ketegangan dan untuk memelihara kondisi-kondisi keseimbangan sutau proses kearah hubungan yang harmonis antara tuntutan internal dan tuntutan eksternal. Dalam proses penyesuaian diri dapat saja muncul konflik, tekanan, dan frustasi dan individu didorong meneliti berbagai kemungkinan perilaku untuk membebaskan diri dari tegangan. Individu dikatakan berhasil dalam melakukan penyesuaian diri apabila ia dapat memenuhi kebutuhannya dengan cara-cara yang wajar atau apabila dapat diterima oleh lingkungan tanpa merugikan atau mengganggu lingkungannya.

  1. Karakteristik Penyesuaian Diri

Tidak selamanya individu berhasil dalam melakukan penyesuaian diri, karen kadang-kadang ada rintangan-rintangan tertentu yang menyebabkan tidak berhasil melakukan penyesuaian diri. Rintangan-rintangan itu mungkin terdapat dalam dirinya atau mungkin diluar dirinya. Dalam hubungannya dengan rintangan-rintangan tersebut ada individu-individu yang dapat melakukan penyesuaian diri secara positif, namun adapula individu-individu yang melakukan penyesuaian diri yang salah. Berikut ini akan ditinjau karakteristik penyesuaian diri yang positif dan penyesuaian diri yang salah.

    1. Penyesuaian Diri secara Positif

Mereka yang tergolong mampu melakukan penyesuaian diri secara positif ditandai hal-hal sebagai berikut :

      1. Tidak menunjukkan adanya ketegangan emosional,

      2. Tidak menunjukkan adanya mekanisme-mekanisme psikologis,

      3. Tidak menunjukkan adanya frustasi pribadi,

      4. Memiliki pertimbangan rasional dan pengarahan diri,

      5. Mampu dalam belajar,

      6. Menghargai pengalaman,

      7. Bersikap realistik dan objektif.

Melakukan penyesuaian diri secara positif, individu akan melakukan dalam berbagai bentuk, antara lain:

  1. Penyesuaian dengan menghadapi masalah secara langsung,

  2. Penyesuaian dengan melakukan eksplorasi (penjelajahan),

  3. Penyesuaian dengan trial and error atau coba-coba,

  4. Penyesuaian dengan substansi (mencari pengganti),

  5. Penyesuaian diri dengan menggali kemampuan diri,

  6. Penyesuaian dengan belajar,

  7. Penyesuaian dengan inhibis dan pengendalian diri,

  8. Penyesuaian dengan perencanaan yang cermat.


    1. Penyesuaian Diri yang Salah

Ada tiga bentuk reaksi dalam penyesuaian yang salah, yaitu:

  1. Reaksi Bertahan

Individu berusaha untuk mempertahankan dirinya, seolah-olah tidak menghadapi kegagalan, ia selalu berusaha untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak mengalami kegagalan. Bentuk khusus reaksi ini antara lain:

      • Rasionalisasi,

      • Represi,

      • Proyeksi,

  1. Reaksi menyerang

Reaksi-reaksinya tampak dalam tingkah laku:

      • Selalu membenarkan diri sendiri,

      • Mau berkuasa dalam setiap situasi,

      • Bersikap senang mengganggu orang lain,

      • Menggertak baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan,

      • Menunjukkan sikap permusuhan secara terbuka,

      • Menunjukkan sikap menyerang dan merusak,

      • Keras kepala dalam perbuatannya,

      • Bersikap balas dendam,

      • Memperkosa hak orang lain,

      • Tindakan yang serampangan,

      • Marah secara sadis.

  1. Reaksi Melarikan Diri

Reaksi ini orang yang mempunyai penyesuaian diri yang salah akan melarikan diri dari situasi yang menimbulkan kegagalan, reaksinya tampak dalam tingkah laku sebagai berikut : berfantasi yaitu memuaskan keinginan yang tidak tercapai dalam bentuk angan-angan (seolah-olah sudah tercapai), banyak tidur, minum-minuman keras, bunuh diri, menjadi pecandu ganja, narkotika dan regresi, yaitu kembali kepada tingkah laku yang semodel dengan tingkat perkembangan yang lebih awal (misal orang dewasa yang bersikap dan berwatak seperti anak kecil).

  1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Penyesuaian Diri

Secara keseluruhan kepribadian mempunyai fungsi sebagai penentu primer terhadap penyesuaian diri. Penentu berarti faktor yang mendukung, mempengaruhi, atau menimbulkan efek pada proses penyesuaian. Secara sekunder proses penyesuaian ditentukan oleh faktor-faktor yang menentukan kepribadian itu sendiri baik internal maupun eksternal. Penentu penyesuaian identik dengan faktor-faktor yang mengatur perkembangan dan terbentuknya pribadi secara bertahap.

Penentu-penentu itu dapat dikelompokkan sebagai berikut:

      • Kondisi-kondisi fisik, termasuk didalamnya keturunan, konstitusi fisik, susunan saraf, kelenjar, dan sistem otot, kesehatan, dan penyakit,

      • Perkembangan dan kematangan, khususnya kematangan intelektual, sosial, moral, dan emosional,

      • Penentu psikologis, termasuk didalamnya pengalaman, belajarnya, pengkondisian, penentu diri (self-determination), frustrasi, dan konflik,

      • Kondisi lingkungan, khususnya keluarga dan sekolah.

      • Penentu kultural, termasuk agama.

Pemahaman tentang faktor-faktor ini dan bagaimana fungsinya dalam penyesuaian merupakan syarat untuk memahami proses penyesuaian, karena penyesuaian tumbuh dari hubungan-hubungan antara faktor-faktor ini dan tuntutan individu.


  1. Kondisi Jasmaniah

Kondisi jasmaniah seperti pembawa dan strukrur / konstitusi fisik dan temperamen sebagai disposisi yang diwariskan, aspek perkembanganya secara intrinsik berkaitan erat dengan susunan atau konstitusi tubuh. Shekdon mengemukakan bahwa terdapat kolerasi yang tinggi antara tipe-tipe bentuk tubuh dan tipe-tipe tempramen (Surya, 1977). Misalnya orang yang tergolong ekstomorf yaitu yang ototnya lemah, tubuhnya rapuh, ditandai dengan sifat-sifat menahan diri, segan dalam aktivitas sosial, dan pemilu.

Karena struktur jasmaniah merupakan kondisi primer bagi tingkah laku maka dapat diperkirakan bahwa sistem saraf, kelenjar, dan otot merupakan faktor yang penting bagi proses penyesuaian diri. Beberapa penelitian menunjukan bahwa gangguan dalam sisitem saraf, kelenjar, dan otot dapat menimbulkan gejala-gejala gangguan mental, tingkah laku, dan kepribadian. Dengan demikian, kondisi sistem tubuh yang baik merupakan syaraf bagi tercapainya proses penyesuaian diri yang baik.

Disamping itu, kesehatan dan penyakit jasmaniah juga berhubungan dengan penyesuaian diri, kualitas penyesuaian diri yang baik hanya dapat diperoleh dan dipelihara dalam kondisi kesehatan jasmaniah yang baik pula. Ini berarti bahwa gangguan penyakit jasmaniah yang diderita oleh seseorang akan mengganggu proses penyesuaian dirinya.


  1. Perkembangan, Kematangan, dan Penyesuaian diri

Respons anak pada proses perkembangan, berkembang dari respons yang bersifat instinkif menjadi respons yang diperoleh melalui belajar dan pengalaman. Dengan bertambahnya usia perubahan dan perkembangan respons, tidak hanya melalui proses belajar saja melainkan anak juga menjadi matang untuk melakukan respons dan ini menentukan pola-pola penyesuaian dirinya. Sesuai dengan hukum perkembangan, tingkat kematangan berbeda antara individu yang satu dengan lainnya, sehingga pencapaian pola-pola penyesuaian diri pun berbeda pula secara individual. Dengan kata lain, pola penyesuaian diri akan bervariasi susuai dengan tingkat perkembangan dan kematangan yang dicapainya dalam fase tertentu salah satu aspek mungkin lebih penting dari aspek lainnya. Misalnya pertumbuhan moral lebih penting dari pada kematangan sosial, dan kematangan emosional merupakan yang terpenting dalam penyesuaian diri.


  1. Penentu Psikologis pada Penyesuaian Diri

Banyak sekali faktor psikologis yang mempengaruhi penyesuai diri, diantaranya adalah pengalaman, belajar, kebutuhan-kebutuhan, determinasi diri, dan frustrasi.

  1. Pengalaman

Tidak semua pengalaman mempunyai arti bagi penyesuaian diri. Pengalaman-pengalaman tertentu yang memiliki arti dalam penyesuaian diri adalah pengalaman menyenangkan dan pengalaman traumatik (menyusahkan). Pengalaman yang menyenangkan misalnya mendapatkan hadiah dalam satu kegiatan, cenderung akan menimbulkan proses penyesuaian diri yang baik, dan sebaliknya pengalaman traumatik akan menimbulkan penyesuaian yang kurang baik atau mungkin salah suai.

Proses belajar merupakan suatu dasar yang fundamental dalam penyesuaian diri, karena melalui belajar ini akan berkembang pola-pola respons yang akan membentuk kepribadian. Sebagian besar respons-respons dan ciri-ciri kepribadian lebih banyak yang diperoleh dari proses belajar dari pada secara diwariskan. Dalam proses penyesuaian diri merupakan suatu proses modifikasi tingkah laku sejak fase-fase awal dan berlangsung terus sepanjang hayatdan diperkuat dengan kematangan.

  1. Determinasi diri

Determinasi ini mempunyai peranan penting dalam proses penyesuaian diri karena mempunyai peranan dalam pengendalian arah dan pola penyesuaian diri. Keberhasilan atau kegagalan penyesuaian diri akan banyak ditentukan oleh kemampuan individu dalam mengarahkan dan mengendalikan dirinya. Meskipun sebetulnya situasi dan kondisi tidak menguntungkan bagi penyesuaian dirinya.

  1. Konflik dan penyesuaian

Tanpa memperhatikan tipe-tipe konflik, mekanisme konflik secara esensial sama yaitu pertentangan antara motif-motif. Efek konflik pada prilaku akan bergantung sebagian ada sifat konflik itu sendiri. Ada beberapa pandangan bahwa bahwa semua konflik bersifat menggangu atau merugikan. Namun dalam kenyataan ada juga seseorang yang mempunyai banyak konflik tanpa hasil-hasil yang merusak atau merugikan. Sebenarnya ada beberapa konflik dapat bermanfaat memotivasi seseorang untuk meningkatkan kegiatan. Cara seseorang mengatasi konfliknya dengan meningkatkan usaha kearah pencapaian tujuan yang menguntungkan secara sosial. Atau mungkin sebalikuya ia memecahkan konflik dengan melarikan diri, khususnya ke dalam gejala-gejala neurotis.


  1. Lingkungan sebagai Penentu Penyesuaian Diri

Berbagai lingkungan anak seperti keluarga dan pola hubungan didalamnya, sekolah, masyarakat, kultur, dan agama berpengaruh terhadap penyesuaian diri anak.

  1. Pengaruh rumah dan keluarga

Dari sekian banyak faktor yang mengkondisikan penyesuaian diri. Faktor rumah dan keluarga merupakan faktor yang sangat penting. Kerena keluarga merupakan satuan kelompok sosial terkecil. Interaksi sosial yang pertama diperoleh individu adalah dalam keluarga. Kemampuan interaksi sosial ini kemudian akan dikembangkan di masyarakat.

  1. Hubungan orang tua dan anak

Pola hubungan antara orang tua dengan anak akan berpengaruh terhadap proses penyesuaian diri anak-anak. Beberapa pola hubungan yang dapat dipengaruhi penyesuai diri antara lain :

  1. Menerima (acceptance),

  2. Menghukum dan disiplin yang berlebihan,

  3. Memanjakan dan melindungi anak secara berlebihan.

  4. Penolakan.

  5. Hubungan saudara


Suasana hubungan saudara yang penuh persahabatan, kooperatif, saling menghormati, penuh kasih sayang, mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk tercapainya penyesuaian yang lebih baik, sebaliknya suasana permusuhan, perselisihan, iri hati, kebencian, dan sebagainya dapat menimbulkan kesulitan dan kegagalan penyesuaian diri.

  1. Masyarakat

Keadaan lingkungan masyarakat dimana individu berada merupakan kondisi yang menentukan proses dan pola-pola penguasaan diri. Kondisi studi menunjukan bahwa banyak gejala tingkah laku salah suai bersumber dari keadaan masyarakat. Pergaulan yang salah dikalangan remaja dapat mempengaruhi pola-pola penyesuaian dirinya.

  1. Sekolah

Sekolah mempunyai peranan sebagai media untuk mempengaruhi kehidupan intelektual, sosial, dan moral para siswa. Suasana disekolah baik sosial maupun psikologis menentukan proses dan pola penyesuaian diri. Disamping itu, hasil pendidikan yang diterima anak disekolah eken merupakan bekal bagi proses penyesuaian diri di masyarakat.


  1. Kultur dan Agama sebagai Penentu Penyesuaian Diri

Proses penyesuaian diri anak mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat secara bertahap dipengaruhi oleh faktor-faktor kultur dan agama. Lingkungan kultur dimana individu berada dan berinteraksi akan menetukan pola-pola penyesuaian dirinya. Contohnya tata cara kehidupan disekolah, dimesjid, gereja, dan semacamnya akan mempengaruhi bagaimana anak menempatkan diri dan bergaul dengan masyarakat sekitarnya.

Agama memberikan suasana psikologis tentu dalam mengurangi konflik, frustasi dan ketegangan lainya. Agama juga memberikan suasana damai dan tenang bagi anak. Agama merupakan sumber nilai, kepercayaan dan pola-pola tingkah laku yang akan memberikan tuntunan bagi arti, tujuan dan kesetabilanhidup umat manusia.


  1. Permasalahan-permasalahan Penyesuaian Diri Remaja

Di antara persoalan terpentingnya yang dihadapi remaja dalam kehidupan sehari-hari dan yang menghambat penyesuaian diri yang sehat adalah hubungan remaja dengan orang dewasa terutama orang tua. Tingkat penyesuaian diri dan pertumbuhan remaja sangat tergantung pada sikap orang tua dan suasana psikologis dan sosial dalam keluarga. Contoh : Sikap orang tua yang menolak. Penolakan orangtua terhadap anaknya dapat dibagi menjadi dua macam. Pertama, penolakan mungkin merupakan penolakan tetap sejak awal, dimana orang tua merasa tidak senang kepada anaknya, karena berbagai sebab, mereka tidak menghadaki kehadirinya.

Boldwyn dalam Dayajat (1983) mengilustrasikan seorang bapak yang menolak anaknya berusaha menundukan anaknya dengan kaidah-kaidah kekerasan, karena itu ia mengambil ukuran kekerasan dan mengambil ukuran kekerasan, kekejaman tanpa alasan nyata. Jenis kedua dari penolakan adalah dalam bentuk berpura-pura tidak tahu keinginan anak. Contohnya orang tua memberikan tugas kepada anaknya berbarengan dengan rencana anaknya untuk pergi nonton bersama dengan sejawatnya.

Hasil dari kedua macam penolakan tersebut ialah remaja tidak dapat menyesuaikan diri, cenderung menghabiskan waktunya diluar rumah. Terutama pada gadis-gadis mungkin akan terjadi perkawinan yang tidak masuk akal dengan pemikiran bahwa rumah di luar tangganya lebih baik dari pada rumahnya sendiri. Disamping itu, sikap orang tua yang memberikan perlindungan yang berlebihan akibatnya juga tidak baik.

Sikap orang tua yang otoriter, yaitu yang memaksakan kekuasaan dan otoritas kepada remaja juga akan menghambat prosedur penyesuaian diri remaja. Biasanya remaja berusaha untuk menentang kekuasaan ortu dan pada gilirannya ia akan cenderung otoriter terhadap teman-temanya dan cenderung menentang otoritas yang ada baik di sekolah maupun di masyarakat.

Permasalahan-permasalahan penyesuaian diri yang dihadapi remaja dapat berasal dari suasana psikologis keluarga seperti keretakan keluarga. Banyak penelitian membuktikan bahwa remaja yang hidup didalam rumah tangga yang retak, mengalami masalah emosi. Tampak padanya ada kecendrungan yang besar untuk marah, suka menyindir, disamping kurang kepekaan terhadap penerimaan sosial dan kurang mampu menahan diri serta lebih gelisah dibandingkan dengan remaja yang hidup dalam rumah tangga yang wajar.

Perbedaan antara perlakuan laki-laki dan anak perempuan akan mempengaruhi hubungan antar mereka, sehingga memungkinkan timbulnya rasa iri hati dalam jiwa anak pertemuan terhadap saudaranya yang laki-laki. Permasalahan-permasalahan penyesuaian akan muncul bagi remaja yang sering pindah. Ia terlaksa pindah dari sekolah kesekolah yang lain dan ia mengalami banyak kesukaran akademis, bahkan mungkin ai akan sangat tertinggal dalam pelajaran. Karena guru berbeda-beda dalam cara mengajarnya. Demikian pula mungkin buku-buku pokok yang dipakainya tidak sama.


Tabel 1 Perbedaan Profil Perkembangan Intelektual antara Siswa SLTP dan Siswa SLTA

No

Siswa SLTP (Remaja Awal)

Siswa SLTA (Remaja Akhir)

1.







2.






3.

Proses berfikirnya sudah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal (asosiasi, diferensiasi, komparasi, dan kausalitas) dalam ide-ide, diferensiasi, komparasi, dan kausalitas) dalam ide-ide atau pemikiran abstrak (meskipun relatif terbatas)


Kecakapan dasar umum (general intelegence) menjalani laju perkembangan yang terpesat terutama bagi yang bersekolah

Kecakapan dasar khusus (bakat atau aptitude) mulai dari menunjukan kecenderungan-kecenderungan lebih jelas.

Kecakapan dasar khusus (bakat atau aptitude) mulai dari menunjukan kecenderungan-kecenderungan lebih jelas

Sudah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal disertai kemampuannya membuat generalisasi yang lebih konklusif dan kompherensif




Tercapainya titik puncak (kedewasaan intelektual umm, yang mungkin ada pertambahan yang sangat terbatas bagi yang terus bersekolah




Kecenderungan bakat tertentu mencapai titik puncak dan kemantapannya


  1. Perkembangan Pemikiran Politik

Perkembangan pemikiran politik remaja hampir sama dengan perkembangan moral, kaena memang keduanya berkaitan erat. Remaja telah mempunyai pemikiran-pemikiran politik yang lebih kompleks dari anak-anak sekolah dasar. Mereka telah memikirkan ide-ide dan pandangan politiknya yang lebih abstrak, dan telah melihta banyak hubungan antar hal-hal ersebut. Mereka dapat melihat pembentukan hukum dan peraturan-peraturan legal secara demokratis, dan melihat hal-hal tersebut dapat dterapkan pada setiap orang dimasyarakat, dan bukan pada kelompok-kelompok khusus.

Pemikiran politik ini jelas mengggambarkan unsur-unsur kemampuan berfikir formal operasional dari piaget dan pengembangan lebih tinggi dari bentuk pemikiran moral. Remaja juga masih menunjukkan adanya kesenjangan dan ketidaksesuaian dalam pemikiran politiknya tidak didasarkan atas prinsip ”seluruhnya atau tidak sama sekali”, sebagai ciri kemampuan pemikiran moral tahap tinggi, tetapi lebih banyak didasari oleh pengetahuan-pengetahuan politik yang bersifat khusus. Meskipun demikian pemikiran mereka sudah lebih abstrak dan kurang bersifat individual dibandingkan dengan usia anak sekolah dasar.


  1. Pemikiran Sosial dan Moralitas

Keterampilan berpikir baru ayng dimiliki remaja adalah pemikiran sosial. Pemikiran sosial ini berkenaan dengan pengetahuan dan keyakinan mereka tentang masalah-masalah hubungan pribadi sosial. Remaja awal telah mempunyai pemikiran-pemikiran logis ini mereka sering kali menghadapi keadaan ini berkembang pada remaja sikap egosentrisme, yang berupa pemikiran-pemikiran subjektif logis dirinya tentang masalah-masalah sosial yang dihadapi dalam masyarakat atau kehidupan pada umumnya.

Egosentrisme remaja sering kali muncul atau diperlihatkan dalam hubungan dengan orang lain tentang dirinya. Remaja sering berpenampilan atau berperilaku mengikuti bayangan atau sosok gangnya. Mereka sering membuat trik-trik atau cara-cara untuk menunjukkan kehebatan, kepopuleran atau kelebihan dirinya pada sesama remaja. Para remaja seringkali membuat atau memiliki cerita atau dongeng pribadi yang menggambarkan kehebatan dirinya. Cerita-cerita yang mereka baca atau dengar diterapkan atau dijadikan cerita dirinya

Secara berangsur-angsur remaja mengurangi sifat ego sentrismenya dalam hubungan pribadinya berkembang etika pribadi mereka, berkenaan dengan pengetahuan dan penghayatan tentang apa yang baik dan yang jahat. Ada dua aspek yang menjadi perhatian utama para remaja, yaitu nNilai-nilai keadilan dan kesejahtaraan. Pada wanita dan pria walaupun tidak terlalu ekstrim ada sedikit perbedaan mengenai nilai-nilai tersebut. Kecendrungan pria lebih peduli terhadap nilai-nilai keadilan dan kejujuran, sedangkan wanita terhadap nilai-nilai kesejahteraan, baik dalam lingkup keluarga, hubungan sebaya maupun masyarakat.

Perkembangan nilai-nilai keadilan dan kejujuran pada remaja kurang oportunistik dibandingkan masa sebelumnya, secara berangsur telah berkurang penilaian yang didasarkan atas ganjaran dan hukuman langsung atas dasar pengalaman dirinya walaupun masih dalam tahap konvensional pada masa remaja rasa kepedulian terhadap kepentingan dan kesejahteraan orang lain cukup besar, tetapi kepedulian ini masih dipengaruhi oleh sifat egosenrisme. Mereka bisa belum bisa membedakan kebahagiaan atau kesenangan yang dasar hakiki yang dasar (hakiki) yang sesaat, memperhatikan kepentingan orang secara umum atau orang-orang yang dekat dengan dia.


Tabel 2 Perbedaan Profil Perkembangan Pemikiran Sosial dan Moralitas antara Siswa SLTP dengan Siswa SLTA

No

Siswa SLTP (Remaja Awal)

Siswa SLTA (Remaja Akhir)

1.




2.




3.




4.

Diawali dengan kecenderungan ambivalensi keinginan menyendiri dan keinginan bergaul dengan banyak, tetapi bersifat temporer


Adanya ketergantungan yang kuat kepada kelompok sebaya disertai semangat komformitas yang tinggi


Adanya ambivalensi antara keinginan bebas dari dominasi pengaruh oang tua dengan ebutuhan bimbingan dan bantuan dari orang tuanya


Dengan sikapnya dan cara berpikirnya yang kritis mulai menguji kaidah-kaidah atau sistem nilai etis dengan kenyataan dalam perilaku sehari-hari oleh para pendukungnya (orang dewasa)

Bergaul dengan julah teman yang lebih terbatas dan selektif serta bertahan lebih lama


Ketergantungan kepada kelompok sebaya berangsur fleksibel, kecuali dengan teman dekat pilihannya yang banyak memiliki kesamaan minat


Mulai dapat memelihara jarak dan batas-batas kebebasan mana yang harus dirundingkan dengan orang tuanya


Sudah dapat memisahkan antara siswa nilai-nilai dengan kaidah-kaidah normatif yang universal dari parda pendukungnya yang mungkin dapat berbuat keliru atau kesalahan


  1. Perkembangan Agama dan Keyakinan

Perkembangan kemampuan berpikir remaja mempengaruhi perkembangan pemikiran dan keyakinan tentang agama. Kalau pada tahap usia sekolah dasar pemikrian agama bersifat konkret dan berkenaan dengan sekitar kehidupannya, maka pada masa remaja sudah berkembang lebih jauh, didasari pemikrian-pemikiran rasional, menyangkut hal-hal yang bersifat abstrak dan meliputi hal-hal yang lebih luas.

Remaja yang mendapatkan pendidikan agama yang intensif, bukan saja telah memiliki kebiasaan melaksanakan kegiatan peribadatan dan ritual agama, tetapi juga tela mendapatkan kepercayaan-kepercayaan khusus yang lebih mendalam yang membentuk keyakinannya dan menjadi pegangan dalam keresponss terhadap masalah-masalah dalam kehidupannya. Keyakinan yang lebih luas dan mendalam ini bukan hanya diyakini atas dasar pemikiran tetapi juga atas keimanan. Pada masa remaja awal, gambaran Tuhan masih diwarnai oleh gambaran tentang ciri-ciri manusia, tetapi pada masa remaja akhir, gambaran ini telah berubah kearaah gambaran sifat-sifat tuhan yang sesungguhnya.


Tabel 3 Perbedaan Profil Perkembangan Agama dan Keyakinan antara Siswa SLTP dengan Siswa SLTA

No

Siswa SLTP (Remaja Awal)

Siswa SLTA (Remaja Akhir)

1.




2.






3.

Menegani eksistensi (keberadaan) sifat kemurahan dan keadilan Tuhan mulai dipertanyakan secara kritis dan skeptis


Penghayatan kehidupan keagamaan sehari-hari dilakukan mungkin didasarkan atas pertimbangan adanya semacam tuntutan yang memaksa dari luar dirinya.


Masih mencari dan mencoba menemukan pegangan hidupnya

Eksistensi dan sifat kemurahan serta keadilan Tuhan mulai dipahamkan dan dihayati menurut sistem.


Kepercayaan atau agama yang dianutnya penghayatan dan pelaksanaan kehidupan keagamaan sehari-hari mulai dilakukan atas dasar kesadaran dan pertimbangan hati nuraninya sendiri yang tulus ikhlas.


Mulai menemukan pegangan hidup yang definitif.

Menurut Bronfenbrenner dalam (Papalia dan Olds, 1992:9) terdapat empat tingkatan pengaruh lingkungan yang sangat global, yaitu:

  1. Pengaruh lingkungan sistem mikro, yaitu lingkungan kehidupan sehari-hariu seperti lingkungan sekolah, lingkungan rumah, dan lingkungan guru-guru, lingkungan teman sebaya, dan sebagainya. Sikap guru dalam mengajar akan berpengaruh terhadap perilaku siswa di sekolah. Sering dijumapi siswa yang membenci mata pelajaran fisika, kimia, dan sebagainya, disebabkan ia memperoleh pengalaman kurang menyenangkan dari guru pengajar mata pelajaran yang bersangkutan,

  2. Pengaruh lingkungan sistem meso, yaitu keterkaitan antarvariasi tingkatan sistem yang melibatkan individu didalamnya. Perilaku siswa sekolah menengah akan dipengaruhi oleh keterkaitan antara lingkungan rumah dengan lingkungan sekolah, pengaruh keterkaitan antara lingkungan dengan lingkungan masyarakat. Meskipun atuan tata tertib di sekolah dilaksanakan dengan ketat, tetapi tidak sedikit siswa yang menyalahkan obat terlarang kaena terpengaruh oleh kelompok yang siswa yang bersangkutan di masyarakat,

  3. Pengaruh lingkungan sistem EXO adalah pengaruh istitusi lingkungan yang lebih besar, seperti pengaruh sekolah, pengaruh media massa, bahkan pengaruh lingkungan pemerintah. Seperti perilaku seks bebas di kalangan pelajar telah melanda kota-kota pinggiran bahkan kedesa biang keladi yang ditenggarai banyak meracuni perilaku remaja media massa yang terlalu vulgar,

  4. Pengaruh lingkungan yang paling luas adalah pengaruh sistem makro ada keterkaitan erat pengaruh dari kebudayaan, pengaruh agama, pendidikan politik, dan pengaruh keadaan sosial ekonomi terhadap perkembangan individu.


  1. Penutup

Penyesuaian diri merupakan suatu usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan pada lingkungannya. Proses penyesuaian diri lebih bersifat suatu proses sepanjang hayat (lifelong process) dan manusia terus-menerus berupaya menemukan dan mengatasi tekanan dan tantangan hidup guna mencapai pribadi yang sehat. Respons penyesuain baik atau buruk, secar sederhana dapat dipandang sebagai suatu upaya individu untuk mereduksi atau menjauhi ketegangan dan untuk memelihara kondisi-kondisi keseimbangan yang lebih wajar.

Karakteristik penyesuaian diri terbagi atas 2 macam, yaitu karakteristik penyesuaian diri secara positif dan karakteristik penyesuaian diri yang salah. Dimana pada penyesuaian diri positif yaitu individu melakukan hal-hal yang dapat membawa dampak baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, sedangkan penyesuaian diri yang salah adalah individu melakukan hal-hal yang dapat merugikan dirinya sendiri maupun orang lain baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penyesuaian diri meliputi kondisi-kondisi fisik (keturunan, konstitusi fisik, susunan saraf, kelenjar dan sistem otot, kesehatan, penyakit, dan lain-lain). Perkembangan dan kematangan (khususnya kematangan intelektual sosial, moral, dan emosional) penentu psikologis (pengalaman, belajar, pengkondisian, penentu diri / self-determination, frustasi dan konflik), kondisi lingkungan (keluarga dan sekolah) dan penentu kultural (agama). Pemahaman tentang faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penyesuaian diri dan bagaimana fungsinya dalam penyesuaian merupakan syarat untuk memahami proses penyesuaian, kaena penyesuaian tumbuh dari hubungan-hubungan antara faktor-faktor tersebut dan tuntutan individu.

Persoalan-persoalan umum yang seringkali dihadapi remaja antara lain memilih sekolah, yang mana penyesuaian diri yang mungkin timbul adalah penyesuaian diri yang berkaitan dengan kebiasaan belajar yang baik. Bagi siswa yang baru masuk sekolah lanjutan mungkin mengalami kesulitan dan membagi waktu belajar, yakni adanya pertentangan antara belajar dan keinginan untuk ikut aktif dalam kegiatan sosial, dan kegiatan ekstrakurikuler. Implikasi proses penyesuaian remaja terhadap penyelenggaraan pendidikan seperti lingkungan sekolah mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan jiwa remaja.

Sekolah selain mengemban fungsi pengjaran juga fungsi pendidikan (transformasi norma). Dalam kaitannya dengan pendidikan ini peranan sekolah pada hakikatnya tidak jauh dari peranan keluarga yaitu sebagai rujukan tempat perlindungan jika anak didik mengalami masalah. Oleh karena itulah setiap sekolah lanjutan ditunjuk wali kelas yaitu guru-guru yang akan membantu anak didik jika ia (mereka) menghadapi kesulitan dalam pelajarannya dan guru-guru bimbingan dan penyuluhan untuk membantu anak didik yang mempunyai masalah pribadi dan masalah penyesuaian diri baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap tuntutan sekolah.

Penyesuaian diri remaja hendaknya selalu dipertahankan eksistensinya demi memperoleh kesejahteraan demi memperoleh kesejahteraan jasmaniah dan rohaniah, dan dapat mengadakan relasi yanbg memuaskan denga tuntutan sosial, dan menyesuaikan sesuatu dengan tuntutan sosial, dan menyesuaikan sesuatu dengan standar atau prinsip, yang mana penyesuaian diri merupakan penguasaan yaitu memiliki kemampuan untuk membuat rencana dan mengorganisasi respons-respons sedemikian rupa, sehingga bsia mengatasi segala macam konflik, kesulitan, dan frustasi-frustasi secara efisien serta memiliki penguasaan dan kematangan emosional. Kematangan emosional merupakan secara positif memiliki respons emosional yang tepat pada setiap situasi.

Penyesuaian diri remaja sangat ditentukan oleh peran serta orang tua dalam membimbing dan mengarahkan hal yang lebih baik, untuk itu perlu kesadaran orang tua dalam membimbing anak serta harus dapat menjaga anak dari kecaman lingkungan yang dapat mempengaruhi anak, serta juga peran masyarakat yang sangat menunjang kelancaran atau terciptanya masyarakat yang aman, damai, dan sejahtera jauh dari lingkungan yang memiliki suatu hal yang dapat berdampak negatif bagi masyarakat itu sendiri.


DAFTAR RUJUKAN


Mulyani, S. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Universitas Terbuka.


Poerwati, E., dan Nurwidodo. 2000. Perkembangan Peserta Didik. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.

Hartono, A., dan Sunanro. 1995. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta.

5 komentar:

  1. Untuk berbagi ilmu ebook digital bis kunjungi blog kami, http://ensiklopediaebook.blogspot.com/
    terimakasih

    BalasHapus
  2. terima kasih,,artikel yang menarik dan saya coba telaah di dalamnya,,

    BalasHapus
  3. injih, All article's is for public. So if it suits you, please copy it and then we can share. qt telaah dan berbagi ilmu, Matur suwun dan terima kasih

    BalasHapus