06 November 2009

Analisa Capital Budgeting

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perusahaan multinasional mengevaluasi proyek dengan menggunaan penganggaran modal, yang membandingkan manfaat dari suatu proyek dengan biaya-biayanya. Capital budgeting ditujukan untuk memisahkan proyek yang pantas diimplementasikan dan proyek yang tidak patut dilaksanakan. Capital budgeting multinasional biasanya melibatkan proses yang sama. Namun, karakteristik khusus dari proyek yang mempengengaruhi arus kas masa datang atau suku bunga diskonto yang digunakan untuk mendiskontokan arus kas membuat penganggaran modal multinasional menjadi lebih rumit.

Modal (capital) menunjukkan aktiva tetap yang digunakan untuk produksi dan anggaran (budget) adalah sebuah rencana rinci yg memproyeksikan aliran kas masuk dan aliran kas keluar selama beberapa periode pada saat yg akan datang. Penganggaran modal (capital budgeting) adalah garis besar rencana pengeluaran aktiva tetap dan merupakan proses menyeluruh menganalisa proyek dan menentuan mana saja yang dimasukkan ke dalam anggaran modal.

Capital budgeting adalah proses dimana manager financial dihadapi pada keputusan apakah akan menginvestasi pada projek tertentu atau pada asset tertentu. Capital budgeting perlu diperhatikan beberapa hal yaitu (1) proyek apakah yang menguntungkan bagi perusahaan, (2) dari serangkaian pilihan proyek, asset apakah yang diperlukan untuk mendukung proyek tersebut, dan (3) berapa besar jumlah investasi yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan asset tersebut. Capital budgeting dilakukan oleh instansi yang memiliki proyek jangka panjang yang ingin dijalankannya. Proyek jangka panjang ini dapat berupa ekspansi pada sebuah divisi dari anak perusahaan hingg pendirian anak perusahaan baru. Keputusan penganggaran modal akan berpengaruh pada jangka waktu yang lama sehingga perusahaan kehilangan fleksibilitasnya.

Tahap penganggaran modal meliputi (1) biaya proyek harus ditentukan, (2) manajemen harus memperkirakan aliran kas yang diharapkan dari proyek, termasuk nilai akhir aktiva, (3) risiko dari aliran kas proyek harus diestimasi memakai distribusi probabilitas aliran kas, (4) dengan mengetahui risiko dari proyek, manajemen harus menentukan biaya modal (cost of capital) yang tepat untuk mendiskon aliran kas proyek, (5) dengan menggunakan nilai waktu uang, aliran kas masuk yang diharapkan digunakan untuk memperkirakan nilai aktiva, (6) nilai sekarang dari aliran kas yang diharapkan dibandingkan dengan biayanya. Penganggaran modal yang efektif akan menaikkan ketepatan waktu dan kualitas dari penambahan aktiva dan pengeluaran modal sangatlah penting untuk dikaji.

B. Teknik Analisa

Net Present Value (NPV) merupakan teknik capital budgeting yang cocok digunakan pada saat memilih investasi. NPV didefinisikan sebagai nilai sekarang dari seluruh ekspektasi benefits arus kas masa datang yang didiskontokan pada discount rate yang sesuai dikurangi dengan initial cash outlay. NPV adalah metode penilaian investasi yang menggunakan discounted cash flow mempertimbangkan nilai waktu uang pada aliran kas yang terjadi. Faisal (2008) berpendapat sifat penting dari teknik NPV adalah memberi penekanan pada cash flows dari pada accounting profits, focus pada opportunity cost dari dana-dana yang diinvestasikan dan konsisten dengan maksimalisasi anggaran.

NPV mengikuti prinsip value additivity yang menyatakan bahwa NPV sekumpulan proyek-proyek independent merupakan jumlah dari NPV proyek-proyek individual. Bagian terpenting dan tersulit dari analisis investasi adalah estimasi dari cash flows yang terdiri dari modal (initial cash outlay) yang dinyatakan dengan net investment yang teradi saat ini (t = 0), cash flows yang terjadi selama usia proyek dinyatakan dalam net cash flows atau operating cash flows (t = 1 – n), serta terminal cash flows yang terealisasi pada tahun terakhir dari usia proyek (t = n).

BAB II

ANALISA PENGANGGARAN MODAL

A. Net Present Value

Net Present Value (NPV) merupakan metode penilaian investasi yang menggunakan discounted cash flow mempertimbangkan nilai waktu uang pada aliran kas yang terjadi. NPV mengikuti prinsip value additivity yang menyatakan bahwa NPV sekumpulan proyek-proyek independent merupakan jumlah dari NPV proyek-proyek individual. Bagian terpenting dan tersulit dari analisis investasi adalah estimasi dari cash flows yang terdiri dari modal (initial cash outlay) yang dinyatakan dengan net investment yang teradi saat ini (t = 0), cash flows yang terjadi selama usia proyek dinyatakan dalam net cash flows atau operating cash flows (t = 1 – n), serta terminal cash flows yang terealisasi pada tahun terakhir dari usia proyek (t = n).

Secara matematis NPV dirumuskan sebagai berikut:

NPV =

Keterangan:

NPV = Net Present Value,

CFt = arus kas masuk pada waktu t (cash inflows),

k = discount rate (cost of capital perusahaan yang digunakan untuk proyek dengan resiko yang sama dengan resiko perusahaan),

lo = initial outlays (Faisal, 2008).

Prinsip penting yang mendasari estimasi cash flows adalah bahwa cash flows tersebut harus diukur atas dasar incremental, yakni hanya tambahan cash flows dari investasi yang perlu dipertimbangkan. Perbedaan antara total cash flows dan incremental cash flows adalah penting karena alasan sebagai berikut:

1. Cannibalization terjadi pada saat investasi merebut penjualan dari produk-produk perusahaan yang telah ada,

2. Sales creation menghasilkan penjualan tambahan bagi produk-produk existing,

3. Opportunity cost atau true economic cost dari sebuah proyek harus disertakan meskipun perusahaan telah memiliki asset sendiri atau harus memperolehnya,

4. Transfer price dapat secara signifikan mempengaruhi profitabilitas proyek. Oleh karena itu, apabila memungkinkan harga-harga pasar aktual harus digunakan untuk mengevaluasi input atau output proyek,

5. Fees dan royalties merupakan suatu expenses bagi proyek, namun merupakan benefits bagi perusahaan induk. Hanya tambahan biaya yang berkenaan dengan proye harus dipertimbangkan. Sebagai contoh: overhead costs yang terjadi meski apakah proyek tersebut diterima harus dikeluarkan atau tidak dihitung.

Analisa capital budgeting dilakukan dari perspektif parent, dengan asumsi bahwa subsidiary berencana untuk menghasilkan arus kas yang pada akhirnya akan dikirimkan ke parent. Perspektif parent didasarkan pada perbandingan antara present value dari arus kas yang akan diterima parent dengan jumlah investasi awal. Arus kas yang menjadi perhatian adalah arus kas dollar yang diterima oleh parent dari proyek. Investasi awal yang dimaksud di sini adalah dana awal yang dikeluarkan oleh parent. Required rate of return didasarkan pada cost of capital yang digunakan oleh parent untuk melakukan investasi, setelah disesuaikan dengan resiko dari proyek.

Investasi memerlukan sejumlah dana kas untuk melakukan pembelian

peralatan atau membangun pabrik baru. Perhitungan dana tersebut akan dikurangi dengan arus kas yang diperoleh dari pembuangan atau pergantian peralatan. Investasi awal juga mencakup working capital yang timbul dari peralatan baru tersebut. Yenni (2008) berpendapat investasi awal mencakup komponen:

1. Kas yang dikeluarkan untuk mendapatkan asset baru (I),

2. Working Capital (W),

3. Kas yang diterima dari hasil penjualan peralatan lama (So),

4. Pajak yang dibayarkan (disimpan) dari penjualan (T (So-Bo)).

B. Analisa Rasio Anggaran

Berbagai keputusan tentang struktur keuangan, pembelian, pembayaran, teknik penilaian surat berharga dan permasaahan biaya modal merupakan keputusan yang memerlukan pengetahuan tentang nilai waktu uang. Pada dasarnya tujuan manajemen keuangan adalah memaksimumkan nilai perusahaan. Akan tetapi dibalik tujuan tersebut masih terdapat konflik antara pemilik perusahaan dengan penyedia dana sebagai kreditur. Jika perusahaan berjalan lancar, maka nilai anggaran perusahaan akan meningkat, sedangkan nilai hutang perusahaan tidak terpengaruh sama sekali. Disimpulkan bahwa nilai dari anggaran kepemilikan bisa merupakan indeks yang tepat untuk mengukur tingkat efektifitias perusahaan.

Berdasarkan uraian di atas tujuan manajemen keuangan dinyatakan dalam bentuk maksimalisasi nilai saham kepemilikan perusahaan atau memaksimalisasikan anggaran. Tujuan memaksimumkan anggaran tidak berarti bahwa para manajer berupaya mencari kenaikan laba dengan mengorbankan para debitur. Faktor yang dapat mempengaruhi analisa penganggaran modal menurut Faisal (2008) adalah (1) fluktuasi nilai tukar, (2) inflasi, (3) kesepakatan pembiayaan, (4) blokade dana, (5) nilai sisa yang tidak pasti, (6) dampak dari proyek baru atas arus kas berjalan, dan (7) insentif-insentif pemerintah.

Untuk mengetahui kondisi dan prestasi keuangan perusahaan, dilakukan dengan analisa keuangan. Analisa yang dilakukan mempunyai tekanan yang berbeda antara kreditor jangka pendek, kreditor jangka panjang dan pemilik perusahaan. Ada yang lebih tertarik pada posisi likuiditas dan ada yang tertarik pada profitabilitaas. Alat analisa yang digunakan untuk mengetahui kondisi dan prestasi keuangan perusahaan adalah analisa rasio.

Martono dan Harjito (2002) mengemukakan analisa keuangan merupakan analisis mengenai kondisi suatu perusahaan yang melibatkan neraca dan laporan laba-rugi. Neraca (balance sheet) merupakan laporan yang menggambarkan jumlah kekayaan (harta), kewajiban (hutang), dan modal dari suatu perusahaan pada saat tertentu. Kekayaan atau harta disajikan pada sisi aktiva, sedangkan kewajiban atau hutang dan modal sendiri disajikan di sisi pasiva.

Untuk mengevaluasi kondisi keuangan dan kinerja perusahaan, analisa keuangan harus melakukan pemeriksaan terhadap kesehatan keuangan perusahaan. Alat yang digunakan dalam pemeriksaan ini adalah rasio keuangan yang menghubungkan dua data keuangan dengan jalan membagi satu data dengan data yang lain. Indeks yang menghubungkan dua angka akuntansi dan diperoleh dengan membagi satu angka dengan angka yang lainnya. Perhitungan rasio digunakan karena cara ini akan diperoleh perbandingan yang lebih berguna daripada melihat angka saja. Analisa rasio keuangan melibatkan dua jenis perbandingan yaitu (1) membandingkan rasio saat ini dengan rasio masa lalu dan akan datang dalam perusahaan yang sama dan (2) melibatkan perbandingan rasio satu perusahaan dengan perusahaan-perusahaan sejenis atau dengan rata-rata industri pada titik waktu yang sama.

Analisa membandingkan rasio saat ini dengan rasio masa lalu dan akan datang dalam perusahaan yang sama. Rasio lancar untuk tahun sekarang dapat dibandingkan dengan rasio lancar tahun sebelumnya. Jika rasio keuangan diurutkan dalam beberapa periode tahun, analis dapat mempelajari komposisi perubahan dan menentukan apakah terdapat perbaikan atau penurunan dalam kondisi keuangan dan kinerja perusahaan. Metode perbandingan kedua melibatkan perbandingan rasio satu perusahaan dengan perusahaan-perusahaan sejenis atau dengan rata-rata industri pada titik waktu yang sama. Perbandingan ini memberikan pandangan mendalam tentang kondisi keuangan dan kinerja relatif dari perusahaan (Horne dan Wachowicz, 1997).

Sebagai analisa disajikan kasus pertimbangan pemerintah untuk memberikan bantuan kepada Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang layak diberi bantuan dengan menggunakan metode Net Present Value (NPV). Kasus yang terjadi ialah proyek pengadaan mesin. UKM mempertimbangkan untuk membeli mesin baru. Mesin diperkirakan memerlukan biaya Rp. 40.000.000,00, memiliki jangka waktu penggunaan selama tiga tahun, dan setelah itu mesin tidak memiliki salvage value. Diperkirakan mesin menghasilkan pendapatan operasional Rp. 35.000.000,00 dan biaya operasional sebesar Rp. 8.500,000,00 setiap tahun. Proyek ini membutuhkan investasi awal sebesar Rp. 2.500.000,00 pada working capital yang akan tertutup biayanya pada akhir tahun ketiga. Biaya modal UKM adalah 16 %. Tarif pajak adalah 30 %. Perhitungan yang dilakukan untuk memutuskan apakah proyek ini dijalankan atau tidak adalah:

Investasi awal = Rp. 40.000.000,00
Net Working Capital awal = Rp. 2.500.000,00
Present value dari arus kas operasional setelah pajak:
= (35.000.000 – 8.500.000) x (1 – 0,30) x PVIFA (16 %, 3 tahun)
= 26.500.000 x 0,70 x 2,2459
= 41.661.400

Present value dari net working capital akhir periode proyek:
= 2.500.000 x PVIFA (16 %, 3 tahun)
= 2.500.000 x 0.6406
= 1.601.500

NPV = (40.000.000) + (2.500.000) + 41.661.400 + 1.601.500
= 85.762.900

NPV ≥ 0 maka proyek diterima atau layak dijalankan
NPV ≤ 0 maka proyek ditolak atau tidak layak dijalankan

Keputusan NPV = 85.762.900 dimana NPV ≥ 0 maka proyek diterima dan layak dijalankan.

Saat terjadinya krisis ekonomi dan moneter telah membuktikan dirinya sebagai salah satu penyelamat perekonomian nasional. Di saat industri besar (konglomerat) gulung tikar sebagai akibat krisis yang melanda Indonesia, UKM masih dapat bertahan, bahkan menjadi katup pengaman dari ancaman ledakan pengangguran terbuka akibat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran dari usaha konglomerat. Memberdayakan dan mengembangkan UKM yang berasaskan pada prinsip-prinsip mendidik dan berorientasi pada alih teknologi, ekonomi (prospektif), dan berkelanjutan.

C. Kriteria dan Bobot Penilaian

UKM selama ini belum cukup memperoleh dukungan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), dipihak lain penguasaan iptek nasional masih memerlukan pembinaan. Pemerintah melalui APBN telah mengeluarkan dana yang cukup besar untuk membiayai kegiatan litbang, tetapi jika dibanding dengan negara lain tergolong masih rendah. Namun demikian kegiatan-kegiatan penelitian dan pengembangan nasional dituntut dan ditantang untuk membantu kebutuhan peningkatan iptek dunia usaha di dalam negeri.

Pemerintah dalam menyalurkan bantuan dana kepada UKM memilih berdasarkan hasil kajian mendalam dengan menggunakan instrumen dan analisa. Hasil analisa tersebut dijadikan pertimbangan untuk menyalurkan dana kepada UKM. Adapun instrumen penilaian seperti pada Tabel 1.

Tabel 1 Kriteria dan Bobot Penilaian (Mengikuti Indikator Keberhasilan)

No

Kriteria

Bobot %

Satuan

Total

1

Kelayakan Biaya dan Kelayakan Teknis



1.1 Teknologi yang diminati UKM dan sudah well proven

10

30

1.2 Pemilihan UMK secara tepat (sudah beroperasi dengan kegiatan yang diusulkan)

10

1.3 Kelayakan teknis produksi

10

2

Keterkaitan dengan pembangunan di daerah



2.1 Pendayagunaan potensi lokal (minat, bahan baku, tenaga kerja, teknologi, dan permodalan)

10

15

2.2 Dukungan komitmen pemerintah daerah

5

3

Kelayakan SDM



3.1 Kompetensi pelaksana, dengan menyertakan rekam jejak (track record) dibidang yang diusulkan

15

20


3.2 Komitmen lembaga pengusul (disertai lembar pernyataan resmi kepala lembaga pengusul yang menyatakan mendukung dan berkomitmen terhadap proposal dan pelaksanaan serta tidak akan mengalihkan dana untuk kegiatan lain)

5

4

Kelayakan Ekonomi




4.1 Peluang pasar

10

35


4.2 Strategi Pemasaran

10


4.3 Sustainabilitas usaha produktif

15

Total

100

100

Sumber: Departemen Keuangan, 2008.

Kementerian merupakan institusi yang mengelola pemberdayaan bukan institusi pinjam meminjam. Dana bantuan diharapkan dapat menjadi stimulan bagi UKM yang belum mampu menembus perbankan. Hal tersebut merupakan fungsi pemberdayaan. Anggaran Kementerian Koperasi dan UKM dalam implementasinya dialokasikan dalam bantun sosial dan permodalan. Untuk menyamakan persepsi ini pejabat Departemen Keuangan dan Pejabat Kementerian Koperasi dan UKM melakukan pembahasan bersama untuk memilah kategori belanja sosial dan kategori belanja modal.

Laporan keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan merupakan salah satu sumber informasi mengenai posisi keuangan kinerja serta perubahan posisi keuangan perusahaan yang berguna untuk mendukung pengambilan keputusan yang tepat. Agar informasi yang tersaji menjadi lebih bermanfaat dalam pengambilan keputusan data keuangan harus dikonversi menjadi informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan ekonomis. Hal ini ditempuh dengan cara melakukan analisis laporan. Laporan keuangan beserta pengungkapannya dibuat perusahaan dengan tujuan memberikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan investasi dan pendanaan.

Foster (1986) menyatakan empat hal yang mendorong analisis laporan keuangan dilakukan yaitu:

1. Untuk mengendalikan pengaruh perbedaan besaran antar perusahaan atau antar waktu,

2. Untuk membuat data menjadi lebih memenuhi asumsi alat statistik yang digunakan,

3. Untuk menginvestigasi teori yang terkait dengan dengan keuangan,

4. Untuk mengkaji hubungan empirik antara keuangan dan estimasi atau prediksi variabel tertentu (seperti kebangkrutan atau financial distress).

Informasi mengenai analisa keuangan masa lalu yang terdapat digunakan untuk memprediksi kinerja masa depan perusahaan, walaupun kesuksesan masa lalu tidak menjamin kesuksesan masa yang akan datang akan tetapi prediksi mengenai laba yang akan datang dapat dilakukan jika ada hubungan yang cukup kuat antara kinerja masa lalu dengan kinerja masa depan. Pemerintah menggunakan informasi ini memberikan bantuan dana.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Penganggaran Modal merupakan proses dimana manager financial dihadapi pada keputusan apakah akan menginvestasi pada projek tertentu atau pada asset tertentu. Capital budgeting perlu diperhatikan beberapa hal yaitu (1) proyek apakah yang menguntungkan bagi perusahaan, (2) dari serangkaian pilihan proyek, asset apakah yang diperlukan untuk mendukung proyek tersebut, dan (3) berapa besar jumlah investasi yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan asset tersebut.

Untuk mengetahui kondisi dan prestasi keuangan UKM, dilakukan dengan analisa keuangan. Analisa yang dilakukan mempunyai tekanan yang berbeda antara kreditor jangka pendek, kreditor jangka panjang dan pemilik perusahaan. Ada yang lebih tertarik pada posisi likuiditas dan ada yang tertarik pada profitabilitaas. Alat analisa yang digunakan untuk mengetahui kondisi dan prestasi keuangan perusahaan adalah analisa rasio.

B. Saran

Pemerintah dalam menyalurkan bantuan dana kepada UKM memilih berdasarkan hasil kajian mendalam dengan menggunakan instrumen dan analisa. Hasil analisa tersebut dijadikan pertimbangan untuk menyalurkan dana kepada UKM. Hal dilakukan sebagai upaya meminimalkan penyaluran dana yang tidak produktif dan disalahgunakan.

UKM sebagai salah satu penggerak roda perekonomian bangsa seyogyanya menganalisa situasi ekonomi yang semakin kompetitif dan melakukan kajian mendalam dalam hal penganggaran ivestasi modal. Mengelola kelebihan yang dimiliki, kelemahan yang dimiliki, peluang di luar pasar, dan ancaman persaingan usaha.

DAFTAR RUJUKAN

Departemen Keuangan. 2008. Syarat Pencarian Dana Bergulir (online). (http://www.depkeu.go.id, diakses tanggal 11 Agustus 2008).

Faisal, M. 2008. Capital Budgeting. Jakarta: STEKPI.

Foster, G. 1986. Financial Statement Analysis. New Jersey: Prentice Hall.

Horne, V., dan Wachowicz, Jr. 1997. Prinsip-Prinsip Manajemen Keuangan. Diterjemahan oleh Heru Sutejo. Jakarta: Salemba Empat.

Martono, dan Harjito, A. 2002. Manajemen Keuangan. Yogyakarta: Ekonisia.

Yenni. 2008. Pemahaman Analisa Capital Budgeting (online). (http://triabadimandiri.net, diakses tanggal 11 Agustus 2008.

1 komentar: