29 April 2009

Alasan Evaluasi Belajar

Pada saat kita membaca artikel berikut ini mungkin kita berpikir kalau materi di dalamnya lebih cocok untuk guru sekolah umum. Tetapi perlu diingat, dalam pelayanan SM tugas kita sama dengan guru di mana pun, yaitu mengajar, hanya materi dan bahannya yang berbeda. Jadi, artikel di bawah ini merupakan satu bacaan wajib pula bagi para guru SM.
Sebagai guru kita harus mengadakan evaluasi, baik dalam bentuk formatif maupun sumatif. Evaluasi formatif berlangsung di tengah- tengah berjalannya program pengajaran. Evaluasi sumatif dilaksanakan pada akhir keseluruhan program.
1.Apapun bentuknya, guru perlu tahu bahwa evaluasi belajar mendatangkan beberapa manfaat yang sangat mendasar, yaitu:
2.Guru dapat menilai sejauh mana tujuan umum dan tujuan operasional yang dirumuskan itu relevan dan telah tercapai dalam kegiatan belajar mengajar.
3.Guru dapat memberitahu kemajuan prestasi belajar peserta didiknya dan apabila ada kelemahan ditemukan, ia dapat menjelaskan serta membantunya mencari jalan ke luar (disebut sebagai keperluan diagnostik dan prognostik).
4.Guru dapat mengetahui ketrampilan mengajarnya, apakah metodenya relevan, apakah hubungan antar pribadi dengan peserta didik sangat membangun dan mendorong, serta apakah bahan yang diajarkan itu dapat diterima dengan baik oleh peserta didiknya?

Jika kebanyakan peserta didik (lebih dari 50%) memperoleh nilai (angka) yang kurang memuaskan di tengah program pengajaran (hasil evaluasi formatif), guru harus sadar akan kelemahannya. Kegagalan mayoritas peserta didik mendapat angka baik dalam hal ini, dapat saja disebabkan oleh faktor yang berhubungan dengan guru dan ketrampilannya.
5.Guru dapat "mengadakan perubahan" di tengah-tengah keseluruhan program, berdasarkan hasil evaluasi formatif. Dengan demikian bahan pengajaran menjadi selalu relevan dengan kebutuhan dan tingkat pemahaman peserta didik. Kemudian hasil evaluasi sumatif akan berguna bagi pengajar dalam rangka perencanaan program pengajarannya (perumusan bahan dan kegiatan) di kemudian hari.
Sumber:
B. Samuel Sidjabat, M.Th., Ed.D., Menjadi Guru Profesional Sebuah Perspektif Kristiani, Artikel Evaluasi Belajar, halaman 116 - 117, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1993.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar