10 Mei 2009

CORPORATE ENTREPRENEURSHIP AND INNOVATION

Kewirausahaan dan inovasi perusahaan berkaitan sebagai pembangkit atau energi pelaksanaan strategi. Keberhasilan pelaksanaan strategi terutama bergantung pada kepemimpinan perusahaan. Kewirausahaan dan inovasi perusahaan memerikan tentang makna kewirausahaan, invensi, dan inovasi. Hal ini meliputi keberhasilan kewirausahaan, hubungan inovasi dan keunggulan bersaing, tiga pendekatan inovasi, mencocokan nilai dari inovasi, dan pengalaman lebih berhasilnya perusahaan-perusahaan kecil di Amerika Serikat dalam inovasi dan kewirausahaan perusahaan dibandingperusahaan-perusahaan besar dalam mendapatkan paten-paten mereka.

Defining Entrepreneurship

Ch13-3. Mendefinisikan kewirausahaan (entrepreneurship) sudah pasti berkaitan dengan mendefinisikan invensi (invention), inovasi (innovation), dan imitasi/peniruan (imitation). Kewirausahaan perusahaan merupakan kemampuan (capability) perusahaan untuk mengembangkan barang-barang dan jasa-jasa baru dan mengelola proses inovasi. Inovasi dimulai dari suatu kegiatan temuan atau invensi (invention). Invensi adalah penciptaan / pengembangangan suatu ide proses atau produk baru melalui penelitian dan pengembangan (R & D). Inovasi adalah penciptaan suatu produk yang dapat dikomersialkan dari suatu invensi. Keberhasilan komersialisasi atas inovasi perusahaan-perusahaan mendorong imitasi / peniruan. Imitasi adalah adopsi inovasi oleh suatu penduduk atas perusahaan-perusahaan yang serupa.

Successful Entrepreneurship

Ch13-4. Keberhasilan kewirausahaan berkaitan dengan keberhasilan inovasi. Kunci untuk keberhasilan dengan kewirausahaan dan inovasi adalah bergerak dari ide-ide inovasi ke komersialisasi efektif dan penerimaan di pasar sasaran. Setelah berhasil berinovasi merupakan awal dari keberhasilan kewirausahaan, yaitu dengan kemampuan mengkomersialisasikan ide-ide inovasi maka perusahaan akan memperoleh laba berlebih (excess profit). Karena perusahaan yang sukses melakukan inovasi dapat menikmati harga premium.

Innovation and Competitive Advantage

Ch13-5. Inovasi berkaitan dengan penciptaan keunggulan bersaing. Keunggulan bersaing dapat terjadi jika atau bergantung pada:

Faktor kesukaran bagi para pesaing untuk mampu meniru.

Secara komersial dapat dapat dieskploitasi dengan kemampuan-kemampuan atau kapabilitas-kapabilitas sekarang.

Faktor (kemampuan) menyediakan nilai nyata (siknifikan) kepada para pelanggan.

Faktor ketepatan waktu (timely), yaitu waktu inovasi yang tepat dapat berwirausaha dengan sukses.

Fostering Entrepreneurial Innovation

Ch13-6. Memajukan inovasi keusahaan (entrepreneurial innovation) dapat dilakukan melalui tiga pendekatan berikut:

  1. Mengusahakan bekerjasama internak perusahaan, yaitu menciptakannya.

  2. Melakukan kerjasama untuk membuat inovasi, yaitu ko-operasi untuk menciptakannya.

  3. Memperoleh / mendapatkan kemampuan (capability), yaitu dengan membelinya.

Internal Corporate Venturing

Ch13-7. Memajukan inovasi keusahaan dapat dilakukan dengan pendekatan mengusahakan bekerjasama internal, yaitu

  • Internal kewirausahaan perusahaan dapat terjadi sebagai suatu proses dari bawah ke atas (bottom- up) atau melalui suatu proses dari atas ke bawah (top - down).

  • Perilaku strategis swatantra (autonomous strategic behavior) yaitu suatu proses bahwa dengan usaha produk yang menjuarai atau memenangkan ide-ide produk baru untuk dikomersialisasikan.

Model of Internal Cooperative Venturing

Ch13-8. Melalui perilaku strategi swatantra (autonomous strategic behavior) perusahaan bersuaha meningkatkan menjadi suatu konteks strategik (strategic context). Berdasarkan kemantapan konteks strategis dirunut atau diteruskan ke dalam konsep strategik perusahaan (Concept of corporate strategic). Ini merupakan suatu proses bottom – up. Dapat pula berdasarkan konsep strategik perusahaan di bawa ke dalam konteks struktural (structural context) keorganisasian Atau langsung digunakan untuk membujuk untuk perilaku strategik (induced strategic behavior). Setelah itu (jika dirasa perlu) dapat diarahkan ke konteks struktural (Structural context) untuk mencocokkan dengan konteks strategis dan konsep strategi perusahaan. Ini sebagai umpan balik, atas proses dari atas ke bawah (top – down process).


Model of Internal Cooperative Venturing


Concept of Corporate Strategy









Strategic Context



Structural Context









Autonomous

Strategic

Behavior



Induced

Strategic

Behavior







Internal Corporate Venturing

Ch13-9. Bekerjasama internal perusahaan dapat membentuk:

Induced strategic behavior, yaitu suatu proses proses top – down di dalam strategi sekarang dan struktur lebih maju /ke depan (foster) inovasi-inovasi produk yang diasosiasikan / dihubungkan sedekat / seteleiti mungkin dengan strategi sekarang.

Ketidakpastian lingkungan membuat pengembangan strategi kewirausahaan menjadi sangat kompleks (highly complex).

Kebutuhan-kebutuhan suatu keputusan pada sumber-sumber untuk digunakan bagi pengembangan teknologi baru dengan ide-ide yang baru untuk di bawa ke pasar sasaran.

Appropriating Value from Innovation

Mencocokkan nilai dari inovasi perlu dilakukan agar sesuai dengan kebutuhan pasar. Kecocokan nilai dari inovasi bergantung kepada tiga hal, yaitu:

  1. Kecocokan maktu untuk masuk pasar (time to market).

  2. Mutu produk (product quality)

  3. Kreasi atas nilai pelanggan (creation of customer value).

Ketiga faktor tersebut dapat dicapai melalui pemanfaatan integrasi lintas-fungsional (cross-functional integration), atau menggunakan tim-tim desain (design teams).

Sementara itu efektifitas penggunaan integrasi lintas-fungsional atau tim-tim desain bergantung pada dua faktor, yaitu :

  1. Hambatan-hambatan untuk integrasi. Hambatan-hambatan untuk integrasi meliputi (a) perbedaan orientasi waktu, (b) orientasi interpersonal, (c) orientasi perbedaan tujuan, dan (d) formalisasi atas struktur organisasi.

  2. Faktor para fasilitator. Faktor para fasilitator atas integrasi meliputi (a) nilai-nilai yang disumbangkan (shared values), (b) visi para pemimpin, (c) alokasi anggaran, dan (d) efektifitas komunikasi.

Cooperating to Produce Innovation

Ch13-11. Perihal penting untuk melakukan kerjasama untuk membuat inovasi yaitu

  • (Melalui) aliansi strategik dapat membantu untuk lebih memajukan (to foster) inovasi dengan mengkombinasikan pengetahuan dan sumber-sumber atas dua atau lebih mitra.

  • Perusahan-perusahaan mesti berfokus pada bangunan pengetahuan, mengidentifikasi kompetensi-kompetensi / kecakapan-kecakapan inti dan mengembangkan sumber daya manusia yang kuat untuk mengelola proyek-proyek inovasi.

  • Perusahaaan-perusahaan dapat juga mengabaikan (given away) kompetensi-kompetensi inti mereka dengan penyumberan-luar (outsourcing) untuk beraliansi dengan para mitra dari pada mengembangkan kemampuan / kapabilitas mereka sendiri sepanjang waktu.

Acquiring Innovation Capability

Ch13-12. Biasanya untuk memperoleh kapabilitas inovasi merupakan usaha yang berat dan memerlukan biaya yang besar. Banyak kiat untuk melakukan hal ini, misalnya.

  • Banyak perusahaan sekarang menggunakan akuisisi atas perusahaan-perusahaan lain sebagai pengganti bagi pengembangan inovasi internal.

  • Cara ini dapat mengurangi risiko dan lebih murah biaya inovasi untuk penelitian dan pengembangan (R & D).

  • (Bisa pula) menjauhkan diri dari usaha mencapai inovasi. Menjauhkan diri berarti perusahaan-perusahaan akhirnya dapat kehilangan abilitas / kemampuan (ability) mereka untuk membangkitkan inovasi-inovasi internal.

Small Fims and Innovation

Ch13-13. Teori yang menyatakan bahwa inovasi hanya dapat dikembangkan melalui perusahaan-perusahaan besar yang memperoleh laba berlebih (Schumpeterian theory) ternyata tidak seluruhnya benar. Karena fakta di lapangan banyak perusahaan-perusahaan kecil yang berhasil mengembangkan inovasi melalui smart kompetencies. Pengalaman di Amerika Serikat (AS) berlangsung demikian.

  • Perusahaan-perusahaan kecil paling banyak menciptakan pekerjaan-pekerjaan baru (new jobs) di AS dalam tahun 1990-an dan hal ini akan berlanjut dalam abad kedua puluh satu.

  • Sementara perusahaan besar yang terhitung membelanjakan lebih dari 80% atas R & D dunia, individu-individu atau perusahaan-perusahaan kecil telah menerima lebih dari separo atas paten-paten AS.

  • Banyak perusahaan kecil diciptakan ketika para pekerja meninggalkan perusahaan-perusahaan besar untuk memulai bisnis-bisnis mereka sendiri; seringkali berlanjut untuk berinteraksi / berhubungan dengan perusahaan-perusahaan pembentuk kemampuan mereka untuk mengembangkan inovasi-inovasi dan pengembangan produk-produk baru.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar