10 Mei 2009

IMPELEMTATION STRATEGY: CULTURE AND LEADERSHIP

Menurut Amar Bhide “Kapasitas suatu organisasi untuk mengeksikusi strateginya bergantung pada “ kuatnya” prasarana perusahaan – yaitu struktur dan sistem organisasi - dan pada “lembutnya” prasarana – yaitu budaya dan norma-norma”.

Hitt, Ireland, dan Hoskisson (2000) menjelaskan bahwa implementasi strategi dari aspek budaya dan kepemimpinan mempersoalkan dua hal: (1) membangunan suatu strategi-ditunjang budaya perusahaan, dan (2) mendesak kepemimpinan strategik. Dalam membangun suatu strategi yang ditunjang budaya perusahaan mempersoalkan antara lain: (a) Di mana budaya perusahaan berasal? (b) kekuasaan / kekuatan atas budaya, (c) tipe-tipe dari budaya, (d) menciptakan suatu strategi dan budaya yang cocok, (e) memantapkan standar-standar etika dan nilai-nilai, (f) membangun suatu spirit untuk upaya mewujudkan kinerja yang tinggi. Dalam mendesak kepemimpinan strategik meliputi antara lain (a) mengembangkan (fostering) suatu strategi – ditunjang budaya, (b) memelihara inovasi internal organisasi, (c) meperlakukan politik-politik perusahaan, (d) memperkuat perilaku etis, dan (e) membuat penyesuaian-penyesuaian korektif.


What Makes Up a Company’s Culture?

Page4. Apa yang dapat dibuat suatu budaya perusahaan bisa meliputi:

Kepercayaan tentang bagaimana bisnis menjadi terpimpin (to be conducted)

Nilai-nilai dan prinsip-prinsip manajemen

Pola-pola atas “bagaimana kita melakukan sesuatu dalam budaya perusahaan”

Ilustrasi nilai-nilai perusahaan yang terlupakan.

Tabu-tabu dan tradisi-tradisi politikal yang dilarang.

Standar-standar etika.

Features of the Corporate Culture at Wal-Mart

Page 5. Gambaran tentang budaya perusahaan pada Wal-Mart meliputi hal penting seperti:

  • dedikasi kepada kepuasan pelanggan,

  • Kecemburuan dalam mengejar biaya-biaya yang rendah,

  • Kepercayaan dalam menyenangkan para pekerja sebagai mitra-mitra.

  • Kehematan, kecermatan, atau kesederhanaan Sam Walton yang legendaris.

  • Ritualistik pertemuan sabtu pagi.

  • Komitmen eksiktuf untuk : mengunjungi toko-toko, berbicara dengan para pelanggan, dan mengumpulkan (solicit) saran-saran pekerja.

Features of the Corporate Culture at Nordstrom’s

Page 6. Gambaran budaya perusahaan Nordstrom meliputi:

  • Moto perusahaan: “Tanggap terhadap permintaan-permintaan pelanggan yang rewel/keterlaluan”.

  • Keluar dari aturan-aturan permintaan-permintaan pelanggan yang dipandang sebagai kesempatan-kesempatang untuk tindakan-tindakan “jagoan”.

  • Promosi-promosi berdasarkan pada layanan yang dapat dilakukan.

  • Gaji-gaji berdasarkan secara keseluruhan pada komisi

  • Menghilangkan / menghapuskan standar-standar yang tidak cocok dan balasjasa-balasjasa kepada siapa yang melakukan.


Where Does Corporate Culture Come From?

Page 7. Budaya perusahaan dapat bersal dari:

  • Pendiri atau pemimpin terdahulu

  • Kepengaruhan indidivual atau kelompok kerja

  • Tradisi-tradisi, praktik-praktik kepengawasan, sikap-sikap pekerja

  • Politik-politik keorganisasian

  • Keterkaitan-keterkaitan dengan para pihak perusahaan.

  • Kekuatan-kekuatan sosiologis internal.


How is Culture Sustained?

Page 8. Bagaimana budaya perusahaan dipertahankan? Budaya perusahaan dapat dipertahankan melalui:

Kesinambungan atas kepemimpinan

Pemilihan para pekerja baru berdasarkan pada bagaimana baiknya mereka secara personalitas “tepat”.

Indoktrinasi sistematik atas para pekerja baru.,

Pemberdayaan kembali atas nilai-nilai inti para pekerja senior

Menceritakan-cerita atas legenda-legenda perusahaan

Upacara-upacara pemberian penghargaan para pekerja bagi siapa yang menunjukkan kebudayaan yang ideal.

Memungkinkan pemberian balasjasa kepada mereka yang mengikuti norma-norma kebudayaan.

The Power of Culture

Page 9. Budaya dapat berkontribusi atau merintangi (hinder) keberhasukan eksikusi strategi untuk mengejar laba.

Kebutuhan-kebutuhan bagi keberhasilan eksikusi strategi bisa atau tidak tergantung kesesuaian dengan budaya.

Suatu yang sangat cocok antara budaya dan strategi mendorong / mempengaruhi eksikusi / pelaksanaan strategi.

Why Culture Matters: The Benefit of a Good Culture – Strategy Fit ?

Page 10. Strategi yang didukung budaya yang cocok merupakan :

Budaya merupakan bentuk keadaan jiwa (mood) dan temperamen atas pekerja yang secara positif mempengaruhi energi keorganisasian, kebiasaan kerja, dan praktik-praktik yang berlangsung.

Budaya menyediakan standar-standar, nilai-nilai, aturan-aturan informal, dan tekanan-tekanan yang tajam sebagai usaha memelihara dan mendorong orang untuk melakukan pekerjaannya dalam cara-cara yang mempengaruhi eksikusi strategi yang baik.

Budaya memperkuat identifikasi pekerja dengan perusahaan yaitu sasaran-sasaran kinerja, dan strategi.


Page 11. Strategi-didukung budaya-budaya.

Vudaya menstimulasi orang untuk menghadapi tantangan dami usaha merealisasi visi perusahaan, dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan mereka secara kompeten dan dengan antusiasme dan berkolaborasi dengan yang lain untuk mengeksikusi / melaksanakan strategi.

Dalam kondisi optimal: Lingkungan kerja yang mendukung dapat melakukan p[erubahan sikap-sikap yang diterima. Keturunan / bakat memerlukan kapabilitas (misal, melalui pendidikan dan latihan).

Page 12. Prinsip manajemen strategik:

Tidak ada yang begitu mendasar selama melaksanakan suatu strategi yang baru atau yang berbeda melbatkan pelurusan budaya organisasi dengan kebutuhan-kebutuhan untuk eksikusi / melaksanakan strategi yang kompeten.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar